Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo berencana melakukan revitalisasi sejumlah pasar tradisional yang ada di wilayah Kota Delta. Rencana itu mencuat usai audiensi yang dilakukan pemkab belum lama ini, dengan koordinator dan pengelola pasar tradisional.
Dalam audiensi yang dipimpin Subandi Bupati Sidoarjo di Ruang Transit Pendopo Delta Wibawa, Selasa (7/5/2026) lalu itu, dibahas pengelolaan retribusi pasar hingga banyaknya kios yang tidak lagi beroperasi di sejumlah pasar tradisional. Terkait hal ini, Subandi mengatakan pemkab akan melakukan pemetaan sebelum merevitalisasi.
“Lakukan pemetaan untuk meningkatkan retribusi. Kami juga akan turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi pasar tradisional saat ini,” kata Subandi dalam keterangannya, Kamis (7/5/2026).
Meski demikian, Subandi mengatakan bahwa kepala pasar juga harus mampu berinovasi guna mendorong kondisi pasar semakin nyaman bagi pedagang maupun pembeli. Hal ini disampaikannya lantaran keluhan soal pasar yang sepi imbas menjamurnya toko modern.
“Kepala pasar harus bisa berinovasi agar kondisi pasar lebih baik sehingga pembeli dan penjual merasa nyaman. Bila perlu disediakan jaringan WiFi gratis agar transaksi jual beli bisa dilakukan secara online,” ujarnya.
Pada kesempatan itu, para pengelola pasar turut menyampaikan sejumlah persoalan yang dihadapi di lapangan. Di antaranya, banyak kios kosong yang mengalami kerusakan, paving pasar atau jalan pasar yang mulai rusak, saluran air tersumbat, hingga persoalan mengenai retribusi parkir.
Berdasarkan data target dan realisasi retribusi selama lima tahun terakhir, target retribusi pasar di Sidoarjo pada 2024 memang tercapai. Namun, target tahun 2025 belum terpenuhi.
Terkait hal ini, Bupati Sidoarjo mendorong penerapan sistem retribusi non-tunai melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Sidoarjo. Selain itu, Pemkab juga akan menyiapkan dashboard pendataan pasar tradisional dan jumlah kios atau lapak pedagang yang dapat diakses seluruh organisasi perangkat daerah (OPD).
Pada audiensi itu, salah satu koordinator pasar mengemukakan persoalan yang masih ditemui di pasar lainnya. Seperti di Pasar Krian, pedagang mengeluhkan tempat penampungan pasca kebakaran dan saluran air yang kerap tidak mampu menampung hujan.
Sedangkan di Pasar Porong, meski sudah dilengkapi kanopi, pedagang masih mengeluhkan jalan rusak, retribusi parkir, dan saluran air tersumbat. Pengelola pasar juga mulai mengedukasi pedagang untuk memanfaatkan penjualan secara online.
“Pihak pengelola Pasar Porong juga mulai mengedukasi pedagang agar dapat melakukan aktivitas jual beli secara online,” ujar salah satu koordinator pasar.
Di Pasar Wadungasri, tingkat okupansi kios konveksi di lantai dua disebut hanya sekitar 10 persen akibat persaingan dengan toko modern dan penjualan daring. Adapun di Pasar Kedungrejo, pengelola mulai melakukan branding dengan mempercantik area pintu masuk pasar.
Terkait kondisi fasilitas yang mengalami kerusakan di sejumlah pasar, pemkab telah mengalokasikan anggaran sekitar Rp2,3 miliar untuk pengelolaan. Namun anggaran itu masih untuk Pasar Taman, Sukodono, dan Wonoayu. Dana itu akan digunakan untuk pembangunan paving, los basah, serta perbaikan pagar pasar yang rusak.
Khusus di Pasar Sukodono, akan dilakukan peninggian paving di area depan pasar untuk mengurangi genangan saat musim hujan.
Sementara itu, Pasar Wonoayu dijadwalkan menggelar Gebyar Pasar Wonoayu pada 13-14 Mei 2026 bersama Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia (APLI) sebagai upaya menghidupkan kembali aktivitas masyarakat di pasar tradisional.
Adapun untuk sisanya, seperti kerusakan di jalan Pasar Porong dan sebagainya, Pemkab akan melakukan Perubahan Anggaran Keuangan (PAK) pada tahun 2026 untuk mengakomodasi perbaikan tersebut. (bil/ham)
NOW ON AIR SSFM 100

