Senin, 1 Maret 2021

Jatim Jumpa Ilmuwan 2019 Almi Sosialisasikan Sains

Laporan oleh J. Totok Sumarno
Bagikan
Diskusi Almi berlangsung di kampus Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Foto: Humas UKWMS

Seiring perkembangan zaman, Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (Almi), dalam Jatim Jumpa Ilmuwan 2019 ingin lebih intens mengenalkan sains pada generasi muda.

Kenalkan sains bagi generasi muda, Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (Almi) bersama Kemendibud dan UKWMS, Kamis (19/12/2019) gelar Jatim Jumpa Ilmuwan 2019 bertema: Membangun Karakter Melalui Penguatan Budaya dan Perangai Ilmiah.

“Almi dibentuk tahun 2016 dengan Undang-undang dan Keputusan Presiden Republik Indonesia, merupakan badan otonom dari ilmu pengetahuan Indonesia. Menyadari pentingnya ilmuwan muda Indonesia untuk membawa teknologi dan sains kepada generasi muda, maka kami tidak pernah berhenti untuk memperkenalkan sains kepada generasi muda sejak dini. Sama halnya dengan profesi lain, kami juga bisa salah tetapi pantang bohong,” terang Dr. Akhmad Sabarudin membuka diskusi.

Almi adalah bagian dari Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) yang didirikan oleh Almarhum Prof. B. J. Habibie. Semangat yang ingin diberikan adalah ilmuwan bisa mewarnai setiap perkembangan Negara Indonesia.

“Dan 50 anggota Almi dipilih dari para ilmuwan muda terkemuka di Indonesia, yang ingin membangun Indonesia bersama,” jelas Dr. Sri Fatmawati dari Almi ITS sebagai Ketua Almi terpilih.

Selain Dr. Sri Fatmawati, Kamis (19/12/2019) hadir tiga ilmuwan lainnya, yaitu: Dr. Felycia Edi Soetaredjo, ST., M.Phil., Ph.D., IPM., ASEAN Eng., (Almi – Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya), Dr. Akhmad Sabarudin (Almi – Universitas Brawijaya Malang) dan Dr. R. Tatas H. P. Brotosudarmo (Almi – Universitas Ma Chung Malang).

Turut hadir juga Dr. Diyah Tulipa, SE., MM., yang juga menjabat sebagai dekan Fakultas Kewirausahaan UKWMS.

Di Almi terdapat empat kelompok kerja. Yang mana ke empat kelompok tersebut harus dan wajib untuk bisa masuk kedalam masyarakat.

“Empat kelompok kerja tersebut diantaranya Garda Depan, Untuk Masyarakat, Sains dan Kebijakan, serta Sains dan Pendidikan. Tetapi menjadi ilmuwan saja tidak cukup, harus bisa masuk ke masyarakat. Selain itu kami juga membantu bangsa Indonesia melalui pemikiran kami, termasuk yang kami tuangkan dalam buku Sains 45 membahas bagaimana gagasan kami untuk Indonesia menyongsong satu abad kemerdekaan Indonesia,” jelas Dr. R. Tatas H. P. Brotosudarmo (Almi – Universitas Ma Chung Malang).

Diskusi yang dimoderatori Prof. Ir. Suryadi Ismadji, Ph.D., IPM., ASEAN Eng., yang juga Dekan Fakultas Teknik UKWMS, perbincangan menjadi semakin menarik.

Satu diantaranya adalah ketika Salah satunya saat Prof. Ir. Suryadi Ismadji, Ph.D., IPM., ASEAN Eng, menggali alasan mengapa para ilmuwan mau kembali ke Indonesia, terlebih saat studi di luar negeri mereka mendapat fasilitas, tawaran pekerjaan dengan pendapatan yang berlipat hingga akses laboratorium yang lebih lengkap.

Menanggapi itu, Dr. Felycia Edi Soetaredjo, ST., M.Phil., Ph.D., IPM., ASEAN Eng., (Almi – Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya), menyampaikan bahwa ada keinginan untuk memberikan masukan bagi pemerintah Indonesia untuk menggunakan data dalam mengambil kebijakan.

“Kami ingin Indonesia bisa seperti negara yang lain dimana membuat kebijakan maupun pengambilan keputusan ditinjau dari sains dalam arti berdasarkan data. Dan kami ingin agar kalian tidak hanya sekedar kuliah karena keinginan orangtua, tapi paling tidak kalian bisa meraih sesuatu dan berkontribusi untuk Negara Indonesia,” ungkap Dr. Felycia Edi Soetaredjo, ST., M.Phil., Ph.D., IPM., ASEAN Eng.

Pada bagian akhir, ke empat ilmuwan yang menyampaikan materinya sepakat bahwa Indonesia sejatinya tidak kalah hebat dengan negara lainnya, dan para ilmuwan ini juga menginginkan bahwa generasi muda diharapkan mau bersusah payah untuk membangun Indonesia.

“Ada banyak hal yang bisa dilakukan dan dijelajahi dari Indonesia. Mulai lah dari kreatifitas kecil di sekitar, karena kita tidak tahu dari hal yang telah dilakukan bisa membawa perubahan apa. Dan belum tentu yang kita punya, dimiliki pula oleh saudara-saudara kita yang berada di daerah terpencil,” pungkas Dr. Diyah Tulipa, SE., MM., Dekan Fakultas Kewirausahaan UKWMS, Kamis (19/12/2019) menutup perbincangan.(tok/rst)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Wonosari Surabaya

Truk Tabrak Warung di Sidoarjo

Truk Terguling di Prigen

Terguling dan Muatannya Tumpah

Surabaya
Senin, 1 Maret 2021
31o
Kurs