Jumat, 20 Mei 2022

Program Barisan Kemerdekaan, Kunjungi Titik Konfrontasi Perang Surabaya

Laporan oleh J. Totok Sumarno
Bagikan
Satu diantara peninggalan sejarah yang ada di gedung Mapolrestabes Surabaya. Foto: Istimewa

Polisi Istimewa sebagai satuan elit keamanan bentukan Jepang dengan nama Tokubetsu Keisatsutai, berdiri kukuh untuk mempertahankan berkibarnya sang Merah Putih di Coen Boulevard (sekarang Jl. Dr Soetomo) setelah diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia. Pada 21 Agustus 1945, mereka juga memproklamirkan diri sebagai Polisi Republik Indonesia (PRI).

Dengan persenjataan memadai serta kemampuan tempur yang terlatih, Polisi Istimewa di bawah komando Mohammad Jasin menjadi ujung tombak dalam pertempuran 3 hari (28-30 Oktober 1945) di Surabaya.

Pada titik-titik konfrontasi seperti gudang senjata Don Bosco (berlokasi di Jl. Tidar), markas Kempetai (yang sekarang menjadi kompleks Tugu Pahlawan), serta markas Kaigun (daerah Embongwungu dan Gubeng), Polisi Istimewa selalu mengawal perjuangan Indonesia dengan berada di garis depan.

Memuncaknya gejolak pertempuran di Surabaya dengan terbunuhnya Jendral AWS Mallaby, membuat Polisi Istimewa semakin meningkatkan kesiagaan untuk menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi.

Pertempuran 10 November 1945, menjadi panggung pembuktian cita-cita Indonesia menjadi bangsa merdeka. Peran Polisi Istimewa pada periode ini dalam mempertahankan kota dari gempuran Sekutu sangatlah signifikan.

Perlawanan sengit di beberapa sektor pertempuran membuat Sekutu kewalahan. Meskipun pada 28 November 1945, dengan tak terelakan Sekutu dapat menduduki Surabaya, perjuangan Polisi Istimewa tetap dikenang sebagai barisan terdepan yang mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Melalui program tematik tur Surabaya Heritage Track (SHT), Barisan Kemerdekaan yang digelar mulai Selasa (19/11/2019) sampai dengan Kamis (12/12/2019), trackers diajak menelusuri rangkaian aksi heroik Polisi Istimewa Surabaya dengan mengunjungi tempat bersejarah terkait, satu diantaranya gedung Polrestabes Surabaya, Penjara Koblen dan Polsek Bubutan.

Gedung Polrestabes Surabaya, berlokasi di Utara Surabaya, gedung Polrestabes Surabaya sudah ada sejak masa pemerintah kolonial Belanda dan difungsikan sebagai markas kepolisian (Hoofdbureau van Politie), dan berubah menjadi markas Polisi Istimewa Kota Surabaya.

Selain itu gedung bersejarah ini menjadi saksi ketika pesawat udara Sekutu menghujani Surabaya dengan bom ketika meletusnya pertempuran 10 November 1945.

Sekarang kompleks ini difungsikan sebagai kantor Polrestabes Surabaya dan pelayanan masyarakat. Uniknya juga terdapat bunker bawah tanah yang dulunya bekas penjara, ruangan Mohammad Jasin dan Museum Perjuangan POLRI dimana pengunjung dapat menilik koleksi otentik terkait kiprah kepolisian di Surabaya.

Sedangkan Penjara Koblen, saat revolusi di Surabaya, banyak menampung tawanan Jepang yang sempat ditawan ketika pelucutan senjata terjadi. Tentara Sekutu mempersenjatai mereka untuk melakukan pemberontakan kepada rakyat Surabaya.

Untuk mencegah hal itu terjadi akhirnya pada 29 Oktober 1945, Polisi Istimewa menerobos masuk. Terjadilah pertempuran antara para tawanan Jepang dan tentara Sekutu melawan Polisi Istimewa.

Penjara Koblen juga memiliki keterkaitan sejarah dengan Liem Seng Tee, pendiri Sampoerna, dimana beliau dipenjarakan Jepang di Koblen atas tuduhan menyokong pertempuran melawan Jepang di China. Liem Seeng Tee dibebaskan pada 27 Agustus 1945.

Destinasi terakhir, yaitu Polsek Bubutan, merupakan pos Polisi sectie 3 Surabaya yang sengaja dibangun pemerintah kolonial untuk mengawasi gerakan orang-orang kawasan ini. Dulunya polsek Bubutan juga menjadi tempat berkantornya Mohammad Jasin.

Namun pada masa revolusi Surabaya, Mohammad Jasin mendengar kabar bahwa pos Polisi Bubutan sedang dibawah kendali tentara Sekutu. Mohammad Jasin menyuruh anggotanya Luwito dan Gontah untuk mempimpin satu pasukan Polisi Istimewa yang dilengkapi dengan mobil lapis baja untuk melakukan penyerangan. Penyerbuan ini membuat Sekutu yang menduduki pos Polisi Bubutan terpukul mundur dan menyerah.

Tur tematik SHT diselenggarakan pada periode-periode tertentu guna memperkenalkan sejarah kota Surabaya serta berbagai bangunan dan kawasan yang memiliki nilai sejarah tinggi.

Tur SHT dapat dinikmati oleh wisatawan secara cuma-cuma. Melalui berbagai tur SHT, trackers tak hanya dapat menikmati berbagai bangunan cagar budaya, namun juga mendapatkan pengetahuan dan pengalaman baru.

Yudhiawantiarsa penanggung jawab Program Barisan Kemerdekaan menyampaikan bahwa jadwal lengkap untuk dapat mengikuti tur istimewa ini dapat dilihat di House of Sampoerna Surabaya.

“Masyarakat bisa melihat langsung jadwal pelaksanaan kegiatan ini di House of Sampoerna. Silahkan hadir dan tentukan sendiri harinya untuk mengikuti program Barisan Kemerdekaan,” terang Yudhiawantiarsa, Rabu (20/11/2019).(tok/rst)

Berita Terkait

Surabaya
Jumat, 20 Mei 2022
31o
Kurs