Senin, 19 April 2021

Ada 16 Ventilator dan 23 Monitor dari Anonim untuk Kebutuhan Medis di Jatim

Laporan oleh Denza Perdana
Bagikan
Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jatim saat konferensi pers di Grahadi Rabu (1/4/2020). Foto: Humas Pemprov Jatim

Wabah Covid-19 mendesak pemerintah mengadakan Rumah Sakit Darurat untuk menangani pasien terinfeksi supaya tidak menularkan virus ke pasien lain di rumah sakit umum.

Beberapa waktu lalu, Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jatim menyatakan, dia belum berencana menambah Rumah Sakit Darurat meski ada Asrama Haji yang memang cukup representatif.

Kendalanya adalah peralatan medis. Khofifah saat itu bilang, untuk rumah sakit darurat yang dilengkapi ruang isolasi, harus tersedia ruang radiologi, juga peralatan seperti ventilator dan lain-lain.

“Untuk sebuah rumah sakit (darurat) ventilator itu untuk hari ini (di tengah wabah Covid-19) tidak mudah diakses (sulit didapatkan),” katanya.

Asrama Haji, kata Khofifah, sebenarnya sudah sangat representatif. Di sana ada klinik, halamannya cukup untuk olahraga, punya banyak kamar. Tapi kendala peralatan medis itulah yang jadi pertimbangan.

Pemprov hanya akan menjadikan Asrama Haji sebagai pilihan untuk menambah kapasitas ruang observasi bagi pasien dalam pengawasan atau positif Covid-19 dengan gejala ringan.

“Ini (Asrama Haji) akan menjadi opsi untuk (ruang) observasi,” ujar Khofifah.

Ada seseorang, entah itu warga Jawa Timur atau warga dari provinsi lain, menangkap kebutuhan Pemprov. Dia sumbangkan 16 ventilator dan 23 alat monitor pemantau oksigen untuk Pemprov Jatim.

“Kami sampaikan terima kasih kepada orang yang tidak mau disebut namanya, beliau membantu 16 ventilator dan 23 monitor,” ujar Khofifah saat konferensi pers di Grahadi Rabu (1/4/2020).

Dokter Joni Wahyuhadi Ketua Rumpun Kuratif Gugus Tugas Penanganan Covid-19 di Jatim sempat menyampaikan kepada Khofifah tentang fungsi alat-alat itu dan kemungkinan penggunaannya.

“Alat ini mungkin bisa ditempatkan di Asrama Haji. Ventilator ini penting sekali untuk pasien yang gagal napas. Monitor ini untuk memantau kondisi pasien, seperti tingkat oksigen,” ujarnya.

Sekadar diketahui, harga satu ventilator itu, kata dr Joni, kurang lebih Rp600 juta. Dia tidak menyebutkan harga monitor itu. Tapi dia memastikan harganya juga mahal.(den/tin/rst)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Asap Kebakaran Semolowaru

Kecelakaan di Lawang

Truk Bermasalah di Trosobo

Eh Eh, Capek. Istirahat Dulu

Surabaya
Senin, 19 April 2021
32o
Kurs