Senin, 20 September 2021

Antisipasi Virus Corona Varian Inggris, Satgas Covid-19 Tingkatkan Testing dan Tracing

Laporan oleh Denza Perdana
Bagikan
Dokter Jibril salah satu anggota Tim Satgas COVID-19 yang menyusun pertanyaan asesmen saat menjelaskan website di Grahadi, Rabu (18/3/2020). Foto: Denza suarasurabaya.net

Terkait kemungkinan sudah masuknya virus corona varian baru asal Inggris ke Jawa Timur, Satgas Covid-19 Jatim akan segera meningkatkan jumlah testing dan tracing sebagai langkah antisipasi.

Sebelumnya, dr Makhyan Jibril Al-Farabi Staf Khusus Rumpun Kuratif Satgas Covid-19 Jatim mengatakan, memang sampai saat ini belum ada yang mengonfirmasi masuknya virus varian baru itu ke Jatim.

Dia mengatakan, sangat mungkin, karena Institute of Tropical Desease (ITD) Universitas Airlangga saat ini masih melakukan pengujian sequencing terhadap sejumlah virus yang ditemukan di Jawa Timur untuk mendeteksi adanya mutasi itu.

“Yang bisa melakukan sequencing di Jatim hanya ITD. Sebabnya alat sequencing itu mahal, sampai puluhan miliar. Di Indonesia sangat terbatas yang bisa,” kata Jibril kepada suarasurabaya.net, Selasa (29/12/2020).

Satgas Covid-19 Jatim, kata Jibril, akan terus berkoordinasi dengan ITD Unair. Apalagi, yang terakhir kali dilaporkan, virus varian baru dari Inggris itu sudah terkonfirmasi masuk di Singapura, yang artinya sudah semakin dekat dengan Indonesia.

Selain berkoordinasi dengan ITD untuk memastikan keberadaan virus itu, Satgas Covid-19 Jatim akan meningkatkan jumlah testing dan tracing yang selama ini dia akui masih kurang.

Sampai Desember 2020 ini, laboratorium yang mampu melakukan testing Covid-19 dengan metode PCR sebanyak 86 lab yang tersebar di Jatim. Namun, dari total laboratorium yang ada, enam di antaranya belum beroperasi.

“Enam ini sebenarnya alatnya sudah ada. Sudah kami kirim sebelumnya. Tapi seperti biasa, kalau SDM dan ruangannya belum siap, belum bisa beroperasi,” kata Jibril. “Kami akan maksimalkan yang ada.”

Karena belum beroperasinya enam laboratorium itu, dari 9.072 tes PCR per hari total kemampuan testing 86 laboratorium di Jawa Timur, kapasitas yang bisa dilakukan saat ini baru 5.697 tes per hari.

“Sebelumnya, bulan lalu, yang belum operasional ada 10 laboratorium. Sekarang tinggal enam. Yang sudah operasional akan kami tingkatkan. Memang kapasitas masing-masing tidak sama,” katanya.

Selain testing dengan metode PCR, Satgas Covid-19 Jatim juga akan memaksimalkan penerapan rapid test antigen. Baru-baru ini, Pemprov Jatim menerima bantuan 150 ribu rapid antigen dari BNPB.

“Kemarin sudah kami pakai sebagian untuk testing di penyeberangan dari Bali atau sebaliknya. Sebagian sudah kami distribusi ke Rumah Sakit Rujukan Covid-19. Untuk faskes lainnya sedang pembahasan,” katanya.

Distribusi rapid test antigen itu, kata Jibril, akan diprioritaskan untuk tempat-tempat yang rawan. Terutama di penyeberangan dan sejumlah titik lain yang memang dianggap rawan penularan Covid-19.

Jibril mengakui, tracing di Jawa Timur memang masih jauh dari standar yang sempat disebutkan oleh dr Windhu Purnomo Pakar Epidemiologi FKM Unair Surabaya, beberapa waktu lalu.

Dokter Windhu bilang, tracing di Jatim lemah. Dari satu orang terkonfirmasi positif Covid-19, tracing hanya dilakukan kepada 8-9 orang kontak erat. Padahal, standar seharusnya mencapai 20-30 orang kontak erat.

Sebab itulah, Windhu memperkirakan, jumlah kasus yang ada saat ini adalah permukaan yang terlihat. Sementara yang ada di balik permukaan, yang belum terlihat, masih sangat banyak atau belum terdeteksi.

“Tracing memang pekerjaan cukup berat. Kalau kita lihat, tracing ini yang melakukan petugas puskesmas. Itupun sering mendapat penolakan dari masyarakat, atau malah di-bully,” katanya.

Untuk meningkatkan tracing ini, kata Jibril, salah satu hal yang juga dibutuhkan adalah amunisi. Dalam hal ini bekal rapid test antigen sehingga segera setelah tracing dilakukan, testing juga bisa dilakukan.

“Dulu, kan, antibodi. Sekarang ini antigen masih terbatas. Amunisi ini harus ada untuk meyakinkan masyarakat juga, dan melawan persepsi masyarakat bahwa tracing akan berujung pada isolasi, sehingga mereka lari,” katanya.(den/dfn/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Antre Vaksin di T2 Juanda

Kebakaran Lahan Kosong Darmo Permai

Antrean Vaksinasi di Grand City Surabaya

Surabaya
Senin, 20 September 2021
33o
Kurs