Kamis, 3 Desember 2020

Bila Pasien Covid-19 Tinggal 50, Risma Berani Buka Sekolah Tatap Muka

Laporan oleh Zumrotul Abidin
Bagikan
Simulasi pembelajaran tatap muka di salah satu SMP Negeri Surabaya. Foto: Istimewa.

Tri Rismaharini Wali Kota Surabaya mengatakan, kalau kondisi Covid-19 mulai membaik bisa memungkinkan untuk digelar sekolah tatap muka.

Risma mengku data penyebaran Covid-19 di Surabaya turun terus. Sekarang ini tinggal 143 pasien terkonfirmasi positif Covid-19 yang masih dalam perawatan.

“Sekarang masih 143 (pasien Covid-19) di seluruh Surabaya yang dalam perawatan. Mungkin nanti kalau tinggal 50 lagi mungkin (dimulai pembelajaran tatap muka)” ujar Risma di SMPN 1 Surabaya, Senin (19/10/2020).

Risma mengatakan, Pemkot Surabaya terus melakukan berbagai persiapan agar ketika pembelajaran tatap muka digelar, tidak menimbulkan klaster baru penyebaran Covid-19. Pemkot Surabaya menggencarkan tes swab bagi guru maupun pelajar di Kota Surabaya.

“Ini kita lagi swab semua anak-anak. Kita swab dulu supaya tidak membahayakan anak-anak yang lain. Pokoknya (kalau) kondisinya sudah bagus kita akan lakukan tatap muka,” ujar Risma.

Sementara itu, Supomo Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya mengklaim kajian sekolah tatap muka telah rampung dan sudah siap. Dalam kajian itu, pihaknya melibatkan pakar epidemiologi dan fakultas kesehatan masyarakat.

“Sudah kita siapkan dan sudah selesai kajiannya. Beberapa sekolah yang akan kita buka juga kita lakukan verifikasi,” kata Supomo.

Sekolah yang telah dilakukan verifikasi itu selanjutnya tinggal menyesuaikan SOP protokol kesehatan yang telah dibuat Pemkot Surabaya.

Hanya saja, kata Supomo, dalam SKB Empat Menteri diputuskan bahwa pemerintah melakukan penyesuaian pelaksanaan pembelajaran sekolah tatap muka di zona selain merah dan oranye, yakni di zona kuning dan hijau.

“Nanti kalau Surabaya sudah gambarannya secara menyeluruh seperti itu, maka kita lakukan sekolah tatap muka,” ujar Supomo.

Salah satu SOP yang diterapkan Dispendik di sekolah adalah seluruh warga yang datang ke sekolah harus dipastikan benar-benar sehat. Sehingga, Dispendik telah mendata para guru yang usianya di atas 50 tahun yang memiliki komorbid.

“Dengan demikian kesiapan sekolah tatap muka sudah final. Tinggal kita menunggu apakah zonanya memungkinkan atau tidak,” papar dia.

Supomo menyebut, tidak semua lembaga pendidikan di Surabaya nanti yang melaksanakan sekolah tatap muka. Sebab, ada beberapa sekolah yang belum sesuai dengan SOP penerapan protokol kesehatan.

“Jadi sekolah yang buka nanti ada rekomendasi dari Satgas Covid-19 Kota Surabaya. Dengan demikian, jika Satgas Covid-19 sudah merekomendasikan, maka sekolah tatap muka dapat dibuka,” ungkap dia.

Sebelumnya ada 19 lembaga pendidikan di Surabaya jenjang SMP baik negeri maupun swasta yang telah dilakukan identifikasi kesiapan pembelajaran tatap muka. Tentunya ke depan jumlahnya akan terus bertambah.

“Karena sekolah-sekolah sudah banyak yang mengajukan, karena mereka juga ingin segera anak-anaknya itu bisa sekolah tatap muka,” terangnya.

Langkah pemkot melakukan identifikasi sekolah tatap muka rupanya tak hanya berlaku bagi sekolah jenjang SMP. Pihaknya menyatakan, bahwa jenjang SD juga disiapkan untuk sekolah tatap muka.

Meski akhirnya sekolah tatap muka baru dapat dimulai ketika zonasi suatu wilayah masuk kategori yang telah ditetapkan SKB Empat Menteri.

“Nanti kita kembangkan sampai dengan jenjang SD. Karena kondisinya sudah berangsur-angsur membaik. Nanti jenjang SD akan diutamakan yang kelas VI. Kita tidak bisa memastikan kapan dibukanya, tapi mudah-mudahkan Surabaya masuk zona yang direkom dari Satgas Covid-19,” katanya. (bid/ang)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah, 12 PMK Di lokasi

Kecelakaan L300 Tabrak Pembatas Tol Sumo

Hujan Deras di Balonggebang Nganjuk

Surabaya
Kamis, 3 Desember 2020
27o
Kurs