Selasa, 16 Agustus 2022

Daring, Goethe Institut Hadirkan Science Film Festival di 24 Kota di Indonesia

Laporan oleh J. Totok Sumarno
Bagikan
Tim Science Film Festival memeragakan eksperimen sains berjudul “Save the Life”. Foto: Goethe Institute

Goethe-Institut, kembali hadirkan acara tahunan Science Film Festival, di tengah pandemi Covid-19 secara daring di 24 kota di Indonesia termasuk Kota Surabaya. Dengan tema pilihan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

Festival tahun ini bermaksud mengajak siswa berusia 9-14 tahun untuk menjelajahi berbagai isu dibalik Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) melalui karya film-film serta berbagai demonstrasi eksperimen sains yang menyenangkan.

September 2015, 193 negara memutuskan untuk bersama-sama mengimplementasikan 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan dan 169 capaian hingga tahun 2030 untuk membuat dunia kita menjadi lebih baik.

Visi ambisius sebuah dunia yang memungkinkan kehidupan yang baik bagi semua orang, dunia tempat sumber daya yang memadai dapat diakses oleh semua dan digunakan secara adil, dengan pelestarian alam sebagai aspek krusial. Implementasi tujuan-tujuan tersebut dimaksudkan untuk memastikan bahwa planet kita masih layak hidup untuk generasi-generasi mendatang.

“Bekerja sama dengan Program Lingkungan PBB (UNEP), Science Film Festival menyoroti berbagai isu di balik Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Melalui seleksi internasional film-film menghibur mengenai sains, teknologi dan lingkungan, festival ini membantu memperluas percakapan tentang isu-isu sentral SDGs. Melalui percakapan ini, festival ini juga hendak menciptakan peluang bagi kita untuk bertindak dan berpartisipasi secara langsung membuat umat manusia dan planet kita menjadi lebih baik,” terang Dr. Stefan Dreyer, Direktur Regional Goethe-Institut untuk Asia Tenggara, Australia dan Selandia Baru dalam konferensi pers virtual, Selasa (20/10/2020).

Didukung sejumlah mitra loyal, termasuk Kedutaan Besar Republik Federal Jerman, inisiatif “Sekolah: Mitra menuju Masa Depan (PASCH), Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, dan Universitas Paramadina, Science Film Festival 2020 di Indonesia akan memutar 15 film dari Chile, Jerman, Indonesia, Myanmar, Spanyol, dan Thailand yang telah disulihsuarakan ke dalam bahasa Indonesia. Festival ini juga menyediakan bahan ajar dan eksperimen sains yang disarankan untuk kegiatan pembelajaran yang terkait dengan tema tahun ini yang menjadi pelengkap untuk filmfilm yang ditayangkan.

Film-film terpilih itu dijadwalkan diputar secara bergantian lewat platform daring kepada siswa-siswi di 24 kota, mulai dari Ambon, Denpasar, Bandung, Bogor, Bondowoso, Jakarta, Jayapura, Kupang, Malang, Manado, Mataram, Matauli Pandan, Maumere, Medan, Pontianak, Salatiga, Sidoarjo, Sorong, Supiori, Surabaya, Tangerang, Tomohon, Waingapu, dan Yogyakarta.

Dr. Peter Schoof, Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Federal Jerman untuk Indonesia, ASEAN dan Timor Leste menyatakan bahwa Jerman memiliki komitmen kuat terhadap SDGs dan secara intensif mendukung proses perumusan SDGs. Baik Indonesia maupun Jerman telah meraih berbagai pencapaian sejak SDGs disepakati, khususnya dalam hal peningkatan kesetaraan dan kualitas kehidupan.

“Tetapi perjalanan untuk mencapai SDGs secara penuh masih panjang. Kami percaya pada nilai penting berdialog dan berbagi strategi sukses. SDGs adalah tujuan bersama yang disusun oleh berbagai bangsa, dan mustahil dicapai sendiri-sendiri,” tegas Peter Schoof.

Inger Andersen, Direktur Eksekutif Program Lingkungan PBB (UNEP), dalam kesempatan terpisah mengucapkan bahwa untuk mencapai ambisi kolektif tersebut, kita harus menggunakan semua perangkat yang tersedia guna menciptakan kesadaran akan tujuan-tujuan itu.

“Setelah maksud SDGs dan maknanya bagi kemanusiaan serta generasi mendatang dipahami dengan baik, barulah kita dapat membangun tekanan politik yang diperlukan untuk menghadirkan perubahan. Program Lingkungan PBB bangga dapat bermitra dengan Goethe-Institut untuk penyelenggaraan Science Film Festival 2020, yang temanya tahun ini berkontribusi memupuk pemahaman ini,” ujar Inger Andersen.

Sejak edisi perdananya di Thailand pada tahun 2005, Science Film Festival konsisten mempromosikan literasi sains kepada generasi muda di Asia Tenggara, Asia Selatan, Afrika Utara, Amerika Latin, Afrika Sub-Sahara, dan Timur Tengah melalui komunikasi berbasis pengetahuan yang menghibur. Science Film Festival diperkenalkan dan diadakan di Indonesia pada tahun 2010 seiring dengan upaya ekspansi regional festival pada masa itu.

Dalam perjalanan waktu, festival ini telah mengukuhkan diri sebagai acara terbesar didunia dalam kategori ini, dengan lebih dari satu juta pengujung di 23 negara selama edisi tahun 2019, termasuk lebih dari 122.000 pengunjung di Indonesia. Festival tahun ini diselenggarakan secara internasional di 30 negara.(tok/iss)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Langit Sore di Grand Pakuwon

Suatu Sore di Sembayat Gresik

Sore yang Macet di Raya Nginden

Peserta Pawai Taaruf YPM Sidoarjo di Sepanjang

Surabaya
Selasa, 16 Agustus 2022
26o
Kurs