Selasa, 5 Juli 2022

DPRD Jatim: Ada Selisih Data Tenaga Kesehatan yang Meninggal Akibat Covid-19

Laporan oleh Denza Perdana
Bagikan
Hikmah Bafaqih Wakil Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur. Foto: dok./Denza suarasurabaya.net

Hikmah Bafaqih Wakil Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur mengatakan, ada selisih data tenaga kesehatan yang meninggal, antara milik Dinas Kesehatan dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jatim.

Dia bilang, selisih data itu muncul dalam rapat dengar pendapat yang digelar Komisi E di Gedung DPRD Jatim Surabaya, Senin (29/6/2020) lalu, yang dihadiri oleh Perwakilan Dinkes Jatim dan IDI Jatim.

Data Dinas Kesehatan Jatim menunjukkan, hanya ada delapan orang tenaga medis yang meninggal akibat Covid-19. Sedangkan IDI Jatim mendata, sampai 29 Juni kemarin, jumlahnya mencapai 22 tenaga medis.

“Dalam pertemuan itu, selisih datanya memang jauh antara IDI Jatim dan Dinkes Jatim,” kata Hikmah, Rabu (1/7/2020).

Politisi PKB itu menyayangkan perbedaan data yang terjadi. Dia menyimpulkan, ada komunikasi yang terhambat antarlembaga di bidang kesehatan di Jawa Timur.

Komisi E pun mendorong Dinkes Jatim bersama IDI untuk saling mengintegrasikan data itu. Sebab, data ini berkaitan dengan insentif maupun uang duka dari pemerintah.

“Bayangkan keluarga para nakes kalau tak terdata sebagai nakes. Mereka tak mendapatkan uang duka (santunan) yang menjadi bentuk apresiasi atas jasa mereka,” katanya.

Berdasarkan penjelasan Dinkes Jatim dalam rapat dengar pendapat itu, selisih data ini terjadi karena Dinkes Jatim hanya menyesuaikan kasus kematian berdasarkan data rumah sakit dan laboratorium.

“Ternyata, Dinkes selama ini mengandalkan data dari rumah sakit atau laboratorium. Kenyataannya, banyak nakes yang meninggal tak dilaporkan sebagai nakes,” ujarnya.

Adapun data IDI Jatim, sampai Senin kemarin, dari total 25 ribu tenaga kesehatan di Jatim, sebanyak 76 orang dinyatakan positif terinfeksi Covid-19.

Itupun belum termasuk di Surabaya. Karena, menurut Hikmah, IDI Jatim mengaku kesulitan untuk mengakses data jumlah tenaga kesehatan yang meninggal akibat Covid-19 di Surabaya.

Sebagaimana disebutkan Sutrisno Ketua IDI Jatim, dokter yang meninggal di Jawa Timur, kecuali di Surabaya, sebanyak sepuluh orang.

Sementara untuk perawat, IDI Jatim mencatat, ada 10 orang perawat (hari ini ada satu lagi perawat yang meninggal) dari 137 perawat yang terjangkit Covid-19.

Sedangkan untuk bidan, dari 53 orang yang dinyatakan terjangkit Covid-19, dua di antarnya dinyatakan meninggal.

Sutrisno berharap, tenaga kesehatan mendapat prioritas dalam segala hal karena mereka adalah garda terdepan penanganan pasien Covid-19 di rumah sakit-rumah sakit.

Emil Elestianto Dardak Wakil Gubernur Jawa Timur mengatakan, Pemprov Jatim sedang menyiapkan santunan terhadap tenaga kesehatan yang meninggal dunia.

“Kalau soal santunan itu ada,” kata Emil. Dia tidak menyebutkan jumlahnya. Dia bilang, untuk sasaran santunan itu sedang disesuaikan dengan jumlah keluarga nakes yang meninggal. “Sudah dihitung.”

“Sebelumnya, ramai soal besarannya. Kenapa kok cuma sekian? Kami pastikan jumlahnya lebih besar dibandingkan jumlah yang dianggap kecil itu,” ujarnya.(den/tin)

Berita Terkait

Surabaya
Selasa, 5 Juli 2022
27o
Kurs