Selasa, 19 Januari 2021

IDAI Jatim Sarankan Pembelajaran Tatap Muka Tidak Terburu-buru Dilakukan

Laporan oleh Denza Perdana
Bagikan
Ilustrasi. Simulasi sekolah tatap muka di SMPN 15 dan SMPN 3 Surabaya, Senin (3/8/2020). Foto : Istimewa

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jatim menyarankan agar Pemerintah Provinsi Jatim tidak terburu-buru membuka sekolah selama Pandemi Covid-19 belum berakhir.

Dokter Endah Setyarini, S.Pa Anggota IDAI Jatim bilang, WHO merekomendasikan agar sekolah tetap ditutup selama pandemi Covid-19 belum berakhir.

Hal ini selaras dengan adanya Surat Keputusan Bersama (SKB) empat menteri, yang menyatakan bahwa yang boleh menjalankan pembelajaran tatap muka hanya sekolah di zona hijau.

“Pembelajaran tatap muka belum direkomendasikan selama suatu daerah belum menjadi zona hijau, atau setidaknya zona kuning,” kata Endah.

Pernyataan itu dia sampaikan dalam diskusi online yang digelar Lembaga Perlindungan Anak Tulungagung dan Jurnalis Sahabat Anak Rabu (18/11/2020) lalu.

Tidak hanya mempertimbangkan zona risiko, Endah bilang, ada banyak hal lain yang harus menjadi pertimbangan pemerintah sebelum memutuskan pembelajaran tatap muka (PTM).

Pertama, harus ada pemetaan kasus positif per kelurahan. Kemudian melakukan pemetaan di sekitar lokasi sekolah, termasuk dari mana saja murid di sekolah itu berasal.

“Karena bisa saja sekolahnya zona hijau tapi muridnya ada yang dari zona merah, sehingga terjadi penularan sesama siswa, lalu ke orang dewasa di sekitarnya,” ujar Endah.

Selain itu, kata Endah, perlu ada perhatian terhadap transportasi apa yang digunakan siswa untuk ke sekolah. Siswa yang naik kendaraan umum tentunya akan lebih berisiko.

Dia juga mengatkan, kontak siswa atau guru dengan orang lain juga perlu diperhatikan sebelum memutuskan sebuah sekolah bisa menggelar PTM.

Dalam kesempatan sama, dr Atik Choirul Hidajah M Kes Wakil Ketua Perhimpunan Ahli Epidemiolog Indonesia Jatim bilang, kasus Covid-19 pada anak Indonesia mencapai 9,7 persen.

Dia bilang, jumlahnya saat ini sejumlah 24.966 anak. Secara lebih rinci, dari total anak terjangkit Covid-19 itu sebanyak 2,4 persen anak usia 0-5 tahun dan 7,3 persen anak usia 6-18 tahun.

Menurut Atik, untuk kembali membuka dan melaksanakan pembelajaran tatap muka di sekolah yang, pemerintah dan penyelenggara sekolah perlu melakukan kajian secara ilmiah.

”Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) masih menjadi pilihan terbaik untuk mencegah penularan antara siswa serta penularan siswa kepada guru,” ujarnya dalam diskusi itu.(den/iss)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Jeglongan di Wedi Gedangan

Jalan Rusak di Brigjend Katamso Sudah Ditambal

… Lewati Lembah, Sungai Mengalir, Eh Bukan

Raya Porong Banjir

Surabaya
Selasa, 19 Januari 2021
25o
Kurs