Rabu, 5 Agustus 2020

Lakon Sang Airlangga Tampil Daring di Tontonan Gotong Royong

Laporan oleh J. Totok Sumarno
Bagikan
Sang Airlangga dipentaskan secara daring lewat kanal-kamal media sosial. Foto: Humas Sang Airlangga

Pentas sandiwara Sang Airlangga yaitu sebuah sandiwara bercerita sejarah berlakon Raja Airlangga di awal abad ke 10 akan dipentaskan di gedung Cak Durasim dan dijadwalkan tampil secara daring pada Sabtu (22/8/2020) di Youtube, Facebook dan Instagram.

“Pementasan daring ini sekaligus keinginan para seniman untuk tetap bisa eksis dengan menghasilkan dan menampilkan karya-karyanya di masa pandemi Covid-19 ini. Karena itu kami sebut sebagai Tontonan Gotong Royong. Dan harapan kami pecinta seni bisa ikut hadir dan menyaksikannya di pentas daring,” terang Heri Prasetyo inisiator Tontonan Gotong Royong Sang Airlangga, Sabtu (1/8/2020).

Heri menambahkan naskah lakon Sang Airlangga, yang akan dimainkan terbagi dalam 3 babak besar, yang nantinya dimainkan oleh sekitar 75 orang pemain dengan iringan Gamelan para pengrawit Baladewa Surabaya.

Pada babak prolog, dikisahkan Sang Garudea sedang mencari Tirta Amerta yang ada ditangan Dewa Wisnu dan berada di kahyangan. Sang Garudea ingin membebaskan Winata sang Ibu dari perbudakan Dewi Kadru.

Sang Garudea merelakan dirinya jadi kendaraan Dewa Wisnu untuk selamanya, dan itu tergambar pada relief candi-candi yang umumnya ada di Jawa, dan dimaknai bahwa nilai keahlian, kedigdayaan yang dikendalikan ilmu pengetahuan memberikan manfaat bagi kedamaian semesta.

Pada babak kedua atau dialog, dikisahkan tentang perjalanan Airlangga putera Raja Udayana dari pernikahan politik Jawa Bali dengan Dewi Sekar Galuh Kedaton putri Raja Darmawangsa.

Diceritakan saat pernikahan dihelat diserang Raja Wura Wari yang kemudian digambarkan pelarian Airlangga berguru di lereng gunung Penanggungan. Kemudian dengan kesaktiannya, Airlangga menaklukkan Raja Wura Wari.

Dari kemenangan itu, Airlangga dibangunkan kerajaan Kahuripan yang mewujudkan kesejahteraan bagi rakyatnya.

Di babak ketiga, atau babak epilog, berkisah tentang Airlangga yang sedang membangun bendungan Wringin Sapta, agar Sungai Brantas dapat dipakai sebagai sarana irigasi bagi rakyat, dan dapat menghantarkan perahu-perahu dari berbagai negara untuk saling bertukar barang dagangan dan ilmu pengetahuan demi memajukan dunia baru.

Dalam Prasasti Kamalagian, sang maharaja Airlangga menyampaikan himbauan kepada rakyatnya agar menjadi seorang pemutar roda dunia, yaitu manusia yang memiliki kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang berguna dalam kehidupan sehari-hari.

Di mas pandemi seperti saat ini, Heri Prasetyo menegaskan bahwa kreatifitas menjadi landasan utama tontonan gotong-royong yang melibatkan banyak pemain dan banyak komunitas seni dari berbagai kota di Jawa Timur.

“Semangat gotong-royong yang melandasi hadirnya tontonan ini. Kami semua rindu pentas dan karenanya kami terus berlatih, dengan penuh harapan mampu mewujudkan pementasan didukung banyak pihak, untuk mendukung seluruh pementasan yang bis ajadi diharapkan seluruh pecinta seni di masa pandemi ini,” tambah Heri.

Masyarakat dan para pecinta seni boleh mendonasikan bantuan untuk tontonan gotong-royong ini dalam bentuk pemesanan kursi menyaksikan pementasan yang nantinya digunakan untuk produksi dan disiarkan lewat kanal-kanal Youtube, Facebook dan Instagram Taman Budaya Jawa Timur.(tok)

Berita Terkait
NOW ON AIR SSFM 100

Bintang Rahmadani

Potret NetterSelengkapnya

Kangen Tanggapan

Unjuk Rasa Aliansi Pekerja Seni Surabaya

Truk Patah As di Gedangan

Truk Muat Pasir Terguling di Balongbendo

Surabaya
Rabu, 5 Agustus 2020
29o
Kurs