Selasa, 11 Agustus 2020

Melindungi Anak dari Amukan Orang Rumah

Laporan oleh Ika Suryani Syarief
Bagikan
Ilustrasi. Foto : Antara

Hari beranjak sore. Nining Sunaryati, ibu dua anak yang juga karyawan toko bangunan di Surabaya, baru tiba di rumah. Tak langsung beristirahat, dia harus segera mengecek tugas sekolah kedua anaknya. Masing-masing SMP kelas VIII dan SD kelas III.

Selama Kota Surabaya belum zona hijau, siswa sekolah memang harus menjalani pembelajaran secara daring. “Saya harus bisa membagi waktu antara bekerja dan mau gak mau harus memantau (sekolah) anak-anak,” kata Nining.

Terkadang saat Nining masih bekerja, anaknya menelepon. Mengeluhkan koneksi internet di rumah mereka yang ngadat saat sekolah daring masih berlangsung.

“Kadang-kadang, anak-anak telepon. ‘Ma, WiFi-nya gak bisa.’ Jadi ya mau gak mau harus siap pakai kuota. Kalau enggak gitu kasihan nanti ketinggalan pelajarannya,” cerita Nining.

Kebutuhan kuota internet dan pemakaian listrik yang lebih dari biasanya membuat Nining harus putar otak mengatur pengeluaran rumah tangganya.

“Semakin banyak yang harus kami keluarkan. Sementara pendapatan juga tidak seperti dulu. Semakin besar pengeluaran, pemasukan tidak seperti sebelum pandemi. Apalagi biaya listrik semakin lama semakin membengkak.”

Tuntutan keuangan dan tantangan menjaga kesehatan seluruh anggota keluarga selama kurang lebih enam bulan ini membuat Nining ada kalanya tidak bisa menahan rasa marah kepada kedua anaknya.

“Mungkin karena terlalu banyak beban, terutama masalah keuangan. Kami harus benar-benar pintar mengatur keluar masuknya. Terus karena anak-anak harus sekolah online, tidak bisa ke mana-mana, tidak bisa beraktivitas seperti dulu lagi, itu juga beban,” kata Nining.

Contohnya saat anaknya malas belajar. Tugas sekolah belum selesai malah sudah mainan di ponsel. “Saat marah, saya sita HP-nya sampai mereka menyelesaikan tugasnya. Supaya mereka tahu kewajibannya dan tidak mengulangi lagi kesalahannya,” ujarnya.

Apa yang dialami keluarga Nining  adalah potret yang dihadapi anak-anak selama pandemi. Lembaga Perlindungan Anak Jawa Timur mencatat, jumlah kekerasan domestik pada anak yang dilakukan orang dewasa di rumah meningkat sampai 300 persen selama masa pandemi.

“Bisa gurunya, bisa anggota keluarga lain yang lebih dewasa. Karena anak-anak itu dianggap tidak belajar. Padahal mereka dilema. Belajar mereka tidak mampu, tidak ada pendampingan. Di satu sisi sekolah memaksa kewajiban anak,” kata Isa Anshori Sekretaris Umum Lembaga Perlindungan Anak Jawa Timur.

Masih dalam momentum Hari Anak Nasional 2020, semestinya perlu ada upaya yang dilakukan untuk melindungi anak dari amukan orang di rumah mereka sendiri. Dari mana harus memulai? Tentu saja dari lingkungan keluarga oleh orang tua.

Mengatur Emosi

Dokter Sri Sugito Psikolog, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Surabaya mengatakan, orang tua harus mampu meregulasi dan mengatur emosi mereka. Terlebih saat anak melakukan pembelajaran daring di rumah selama pandemi Covid-19.

Menurut Sri, di tengah pandemi yang mana kondisi semakin tidak menentu. Terlebih dalam hal ekonomi, bukan berarti orang tua akhirnya harus gagal mengatur emosi mereka saat berada di rumah.

Menurutnya, anak-anak sudah cukup terbebani dengan sistem belajar dalam jaringan dari rumah dan pembatasan pergaulan di luar rumah yang membuat mereka lebih mudah bosan dan stres.

Sri memahami, dengan adanya sistem sekolah daring, beban ekonomi rumah tangga menjadi meningkat karena meningkatnya kebutuhan kuota internet dan perlengkapan teknologi, baik gawai atau laptop.

Belum lagi orang tua juga harus bekerja di samping mendapat tuntutan harus mendampingi anak belajar.

Meski begitu, Sri mengingatkan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab orang tua. Orang tua pernah menjadi anak, namun anak belum pernah menjadi orang tua. Sehingga butuh pengertian dan pemahaman kepada orang tua di situasi tidak menentu ini.

Dengan emosi yang baik, maka sikap positif itu tidak hanya meringankan beban bagi orang tua, tapi juga memunculkan ketenangan tersendiri bagi anak-anak mereka.

Mengatur Keuangan Keluarga

Dr. Werner Ria Murhadi, S.E., M.M., CSA., Ketua Program Studi Magister Manajemen Fakultas Bisnis dan Ekonomika Ubaya mengatakan, pengaturan keuangan keluarga di tengah pandemi menjadi hal mutlak.

Pos pengeluaran menjadi lebih besar. Baik untuk pembelian kuota pulsa, juga pemakaian listrik dan air yang membengkak. Menurutnya, butuh check-up kondisi keuangan dengan melihat persentase masing-masing pos.

Mulai dari pengeluaran konsumsi keluarga, kebutuhan sehari-hari, juga pendidikan anak yang bersifat tetap. Lalu mengecek pengeluaran keperluan listrik, air, dan pulsa yang cenderung meningkat.

Pengeluaran kesehatan untuk membeli vitamin dan obat-obatan untuk mencegah turunnya imunitas juga perlu diperhitungkan. Setelah pos-pos besar, Werner menyarankan menekan yang tidak terlalu penting.

Caranya, menerapkan skala prioritas. Yakni dengan menentukan apakah kebutuhan itu termasuk kebutuhan dasar, sekunder, atau tersier. Kebutuhan seperti makan dan pendidikan tentu merupakan prioritas utama.

Sedangkan pengeluaran tersier seperti jalan-jalan, kosmetik, dan lainnya di masa pandemi bisa ditiadakan sementara waktu. Jika pengurangan biaya belum seimbang, Werner menyarankan keluarga menggali alternatif pendapatan.

“Ada beberapa aktivitas yang bisa meningkatkan pendapatan seperti melakukan penjualan online, memanfaatkan talenta seperti bikin makanan atau kerajinan, sampai memberdayakan pekarangan rumah untuk tanaman toga dan empon-empon,” ujarnya.(iss/tin/dfn)

Berita Terkait
NOW ON AIR SSFM 100

Hendra Lukas P. Hutagalung

Potret NetterSelengkapnya

Pelangi Sore Hari di Surabaya

Kangen Tanggapan

Unjuk Rasa Aliansi Pekerja Seni Surabaya

Truk Patah As di Gedangan

Surabaya
Selasa, 11 Agustus 2020
27o
Kurs