Rabu, 25 Mei 2022

Merawat Empati di Kampung Pandemi

Laporan oleh Zumrotul Abidin
Bagikan
Penyambutan warga kampung yang sudah menjalani karantina dan masa observasi di Asrama Haji Sukolilo, Kamis (18/6/2020). Foto : Abidin suarasurabaya.net

Sejak mula virus itu masuk Surabaya, kasus penularan di wilayah itu terus memburuk. Pasar ditutup. Warga yang tidak percaya berunjuk rasa. Lalu virus juga menyebar dari aktivitas ibadah. Masjid dan musala ditutup. Aparat keamanan membatasi aktivitas warga secara ketat. Stigma bersemi, menyebar cepat seperti pandemi.

—-

Sore itu, sejumlah orang meriung di mulut gang kampung Krembangan Bakti, RT 11, RW II, Kelurahan Kemayoran, Krembangan, Surabaya. Sesekali, Eni Mardiana menurunkan maskernya supaya lawan bicaranya lebih jelas mendengar suaranya.

Lawan bicaranya adalah para pemuda yang aktif di karang taruna. Eni sedang membagi peran dan memberikan sejumlah instruksi singkat kepada empat pemuda itu. Tidak berlangsung lama, mereka segera berpencar sesuai tugas masing-masing.

Ada yang mencari seperangkat ubo rampe. Ada yang diminta membeli petasan dan kembang api. Satu pemuda lain harus membeli dan menyiapkan pita panjang. Kemudian ada yang bertugas mengumpulkan warga.

Semua persiapan itu dirancang dadakan setelah ada kabar dari kelurahan bahwa Kamis sore itu, 18 Juni, salah satu warga kampung yang sudah menjalani karantina dan masa observasi di Asrama Haji Sukolilo sudah boleh pulang.

Setelah semua kebutuhan terpenuhi. Semua persiapan tuntas ditandai dengan terpasangnya pita merah jambu melintang di mulut gang. Eni, Ketua Rukun Tetangga, mengatur warga agar berjajar di depan rumah masing-masing sejak gapura gang.

“Ayo, Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, baris. Kita sambut saudara kita yang pulang dari perang melawan korona. Kita sambut kemenangan ini!” Serunya dengan suara lantang kepada warga yang turut bersorak, larut dalam euforia.

Menjelang Maghrib, mobil plat merah berhenti di dekat gang. Seorang pria berkaus hitam turun. Eni dan sejumlah warga memandunya untuk memotong pita sebelum melewati gapura. Tus. Pita itu terpotong diikuti riuh tepuk tangan, nyala kembang api dan letupan petasan.

Pria itu, sejak diminta memotong pita, wajahnya tampak bingung. Mungkin hatinya sedang teraduk. Bahagia campur haru, sekaligus malu. “Selamat datang kembali dulur. Ayo semangat! Wis mari, saiki (sudah sembuh sekarang),” ujar Eni kepada pria itu.

Penyambutan warga penyintas Covid-19 ini sudah dilakukan sejak 28 Mei. Sejak saat itu, empati warga tergugah. Kawasan di Kelurahan Kemayoran ini termasuk kawasan zona merah pertama di Surabaya akibat klaster penularan dari Pasar Gresik PPI.

Stigma yang menyebar bahkan lebih cepat dari penambahan jumlah kasus harian di kampung itu membuat pengurus kampung harus lebih kreatif untuk menyadarkan warga bahwa orang-orang yang terjangkit Covid-19 adalah korban yang tidak berdaya.

“Di awal-awal sangat berat. Warga saling curiga. Kalau ada yang positif dikucilkan,” kata Eni.

Ahmad Hidayat Ketua RW II Kelurahan Kemayoran. Dia bilang, bahkan warga yang tinggal di Kelurahan Kemayoran saat itu juga dipandang seperti penyebab wabah yang harus dijauhi. “Suasananya saat awal-awal sangat mencekam,” katanya.

Peningkatan kasus di kawasan sekitar klaster Gresik PPI saat itu terus memburuk. Tim Tracing Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Surabaya bahkan menemukan adanya klaster penularan di salah satu masjid di kawasan itu.

Ahmad mengakui, mengajak warganya untuk mentaati protokol kesehatan adalah tantangan yang sangat berat. Unjuk rasa sejumlah warga yang merasa terdampak karena roda ekonomi di pasar lumpuh juga sempat terjadi.

“Bahkan ada yang menganggap virus korona itu hanyalah rekayasa, saat itu,” katanya.

Polda Jatim dan Gugus Tugas Provinsi Jatim bahkan terjun langsung menutup kasawan Gresik PPI setelah sebelumnya Pemkot Surabaya menutup pasar Gresik PPI pada 24 April 2020. Di Kelurahan Kemayoran saja, telah ditemukan sebanyak 110 kasus Covid-19 sampai 1 Juni lalu.

“Hari-hari berat itu kami lalui selama sebulan. Kami pengurus RW harus pelan-pelan mengajak warga lebih peduli dan tidak panik. Pengaturan protokol kesehatan mendapat tentangan luar biasa dari warga saat itu,” katanya.

Empati Mulai Bersemi

Ahmad mengatakan, bersama perangkat Kelurahan dan Kecamatan, sosialisasi terus digencarkan. Warga di sembilan Rukun Warga dan 99 Rukun Tetangga terus mendapat sosialisasi bahwa pandemi harus dilawan bersama-sama.

Perlahan-lahan, seiring kian menyebarnya kasus Covid-19 sehingga seluruh kecamatan di Surabaya berwarna merah dalam peta sebaran, empati itu bersemi di kalangan warga Kemayoran.

“Warga semakin tahu kalau virus ini berbahaya dan tidak bisa dilawan sendirian. Warga juga sadar ternyata tidak hanya di kawasan kami yang terkena wabah. Warga mulai optimis karena yang terpapar masih bisa sembuh,” kata Ahmad.

Ketika ada kabar warga yang terjangkit Covid-19 sembuh, secara spontan, warga bergotong-royong membuat kejutan dan penyambutan. Nyala kembang api sampai bunyi hadrah menjadi hal yang wajar bagi penyintas yang pulang kampung.

Pada 28 Mei 2020 ada sebanyak 6 orang warga RW II dan 27 orang warga RW IV yang pulang untuk pertama kali dengan penyambutan seperti itu. Kemudian pada 2 Juni 2020 ada 4 orang. Lalu pada 12 Juni ada dua orang.

“Sampai sekarang (20/6/2020), dari 110 pasien positif di Kelurahan Kemayoran sudah sebanyak 77 orang yang pulang ke rumah. Tersisa 33 orang yang ditunggu kepulangannya. Semoga mereka segera pulang,” kata Ahmad.

Penyambutan warga penyintas Covid-19 ini pun menjadi semacam tradisi. Kembang api yang berbunga di udara menjadi tanda kemenangan. Warga makin optimistis, kalau kembang api menyala beban pandemi terus berkurang.

“Warga sampai hafal. Kalau ada kembang api menyala mereka bergegas keluar rumah lalu mengucapkan syukur Alhamdulillah, ada warga yang sembuh lagi,” kata Ahmad.

Sekarang, empati terhadap penyintas Covid-19 ditantang balik. Mereka yang sembuh dari Covid-19 diharapkan untuk mau mendonorkan plasma darahnya untuk membantu pasien lainnya. “Sampai sekarang masih satu orang yang sudah daftar,” katanya.

Stigma Memudar, Empati Menyebar

Perlahan beban berat pandemi terkurangi. Stigma negatif memudar. Sebaliknya empati menyebar ke Kelurahan dan Kecamatan lain di Surabaya. di Banyu Urip, Bratang, Rangkah, dan hampir seluruh Kecamatan, penyambutan serupa dilakukan.

Tradisi baik ini diterapkan di banyak kampung di Kota Pahlawan, meski masih ada sebagian kampung yang warganya belum dihinggapi empati yang sama.

Febriadhitya Prajatara Kabag Humas Pemkot Surabaya mengakui, tradisi penyambutan warga ini menjadi energi luar biasa bagi pemerintah dalam menangani wabah virus SARS CoV-2 di Surabaya.

“Kami terus mendorong tradisi baik yang lahir dari warga. Kampung-kampung lain kami harap mencontohnya. Pengurus RT, RW, Lurah, dan Camat juga kami minta terus mengedukasi masyarakat,” katanya.

Inovasi warga membangkitkan empati untuk melawan stigma itu harus secara murni tumbuh dari warga. Selama ini Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Surabaya hanya memberikan pemahaman kepada mereka kalau virus ini wabah global.

“Kami memberi pemahaman, bayangkan kalau yang kena keluarga kita. Tidak ada orang yang ingin, tidak ada orang mau terkena virus ini,” kata Febri.

Menurut Febri, Pemkot Surabaya memberi penjelasan ke warga dengan referensi dari beberapa pakar kesehatan. Misalnya tentang penjelasan kalau virus ini, selama jangka waktu tertentu bersamaan imun tubuh bagus, bisa sembuh sendiri.

“Inilah yang Pemkot terus mendorong. Untuk menumbuhkan imun harus saling menguatkan dan saling mendukung. Warga rupanya menangkap sosialisasi itu dan menerapkan dengan cara mereka masing-masing,” katanya.

Empati dan rasa optimis warga ini juga berdampak pada testing massal. Menurut Febri, warga antusias mengikuti rapid test dan swab test gratis yang digelar BNPB maupun BIN.

“Tes massal yang kami gelar selalu banyak diikuti warga. Mereka tidak menghindar. Mereka sudah peduli kalau dia terpapar, bukan tidak mungkin keluarga atau kontak dekatnya juga terkena,” katanya.

Nah, sekarang ini Kota Surabaya masih berjuang menuju zona kuning hingga zona hijau. Di peta sebaran, Surabaya masih zona merah. Tren jumlah positif belum melandai meski jumlah pasien sembuh terus meningkat. Sudah ada enam kelurahan di Surabaya yang sudah menjadi zona hijau atau zero Covid-19.

“Kepedulian bersama dan gotong-royong melawan wabah ini akan memperbanyak zona hijau di Surabaya” kata Febri. (bid/den/iss)

Berita Terkait

Surabaya
Rabu, 25 Mei 2022
27o
Kurs