Kamis, 24 September 2020

Munculnya Organisasi KAMI Mendapat Kritik Sejumlah Tokoh

Laporan oleh Farid Kusuma
Bagikan
Wawan Hari Purwanto Deputi VII BIN (tengah) menjadi narasumber diskusi publik bertajuk "Aksi Selamatkan Indonesia, Selamatkan Dari Apa?" di Jakarta, Rabu (12/8/2020). Foto: Istimewa

Wawan Hari Purwanto Deputi VII Badan Intelejen Negara (BIN) mengatakan, segala jenis ancaman yang berpotensi membahayakan kesatuan dan keutuhan NKRI, wajib diantisipasi oleh seluruh elemen bangsa.

Menurut Wawan, sebagai warga negara, sudah seharusnya membela tanah airnya dengan segenap jiwa dan raganya.

Pernyataan itu merespon munculnya Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) yang dibentuk Din Syamsudin Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah.

KAMI mengklaim perlu melakukan aksi penyelamatan karena Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo sedang menghadapi gelombang besar yang berpotensi membuat Indonesia terpuruk.

“Sudah menjadi kewajiban kita untuk melindungi segenap tumpah darah. Kita harus sadari bahwa seluruh ancaman perlu diantisipasi supaya kita bisa lepas dari ancaman dalam atau luar negeri,” ujar Wawan dalam diskusi publik dengan tema “Aksi Selamatkan Indonesia, Selamatkan Dari Apa?” di Bumbu Desa Resto, Jakarta, Rabu (12/8/2020).

Dari kaca mata BIN, ancaman yang nyata dan paling serius sekarang adalah pandemi Covid-19. Maka dari itu, semua pihak harus menjaga keselamatannya, sehingga secara kolektif bisa menyelamatkan Indonesia dari dampak buruk akibat wabah penyakit tersebut.

“Ini yang menjadi konsen kami untuk bagaimana di era sekarang ini di masa pandemi yang luar biasa dampaknya sebab tidak hanya masalah kesehatan, tapi sudah menjadi masalah ekonomi pariwisata. Oleh karenanya pemerintah terus berupaya secepatnya mengentaskan diri dari situasi yang sekarang melanda seluruh dunia,” tegasnya.

Dalam forum yang sama, Muhammad Kapitra Ampera praktisi hukum menilai pembentukan KAMI sarat dengan kepentingan politis.

Dia menganggap tuntutan dan juga aksi yang akan dilakukan KAMI juga tidak jelas. Karena, Kapitra melihat secara umum Pemerintah Indonesia menjalankan tugasnya dengan cukup baik.

Bahkan, mantan caleg PDI Perjuangan pada Pemilu 2019 itu menganggap recovery ekonomi Indonesia yang ambruk akibat pandemi Covid-19 lebih baik dibandingkan beberapa negara lain.

“Saya tidak melihat substansi masalahnya. Kalau kita cinta pada negeri ini, ayo kita fokus bagaimana membantu sesama manusia mengatasi covid ini, ini musuh bersama, jangan bikin propaganda untuk menghasut rakyat agar mendiskreditkan serta menebar kebencian kepada pemerintah, ini tidak ada yang diuntungkan,” ucapnya.

Sementara itu, Kusnanto Anggoro Pakar Politik Universitas Indonesia menyebut musuh bersama Bangsa Indonesia yang masih terus ada sekarang yaitu nepotisme, korupsi, kekerasan dan lainnya.

Sedangkan urusan yang terkait dengan sistem tata negara, pemerintahan serta ekonomi, menurutnya sudah cukup baik.

Terkait penanganan pandemi Covid-19, Kusnanto menilai pemerintah mendapatkan kepercayaan yang luar biasa dari rakyat. Hal itu menjadi modal utama bagi pemerintah untuk melawan pandemi global.

“Kita ini tidak lebih buruk dari negara – negara lain seperti Singapura yang pertumbuhan ekonominya jatuh sangat dalam, kita meski kontraksi tapi relatif terukur. Tapi memang kita tidak sebagus negara Swadia, Islandia dan lainnya. Kinerja kita dalam lima tahun kemarin bagus dalam beberapa hal, tapi memang ada beberapa hal yang perlu diperbaiki lagi,” sebutnya.

Lebih lanjut, Roby Nurhadi Pengamat Politik Universitas Nasional berharap kemunculan organisasi masyarakat dalam berbagai jenis khususnya KAMI tidak menambah masalah baru bagi bangsa Indonesia.

Menurutnya siapa pun tokoh yang ada di dalam struktur organisasi KAMI harus bijak dalam menyikapi persoalan negara khususnya dalam sistem pemerintahan.

Pasalnya, saat ini pemerintah sedang fokus untuk mengatasi dan meminimalisir dampak buruk dari pandemi Covid-19.

Dia juga berharap keberadaan KAMI benar-benar bisa menjadi bagian dalam pemecahan masalah utama yang dihadapi negara. Tapi, Roby menyebut KAMI sebagai gerakan yang tidak terhormat kalau sarat dengan muatan politis.

“Kami harap jangan ada yang mengambil kesempatan dalam kesempitan seperti saat ini, itu saya kira tidak terhormat terlepas siapapun tokoh -tokoh di dalamnya, kita semua punya tanggung jawab masing-masing,” ulasnya.

Pendapat senada juga disampaikan Risat Sanger Direktur Eksekutif Sulut Political Institute. Dia menyatakan pemerintah perlu mendapat dukungan yang kuat dari semua elemen masyarakat dalam mengatasi Covid-19.

Sayangnya, terdapat beberapa kelompok tertentu yang justru terkesan ingin menjegal upaya pemerintah. Padahal, semua pemerintahan di berbagai negara sedang bekerja keras menekan dampak buruk pandemi Covid-19.

“Kalau benar benar ingin ikut andil menyelamatkan Indonesia, lakukan saja. Tapi, nalar kritis kami mencurigai kritik mereka untuk membuat kegaduhan. Oleh sebab itu, nanti biar masyarakat yang melihat kelompok mana yang benar-benar bekerja dan kelompok mana yang hanya tong kosong bunyi nyaring,” katanya.(rid/lim)

Berita Terkait
NOW ON AIR SSFM 100

Radityo Jufriansah

Potret NetterSelengkapnya

Kemacetan di Raya Taman arah Bundaran Waru

Bypass Krian arah Mojokerto Macet

Underpass Satelit arah Mayjen Sungkono Macet

Kemacetan di Manukan

Surabaya
Kamis, 24 September 2020
29o
Kurs