Selasa, 22 September 2020
Pekerja Seni Bangkit

Ngamen di Mal Jadi Alternatif Solusi Seniman di Tengah Pandemi

Laporan oleh Agustina Suminar
Bagikan
Pekerja seni yang manggung dalam acara Wednesday Jam Session di Food Society, Pakuwon Mall Surabaya, Rabu (5/8/2020). Foto: Istimewa

Dampak pandemi Covid-19 sejak Maret lalu sangat dirasakan oleh para pekerja seni atau seniman di Kota Surabaya. Pembatasan yang diberlakukan membuat dunia hiburan ikut terhenti dan job manggung menurun drastis bahkan tidak ada sama sekali.

Untuk bisa bertahan, para seniman Surabaya memutar otak agar mereka tetap mendapatkan penghasilan. Salah satunya dengan “ngamen” di mal-mal yang ada di Surabaya.

“Sehingga kita membuat satu kegiatan ‘ngamen di mal-mal’. Nah, ini sudah berjalan dua kali. Pertama di Food Society Pakuwon Mall. Tadi malam di Galaxy Mall dan rupanya ada respon baik dari masyarakat,” kata FX Boy Anggota Surabaya Entertainer Club (SEC) kepada Radio Suara Surabaya, Sabtu (8/8/2020).

Dalam kegiatannya itu, uang hasil ‘ngamen’ tersebut juga akan dibagikan ke seniman lain yang terdampak Covid-19. Mereka akan menyediakan kotak kecil transparan yang bertuliskan “Donasi untuk Pekerja Seni”. Boy tidak menyangka, bahwa apa yang mereka lakukan mendapat apresiasi dari masyarakat.

Kotak transparan di mana penonton atau pengunjung mal dapat memberikan sejumlah uang untuk berdonasi bagi pekerja seni. Foto: Istimewa

Para pekerja seni di Surabaya, lanjut Boy, sebenarnya telah mendapatkan bantuan dari Pemprov Jatim dan Pemkot Surabaya. Bantuan tersebut berupa bantuan tunai dari Pemprov Jatim untuk 250 pekerja seni, yang dibagikan di Surabaya dan 7 daerah lainnya di Jatim. Kemudian Pemkot juga memberikan Bantuan Sosial Tunai kepada 150 pekerja seni di Surabaya, yang bantuan tersebut masih akan diperpanjang hingga tiga bulan ke depan.

Namun karena lima bulan lamanya tidak mendapatkan job manggung, dan mereka tidak bisa mengandalkan bantuan dari pemerintah saja. Mereka pun akhirnya meminta izin pengelola mal agar bisa ‘ngamen’ di sana.

“Ada musisi yang mendapat bantuan sosial tunai dari Pemkot, tapi kami juga pengen manggung, kita sudah jenuh banget,” kata Boy.

Ia tak menampik, penghasilan seniman menurun drastis selama pandemi. Pendapatan berkurang sedangkan pengeluaran bertambah karena kebutuhan akses internet yang meningkat saat semua kegiatan beralih ke daring.

“Ini sudah 4 sampai 5 bulan sepi, sedangkan pengeluaran tetap nggak berubah. Malah berlebih karena ada tambahan untuk biaya wifi, obat-obatan, vitamin dan sebagainya,” ujarnya.(tin/ipg)

Berita Terkait
NOW ON AIR SSFM 100

Bintang Rahmadani

Potret NetterSelengkapnya

Kemacetan di Raya Taman arah Bundaran Waru

Bypass Krian arah Mojokerto Macet

Underpass Satelit arah Mayjen Sungkono Macet

Kemacetan di Manukan

Surabaya
Selasa, 22 September 2020
31o
Kurs