Sabtu, 8 Agustus 2020

Pasien Tak Jujur, Dokter RSUD dr. Soewandhie Meninggal Terpapar Covid-19

Laporan oleh Ika Suryani Syarief
Bagikan
Ucapan duka cita dari RSUD dr. Soewandhie untuk dr. Berkatnu Indrawan Janguk.

Suasana duka menyelimuti RSUD dr. Soewandhie, Kota Surabaya, Jawa Timur, Senin (27/4/2020) malam, ketika salah seorang dokter setempat meninggal diduga akibat terpapar virus corona penyebab Covid-19.

Sejumlah dokter, perawat serta tenaga medis lainnya terlihat berkumpul di parkiran rumah sakit setempat. Mereka terlihat berbaris, berjajar memberikan penghormatan terakhir kepada almarhum dr. Berkatnu Indrawan Janguk sebelum jenazahnya dimakamkan di salah satu tempat pemakaman umum di Surabaya.

Isak tangis pihak keluarga pun mengiringi keberangkatan jenazah almarhum dokter Indra dari rumah sakit menuju peristirahatan terakhir. Begitu juga ketika sejumlah petugas berpakaian APD (alat pelindung diri) memasukkan jenazah ke liang lahat.

“Saya ikut berduka cita atas meninggalnya dokter Indra. Almarhum merupakan mahasiswa saya saat kuliah kedokteran di UWK (Universitas Wijaya Kusuma) Surabaya,” kata dr. Sukma Sahadewa, M. Sos, M. Kes., dosen tetap di Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, seperti dilaporkan Antara.

Menurut Sukma, dokter asal Muara Teweh, Kalimantan Tengah yang meninggal itu semasa hidupnya memiliki kepribadian yang baik dalam pergaulan dan tekun dalam menjalankan tugasnya sebagai dokter.

Selain itu, lanjut dia, almarhum juga terkenal dengan pribadi yang tulus serta tidak pernah marah dengan siapapun. Bahkan, almarhum hormat kepada para seniornya termasuk guru-gurunya di kampus tempatnya belajar kedokteran.

Sukma mengaku punya kedekatan dengan almarhum semasa hidupnya. Bahkan kalau tidak ada kesibukan di rumah sakit, almarhum beberapa kali sempat meluangkan waktu untuk bermain musik bersama.

“Dulu beliau sering main band bareng dengan saya. Makanya saya benar-benar kehilangan seorang teman seprofesi dan partner bermain musik,” katanya.

Hal sama juga dikatakan Dr. Akmarawita Kadir., M.Kes.,  dosen dan senior almarhum lainnya di Universitas Wijaya Kusuma (UWK). Ia mengatakan turut berduka cita atas berpulangnya dokter Indra yang merupakan mahasiswanya di UWK angkatan 2010.

“Kasihan, masih muda. Semoga arwahnya diterima disisi-Nya,” katanya.

Diketahui almarhum merupakan putra dari pasangan suami istri dari Suriawan Prihadi yang merupakan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah dan Inriaty Karawaheni, Asisten III Setda Barito Utara.

Pasien Tak Jujur

Febria Rachmanita Koordinator Protokol Kesehatan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Surabaya, mengatakan, almarhum semasa hidupnya memang memiliki riwayat penyakit asma. Tiga pekan lalu, almarhum juga sempat melakukan tes swab di RSUD Soewandhie dan hasilnya dinyatakan positif Covid-19.

“Dia memang punya penyakit bawaan asma, terus kemudian kemarin itu awal swabnya positif Covid-19, terus dirawat sembuh sudah. Kemudian, swabnya negatif tiga kali,” kata Febria Rachmanita.

Bahkan, kata Febria, beberapa hari terakhir saat dirawat di ICU RSUD dr. Soewandhie, kondisi almarhum membaik. Bahkan, Senin (27/4/2020) pagi kondisinya juga membaik. Namun kemudian, terjadi pembengkakan pada jantungnya sehingga meninggal dunia sekitar pukul 17.46 WIB.

Febria mengatakan dr Indra sebelum berpulang adalah dokter yang menangani pasien Covid-19 asal Pemalang. Namun karena pasien tersebut tidak mengaku kalau positif Covid-19, akhirnya almarhum ikut terpapar.

Padahal pertama kali almarhum ambil swab itu tiga minggu yang lalu dan hasilnya positif. Terus melakukan dua kali tes swab dan dinyatakan negatif. Tapi, ternyata tubuhnya tidak bisa membentuk imun sehingga nyawanya tidak tertolong.

Menurut dia, karena almarhum memiliki riwayat asma sehingga dimungkinkan seringkali membuka masker pada saat merawat pasien. Hal inilah yang kemudian almarhum cepat tertular virus corona penyebab Covid-19.

Namun begitu, Febria berharap untuk ke depannya tidak ada lagi pejuang medis baik itu dokter maupun perawat yang terpapar hingga kehilangan nyawanya saat menangani pasien Covid-19.

“Perawat dan dokter adalah garda terdepan. Walaupun mereka menggunakan APD (alat pelindung diri) lengkap, tapi saya berharap tidak ada lagi pejuang medis yang terpapar hingga meninggal,” katanya.

Tenaga medis di Surabaya yang sebelumnya meninggal dunia akibat Covid-19 adalah Hastuti Yulistiorini, perawat senior di RS Siloam Hospital Surabaya. Hastuti meninggal dunia pada 16 April 2020.(ant/iss)

Berita Terkait
NOW ON AIR SSFM 100

Hendra Lukas P. Hutagalung

Potret NetterSelengkapnya

Kangen Tanggapan

Unjuk Rasa Aliansi Pekerja Seni Surabaya

Truk Patah As di Gedangan

Truk Muat Pasir Terguling di Balongbendo

Surabaya
Sabtu, 8 Agustus 2020
25o
Kurs