Sabtu, 21 Mei 2022

Pemkot Surabaya Akui Sulit Terapkan Physical Distancing di Pasar

Laporan oleh Agung Hari Baskoro
Bagikan
Situasi Pasar Pegesangan, Surabaya, yang mana para pedagang maupun pembeli memakai masker saat memasuki hari kedua PSBB Surabaya Raya, Rabu (29/4/2020). Foto: Totok suarasurabaya.net

Pemkot Surabaya mengakui sulit menerapkan physical distancing di area pasar. Itu dikatakan Agus Hebi Djuniantoro Kepala Bagian Administrasi Perekonomian dan Usaha Daerah Pemkot Surabaya.

Physical distancing di pasar itu sulit. Jumlah pedagangnya banyak, dempet-dempet itu,” ujar Hebi di Surabaya pada Minggu (10/5/2020).

Masalahnya, saat ini sudah ada sejumlah pasar di Surabaya yang diketahui terdapat kasus positif Covid-19 di dalamnya.

“PD Pasar itu pertama, Kapasan, PPI, Kupang Gunung, Simo Gunung, Pasar simo. Yang lainnya pasar LPMK (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan), seperti pasar di Keputih itu, Asemrowo, Jojoran juga,” jelasnya.

Bagi pasar yang diketahui ada kasus Positif Covid-19, Pemkot Surabaya mewajibkan karantina 14 hari pada pasar bersangkutan. Sehingga, selama waktu itu, tidak boleh ada kegiatan disana.

“Tapi tentunya, tidak hanya itu, sebelum ada penutupan, ada rapid test untuk mengetes apa sudah menyebar atau belum. Tidak semua. Terbatas jumlahnya, sampling,” katanya.

Saat ini, beberapa pasar sudah mulai ditata agar antar lapak tidak terlalu berdekatan. Salah satunya dengan menerapkan sistem ganjil genap. Juga ada wacana untuk menerapkan pembatasan jadwal buka pasar. Selain itu, yang saat ini dilakukan tiap hari adalah sosialisasi pada pedagang di pasar untuk menaati protokol yang ada.

“Salah satu jalan ya kita sosialiasi setiap hari. Setiap hari, cuman kadang2 keteloran itu kan selalu ada. Memang hal seperti ini tidak mudah. Tapi itu bisa sedikit tidak menyebar (virusnya),” jelas Hebi.

Bagi pedagang yang saat ini pasar tempatnya bekerja sedang ditutup sementara, Hebi mengatakan kegiatan jual beli masih bisa berjalan. Tapi, dengan cara baru yaitu sistem online. Ia menegaskan, penutupan sementara pasar bukan untuk mematikan perekonomian.

“Kita melawan hal yang tidak kelihatan. Kita tidak mau satu sisi mengorbankan perekonomian, tidak. Yang paling penting pertimbangannya adalah agar tidak menulari. Pasar kalau terus menerus (ditutup), kan kasihan juga yang sehat padahal bisa berjualan. Bisa dialihkan ke online. Lewat pengiriman,” pungkasnya. (bss/tin)

Berita Terkait

Surabaya
Sabtu, 21 Mei 2022
28o
Kurs