Minggu, 29 Mei 2022

PSBB, Guru Besar STIE Perbanas Pesankan Masyarakat Tidak Panic Buying

Laporan oleh J. Totok Sumarno
Bagikan
Ilustrasi. Kebutuhan pangan pasti akan banyak dicari saat PSBB diterapkan di Surabaya, tapi masyarakat tetap tidak perlu panic buying. Foto: Totok suarasurabaya.net

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), mulai Selasa (28/4/2020) diterapkan di Surabaya, Sidoarjo dan Gersik. Prof. Dr. Tatik Suryani, Psi., M.M., Guru Besar STIE Perbanas Surabaya, berpesan pada masyarakat agar tidak panic buying, apalagi di tengah Ramadan ini.

Tatik Suryani mengatakan Allah Swt., memang Maha Mengatur, momen pemberlakukan PSBB di bulan Ramadan, sebagian besar mayoritas masyarakat menjalankan ibadah puasa yang mengajarkan kepada orang Islam untuk mengendalikan diri.

“Tentu, harapannya tidak akan terjadi yang namanya panik berbelanja, namun belum tentu,” terang Tatik Suryani yang juga menulis buku Perilaku Konsumen tersebut.

Menurut Tatik, kenyataan di beberapa negara ketika akan diumumkan lockdown, panic buying behavior terjadi. “Jadi, di lingkungan kita pun bisa saja itu terjadi, jika di antara kita tidak bisa mengendalikan diri. Mengapa terjadi panic buying, sehingga memborong barang belanjaan, lalu bagaimana caranya supaya kita tidak ikut-ikutan?” ujar Tatik.

Tatik menjabarkan banyak faktor yang menyebabkan terjadinya panic buying. Adapun faktor seseorang bisa panic buying, di antaranya: dorongan untuk survive; kecemasan antisipatif; ketularan atau rasa takut dapat menular; dan rumor dan informasi yang tidak benar.

“Di tengah situasi yang diliputi kehawatiran dan ketakutan, informasi yang tidak jelas sumbernya, bahkan isinya negatif dan membingungkan sering kali muncul. Kondisi ini dapat mendorong seseorang untuk melakukan panic buying,” jelas Tatik.

Menyikapi kondisi tersebut, Kepala Program Studi Magister Manajemen STIE Perbanas Surabaya ini mengajak masyarakat untuk bisa mengatasi agar tidak panic buying saat PSSB berlangsung.

Beberapa tips yang diberikannya, pertama membersihkan mindset (pikiran) dari emosi dan pikiran negatif. Kata Tatik, setiap orang perlu menyaring (filter) informasi yang penting dan akurat. Ketika informasi itu tidak masuk akal, maka sebaiknya dibuang dan diabaikan.

Kedua, mengembangkan empati. Artinya, seseorang perlu berpikir setiap yang dilakukannya akan berdampak terhadap orang lain. “Ketika ada godaan mulai terpengaruh melakukan panic buying, segeralah untuk berpikir, kalau barang-barang yang dijual itu kita borong, mungkin ada orang lain yang lebih membutuhkan,” ujar Tatik.

Lebih lanjut, Tatik menyarankan untuk merencanakan kebutuhan belanja bukan keinginan belanja. Perlunya mengecek barang yang dibeli dan menyisihkan sisa uang untuk berjaga-jaga.

Tatik mengajak untuk percaya bahwa saat ini era transparansi. Ketika akan terjadi kelangkaan barang, maka pemerintah akan segera turun tangan.

“Jadi, ketika masyarakat sedang kesulitan untuk mendapatkan bahan-bahan kebutuhan pokok, yakinlah bahwa pemerintah tidak tinggal diam. Jika pemerintah diam, pasti masyarakat akan protes. Yakinlah juga bahwa para pengusaha retail di bidang itu akan segera bertindak untuk menangkap peluang,” tambah Tatik.

Karena itu, Tatik mengingatkan agar masyarakat luas menjauhi rumor dan jangan membuat rumor baik dengan media konvensional maupun media sosial. Kemudian, selalu ingat dan menyadari bahwa apapun yang dilakukan kalau merugikan orang lain akan dimintai pertanggungjawaban kelak.

“Jika kita berpuasa, maka akan menodai puasa kita. Puasa adalah saat emas untuk berlomba-loma melakukan kebajikan. Jadi, tidak usah panik dan jadilah pembelanja bijak di tengah masa Pembatasan Sosial Berskala Besar,” pungkas Tatik, Selasa (28/4/2020).(tok/ipg)

Berita Terkait

Surabaya
Minggu, 29 Mei 2022
27o
Kurs