Jumat, 20 Mei 2022

RS Darurat Covid-19 di Indrapura Mulai Terima Pasien pada 17 atau 18 Mei

Laporan oleh Denza Perdana
Bagikan

Joni Wahyuhadi Ketua Gugus Kuratif Covid-19 Jatim bilang, RS Darurat di Jalan Indrapura Surabaya bisa mulai menerima pasien mulai Minggu (17/5/2020) atau Senin (18/5/2020).

“Pembangunannya jalan. Izin dari yang punya sudah ada. Kami teruskan izin operasional. InsyaAllah kalau semua lancar, Minggu atau Senin bisa menerima pasien,” ujarnya di Grahadi, Jumat (15/5/2020) malam.

Dalam konferensi pers yang dipimpin Khofifah Gubernur Jatim itu, Joni menyatakan, Menteri Keuangan sebagai pemilik gedung Puslitbang Humaniora sudah memberikan izin pakai kepada Pemprov Jatim.

“Alhamdulillah Ibu Menteri Keuangan sebagai pemilik bangunan sudah beri izin satu tahun. Karena grafiknya Covid-19 ini masih naik. Jadi dalam satu tahun gedung itu bisa dipakai untuk melayani pasien Covid-19,” ujarnya.

Beberapa waktu sebelumnya, Joni menejelaskan, konsep yang akan diterapkan di gedung itu adalah rumah sakit darurat yang ditujukan untuk menangani pasien Covid-19 dengan gejala ringan atau sedang.

“Jadi tidak ada ICU, tidak ada ventilator. Yang ada hanya high care unit (HCU). Nanti RS Darurat itu akan dikoneksikan dengan RSUD Dr Soetomo dan RSUA (Rumah Sakit Universitas Airlangga), ujarnya.

Pasien-pasien Covid-19 dengan gejala berat yang tadinya ditangani di ruang bertekanan negatif baik di RSUD Dr Soetomo maupun RSUA, kalau kondisinya sudah membaik akan dipindah ke RS Darurat itu.

“Kita tahu RSUA, kan, walaupun tambah sampai 100 (bed/tempat tidur) tetap aja penuh. Hari-hari ini, rumah sakit memang kesulitan mencarikan tempat yang pas. Karena tidak semua bed bisa untuk menangani pasien Covid-19,” ujarnya.

Joni bilang, untuk merawat pasien Covid-19 perlu ruang isolasi khusus. Bahkan, bila pasien belum jelas hasil tesnya apakah positif atau negatif terjangkit Covid-19, dia harus dirawat di ruangan bertekanan negatif.

“Tujuannya, supaya tidak menularkan ke tenaga medis. Makanya kalau di ruang operasi yang bertekanan positif, kalau pasiennya kena Covid-19, semua di ruangan itu kena, walaupun sudah pakai masker,” katanya.

Tidak hanya menampung pasien dari rumah sakit rujukan lainnya yang bergejala ringan atau sedang, RS Darurat itu Joni pastikan akan menampung pasien dari daerah lain di sekitar Surabaya.

“Semua pasien ditampung, baik dari Surabaya, Mojokerto, atau Gresik, sama. Tidak ada bedanya. Orang Gresik yang tinggal di Surabaya ya monggo. Kami ini merawat pasien. Kami merawat pasien,” katanya.

Joni sendiri pernah mengatakan, berdasarkan analisis Tim Kuratif, kurva penularan Covid-19 di Jatim akan mencapai puncaknya pada Juni. Dia mengakui, RS Darurat saja tidak akan mencukupi.

Kapasitas di RS Darurat itu pernah dia perkirakan akan bisa menampung kurang lebih 170 orang untuk tahap pertama renovasi ini. Itupun 70 bed di antaranya di tenda yang tersedia.

Secara bertahap, Pemprov akan melakukan renovasi penambah tempat tidur mencapai 200 bed tambahan pada tahap kedua. Itupun masih bisa dimaksimalkan sampai total 500 bed.

Sementara itu, dia juga berharap rumah sakit rujukan yang dimiliki pemerintah daerah maupun swasta juga bersedia memaksimalkan tempatnya untuk penanganan pasien Covid-19 sehingga kapasitasnya bertambah.

Ketersediaan tempat untuk menangani pasien Covid-19 ini penting. Mengingat saat ini sejumlah RS Rujukan Covid-19 penuh oleh pasien Covid-19. Akibatnya, sejumlah pasien non Covid-19 tidak tertangani untuk rawat inap.

Seperti yang terjadi pada Maria Christiana, seorang penderita kanker payudara warga Karah Surabaya yang akhirnya meninggal karena gagal mendapatkan ruang rawat inap di RSAL Dr Ramelan dan ditolak di RS Bhakti Rahayu Surabaya.(den/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya
Surabaya
Jumat, 20 Mei 2022
26o
Kurs