Minggu, 7 Juni 2020

Sabar, RS Darurat Covid-19 Jatim Sedang Disiapkan

Laporan oleh Denza Perdana
Bagikan
Ilustrasi. Petugas medis dengan pakaian pelindung merawat pasien di Pusat Konferensi dan Pameran Internasional Wuhan, yang diubah menjadi rumah sakit sementara untuk menerima pasien dengan gejala ringan akibat virus novel corona, di Wuhan, provinsi Hubei, China, Rabu (5/2/2020). Foto : China Daily/Reuters/Antara

Gedung Puslitbang Humaniora (dulu Lembaga Pusat Penyelidikan dan Pemberantasan Penyakit Kelamin/LP4K) di Jalan Indrapura, Surabaya, segera berfungsi sebagai RS Darurat Covid-19 Jatim.

Dokter Joni Wahyuhadi Ketua Gugus Kuratif Covid-19 Jatim mengklaim, gedung itu sudah sangat siap. Hanya membutuhkan sedikit penanganan dan penambahan fasilitas saja.

“Ini sedang diselesaikan. Mungkin dalam minggu-minggu ini bisa selesai. Besok akan kami setting supaya bisa segera dipakai,” katanya ditemui setelah konferensi pers di Grahadi, Senin (4/5/2020) malam.

Joni meyakinkan, tidak butuh anggaran terlalu besar untuk menyiapkan bangunan yang sebelumnya dia sebut strukturnya lebih bagus dari bangunan RSUD dr Soetomo yang dia pimpin itu.

“Besok kami hitung. Tapi kelihatannya enggak banyak. Karena sudah ready itu. Hanya lama enggak dipakai aja. Bed (tempat tidur)-nya sudah ada, kok. Kasurnya juga sudah ada,” ujarnya.

Minggu (3/5/2020) kemarin, Joni mengatakan bahwa kapasitas bangunan Puslitbang Humaniora itu dia perkirakan bisa menampung 500 orang lebih. Tapi di tahap awal, akan disiapkan untuk 200 orang.

Joni mengaku sudah melakukan pemetaan dan mengidentifikasi kemungkinan kapasitas RS Darurat itu bersama Sekdaprov Jatim serta pihak Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya Jatim.

Hanya ada sejumlah fasilitas seperti air conditioner (AC) yang perlu ditambahkan untuk beberapa ruangan, juga perbaikan dan penambahan sarana drainase yang lebih optimal. Dinas PU Cipta Karya, menurutnya sedang mengerjakan itu.

Tidak hanya menyiapkan ruangan di dalam bangunan, Pemprov Jatim juga berencana menyiapkan ruang observasi atau isolasi berupa tenda di halaman Puslitbang Humaniora itu.

“Tadi kami juga sudah ngobrol dengan Ibu (Gubernur). Mungkin di sana juga (ruang observasi berbasis tenda). Di sana itu luas. Luas dan kosong melompong. Di dalam juga sudah banyak yang kosong,” katanya.

Joni bilang, hasil koordinasi dengan para punggawa Gugus Tugas Covid-19 lainnya, termasuk dengan Gubernur, tenda yang akan disiapkan sebagai ruang observasi itu berukuran 10×20 meter.

Sayangnya, dia tidak bisa memastikan berapa jumlah kapasitas atau daya tampung ruang observasi berbasis tenda itu bila sudah berdiri. Dia hanya memastikan, tenda itu akan sesuai dengan standar yang ada.

Tidak hanya di Puslitbang Humaniora Jalan Indrapura, RS Darurat di Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA) dengan kapasitas kurang lebih 200 orang sebentar lagi juga siap difungsikan.

“Ada juga di gedung-gedung Organisasi Perangkat Daerah yang bisa dijadikan rumah sakit darurat. Kemudian juga dari Kodam V/ Brawijaya yang sudah menawarkan gedungnya untuk difungsikan,” ujar Joni.

Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jawa Timur pada kesempatan yang sama juga mengatakan, sudah ada sejumlah rumah sakit swasta di Jawa Timur yang menyatakan kesediaannya menjadi rumah sakit darurat.

Dia bersyukur ada banyak pihak yang sudah menawarkan diri untuk membantu pemerintah dalam upaya percepatan penanganan Covid-19 di Jawa Timur selain menyumbangkan peralatan medis dan sembako bagi masyarakat terdampak.

Penyiapan RS Darurat dan ruang observasi berbasis tenda di Jawa Timur itu memang sudah sangat mendesak. Joni juga yang menyebutkan bahwa Rumah Sakit Rujukan di tiga daerah pelaksana PSBB sudah kelebihan kapasitas.

Pemprov Jatim butuh lebih banyak ruang isolasi dengan tekanan normal (normal pressure) untuk memindahkan sejumlah pasien Covid-19 dengan gejala ringan maupun sedang yang saat ini memenuhi ruang isolasi di Rumah Sakit Rujukan.

Belum lagi dengan munculnya pasien-pasien baru dari sejumlah klaster baru penularan Covid-19 di Jatim, seperti klaster Pabrik Sampoerna Rungkut 2, yang saat ini sudah menyumbangkan 63 pasien positif Covid-19 untuk Surabaya.

Ke depan, ruang isolasi dengan tekanan negatif (negative pressure) di RS Rujukan di Jatim hanya akan dipakai untuk mengisolasi pasien terjangkit Covid-19 dengan gejala klinis berat, yang berpotensi menularkan kepada tenaga medis.

Tenaga medis yang akan ditugaskan di rumah sakit darurat juga sudah disiapkan. Ada banyak relawan tenaga medis dan paramedis yang saat ini bertugas di RSUD dr. Soetomo, RSUD Syaiful Anwar, dan RSJ Menur yang bisa ditempatkan di sana.

“Mereka tinggal dilatih oleh tim ahli, nantinya sudah bisa ditempatkan di rumah sakit darurat itu,” kata Joni Wahyuhadi yang juga Direktur Utama RSUD dr Soetomo Surabaya.(den)

Berita Terkait
NOW ON AIR SSFM 100

Khoirul Asyhar Perdana

Potret NetterSelengkapnya

Kios Bensin di Lebak Jaya Utara Terbakar

Banjir di Tambak Sawah

Pohon Tumbang di Exit Tol Dupak

Kepadatan di Pasar Wadungasri

Surabaya
Minggu, 7 Juni 2020
25o
Kurs