Senin, 3 Agustus 2020

Soal Good News dan Bad News, Dewan Pers: Yang Penting Benar

Laporan oleh Agung Hari Baskoro
Bagikan
Live instagram Suara Surabaya Media dalam program KelaSS Pintar edisi 4 dalam tema Good News vs Bad News pada Rabu (15/7/2020). Foto: Tina suarasurabaya.net

Arif Zulkifli Anggota Dewan Pers mengatakan, media massa,  tidak perlu khawatir mengenai kategorisasi good news (berita baik) ataupun bad news (berita buruk) dalam menyajikan berita terutama berita mengenai covid-19.

Ia menegaskan, yang terpenting, media massa harus mampu menyajikan berita benar sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalistik.

“Yang penting adalah apakah dia mengatakan yang sebenarnya atau tidak. Yang diukur dari kaidah-kaidah jurnalistik. Bukan soal baik dan buruk,” kata Zulkifli saat menjadi pembicara di Live KelaSS Pintar Suara Surabaya pada Rabu (15/7/2020).

Ia mengatakan, media massa juga tidak perlu pusing memikirkan respon audiens pada berita yang dirilisnya. Ia menilai, bagaimanapun komentar audiens media, harus dipandang sebagai engagement (keterlibatan).

“Menurut saya komentar harus dipandang sebagai engagement. Baik atau buruk. Apapun komentarnya. Si media (massa) tidak perlu baper, tidak perlu sensi. Hanya karena komen-komen (audiens). Ini negara merdeka,” jelasnya.

Ia kembali menegaskan, yang terpenting saat meliput dan menuliskannya, media massa harus memastikan berita tersebut memang didasarkan pada fakta dan data.

“Yang penting menurut saya, apakah media itu dalam meliput, dia cukup confident, karena didasarkan pada fakta-fakta. Yang penting, itu berdasarkan data. Yang penting soal Covid-19, mendasarkan berita dari ilmu,” ujar Zulkifli yang juga Direktur Pemberitaan Tempo Media.

Ia juga mengingatkan, media massa, dalam pemberitaan soal Covid-19 harus memilih narasumber yang tepat dan kredibel.

“Apa kita akan mengutip mbah dukun untuk berbicara soal covid-19? Kan harusnya mengutip ahli epidemiologi, dan lain-lain,” katanya.

Mengenai sebagian masyarakat yang masih tidak percaya dengan adanya pandemi Covid-19, Zulkifli mengatakan, hal ini tidak semata-mata dibentuk dari pemberitaan media massa. Ada banyak faktor, salah satunya, kata Zulkifli, mengenai kampanye pemerintah soal hal ini.

“Ada banyak faktor. Salah satunya kampanye pemerintah, apa sudah cukup efektif menjelaskan pada mereka (masyarakat). Media jangan terlalu menyalahkan diri sendiri. Faktor pembentuknya ada banyak,” katanya.

Ia mengajak agar media massa tidak takut mengkritik pemerintah, termasuk dalam upaya penanganan penyebaran Covid-19 di Indonesia.

“Jangan takut untuk mengkritik pemerintah, karena pemerintah harus dikritik,” tegasnya.

Selain itu, Zulkifli mengatakan, dalam masa pandemi, media massa juga perlu menyiapkan pemberitaan dengan perspektif yang lebih optimis. Ia menyontohkan, misalnya, media bisa membuat laporan khusus mengenai berbagai upaya masyarakat untuk menangani Covid-19 dengan caranya masing-masing.

“Hal-hal ini kan tidak muncul di pemberitaan umum. Kalau dimunculkan, dia akan membuat optimisme,” katanya. (bas/tin/rst)

Berita Terkait
Potret NetterSelengkapnya

Truk Patah As di Gedangan

Truk Muat Pasir Terguling di Balongbendo

Kerikil Berserakan, Lalu Lintas Macet

Fortuner Masuk Sungai Kaliwaron

Surabaya
Senin, 3 Agustus 2020
30o
Kurs