Kamis, 1 Oktober 2020

Tawarkan Pengalaman Nonton yang Sulit Digantikan, Fajar Nugros Yakin Bioskop Tetap Bertahan

Laporan oleh Agung Hari Baskoro
Bagikan
Fajar Nugros sutradara Indonesia saat menjadi narasumber di Live Instagram KelaSS Pintar Suara Surabaya pada Rabu (22/7/2020). Foto: Tina suarasurabaya.net

Menonton di bioskop harus terhenti sejenak di masa pandemi. Orang-orang mulai melirik teknologi nonton streaming Over the Top (OTT) sebagai ruang menyalurkan hobi menonton. Melalui gadget masing-masing, tanpa harus berada di ruang gelap bersama-sama penonton lain menghadap layar lebar.

Pertanyaannya, apakah tren ini terus bertahan sampai kita berhasil melewati pandemi? Atau orang akan kembali berbondong-bondong membeli tiket dan mengantre di bioskop saat pandemi usai?

Fajar Nugros Sineas Indonesia meyakini, bioskop akan tetap bertahan dan sulit digantikan. Ia membayangkan kedatangan orang ke bioskop akan jadi salah satu bentuk “perayaan” terhadap keberhasilan melewati pandemi ini.

Baginya, ini yang harus disiapkan oleh para sineas di Indonesia.

“Orang melepas dahaga dengan pergi di bioskop. Masalahnya saat (bioskop) buka pertama kali, harus ada konten yang berkualitas, jangan sampai ‘yah, filmnya kok gitu‘,” kata Fajar saat menjadi narasumber di Live Instagram KelaSS Pintar Suara Surabaya pada Rabu (22/7/2020).

Ia menambahkan, kondisi pandemi mempercepat kepopuleran layanan nonton streaming. Seperti diketahui, industri distribusi film model baru ini sudah ada beberapa tahun lalu. Tapi, masyarakat mulai akrab saat bioskop “ditutup”. Sama seperti raihan kepopuleran sejumlah aplikasi meeting online saat ini.

Experience (pengalaman) nonton bioskop tidak akan tergantikan, kecuali kita punya perangkat sound system dan layar yang bagus. kalau aku pribadi seperti itu, bioskop tidak akan tergantikan. Menonton bareng-bareng tertawa dengan ratusan orang, menangis dengan ratusan orang, (nonton film) Yowis Ben ketawa sendiri kan nggak seru, sama teman sekolah, gebetan, nangis bareng kan seru. Itu tidak akan tergantikan,” jelas sutradara film Yowis Ben itu.

Tapi, ia tidak menutup kemungkinan, suatu saat industri bioskop benar-benar hilang. Teknologi yang pesat memungkinkannya. Sebagai sutradara, ia mengatakan, para sineas perlu mencari treatment-treatment baru saat film mereka masuk ke layanan streaming. Sebab, perbedaan karakteristik medium bioskop dan layanan streaming sangat berpengaruh.

“kita harus bagaimana, treatmentnya harus bagaimana, karena orang nonton di rumah (melalui layanan streaming) punya kemampuan untuk nge-pause (film). Itu beda (dengan di bioskop). Kita harus ngulik terus, biar penonton tidak nge-pause filmnya. Materi film, treatment, directing, pasti beda,” ujar Fajar.

Namun, diluar persoalan kemana film-film karya sineas Indonesia akan “dilempar”, saat ini mereka semua harus mengencangkan ikat pinggang. Pandemi membuat produksi film berhenti. Film-film yang harusnya tayang di bioskop, terpaksa menunda tanggal rilis. Fajar menyebut kondisi ini sebagai ‘Mantab’ alias Makan Tabungan.

“Jadi pas bulan-bulan awal karantina, PSBB ya mantab, makan tabungan. Atau ada yang jual makanan jual satu sama lain. Kalau kru Yowis Ben saya minta bertahan, saling bantu satu sama lain soalnya kebanyakan freelance. Jadi kalau nggak syuting ya nggak dapat penghasilan,” katanya.

Ia hanya bisa berharap, pandemi bisa segera berlalu. Berdoa vaksin Covid-19 segera ditemukan dan diproduksi massal. Selagi menunggu, ia mengajak semua masyarakat untuk berjuang menghambat laju penambahan kasus. Caranya, memakai masker saat keluar rumah, dan mengikuti protokol kesehatan lainnya. (bas/tin/rst)

Berita Terkait
NOW ON AIR SSFM 100

Hendra Lukas P. Hutagalung

Potret NetterSelengkapnya

Kemacetan di Raya Taman arah Bundaran Waru

Bypass Krian arah Mojokerto Macet

Underpass Satelit arah Mayjen Sungkono Macet

Kemacetan di Manukan

Surabaya
Kamis, 1 Oktober 2020
28o
Kurs