Selasa, 7 Desember 2021

Belum Ada Bukti Kasus Eksponensial di Jatim Akibat Virus Varian Baru dari Inggris

Laporan oleh Denza Perdana
Bagikan
dr-makhyan-jibril-al-farabi dr Makhyan Jibril Anggota Gugus Tugas Kuratif Covid-19 dari RSUD dr Soetomo saat menjelaskan progres Radar Bansos. Foto: Dok/Denza suarasurabaya.net

Dokter Makhyan Jibril Al Farabi Staf Khusus Rumpun Kuratif Satgas Covid-19 Jatim menegaskan, sampai sekarang belum ada bukti bahwa peningkatan kasus Covid-19 secara eksponensial di Jatim akibat masuknya virus varian baru dari Inggris.

Sebelumnya diberitakan, data kasus Covid-19 di Jatim baik dari Gugus Tugas pusat maupun Satgas Covid-19 menunjukkan penambahan kasus secara eksponensial mencapai 1.198 kasus.

Jumlah penambahan kasus pada Jumat (15/1/2021) itu menjadi rekor baru yang belum pernah terjadi di Jatim. Sementara, rata-rata kasus harian pada hari-hari sebelumnya antara 700-900 kasus.

“Kemarin, Ibu Gubernur juga sudah menyampaikan. Varian baru ini sebenarnya ada kemungkinan, bisa sudah masuk, bisa belum. Problemnya sekarang kapasitas laboratorium untuk sequencing,” katanya.

Seperti dijelaskan Prof Ni Nyoman Puspianingsih Mikrobiolog Unair sebelumnya, untuk mendeteksi varian baru virus corona ini, perlu ada banyak laboratorium yang meniliti.

Sementara, laboratorium yang mampu melakukan penelitian dengan metode whole genome sequence di Indonesia masih terbatas. Di kawasan Jatim saja, kemungkinan hanya ITD Unair yang bisa.

“Karena itu sekarang kita (Indonesia) belum bisa membuktikan keberadaan mutasi virus baru itu, karena kapasitas lab kita masih sangat terbatas. Tapi bisa jadi virus itu sudah masuk,” katanya.

Jibril menyampaikan dugaannya bukan tanpa dasar. Sebagai staf khusus Rumpun Kuratif berkaitan database kasus dan pasien Covid-19 di Jatim, dia melihat pola penularan berbeda dari data-data yang ada.

“Karena kan sekarang pattern (pola)-nya agak aneh, ya. Jadi lebih ke ini, ya. Kalau dulu penyebarannya sesuai demografi, kemudian tren-nya itu, naik turunnya tidak tiba-tiba,” ujarnya.

Perubahan pola, kata Jibril, juga bisa dilihat dari sejumlah indikator penyebaran dan penambahan kasus tinggi di lokasi yang berbeda-beda dan hampir tidak bisa diprediksi.

“Kemarin di kota ini, besok di daerah lain meningkat. Apa, ya, penyebarannya itu melompat-lompat. Itu juga yang bikin kita susah menanganinya. Kita tangani di satu tempat, ada mobilitas di tempat lain,” katanya.

Karena itu, Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) diharapkan bisa memunculkan daya tekan signifikan. Pemerintah akan terus melakukan evaluasi penerapan PPKM ini.

“Ini juga lagi rakor ini, dengan Menko Marves dengan Menkes untuk mengevaluasi penerapan PPKM selama empat hari ini,” katanya.

Dia mengakui, pelaksanaan kegiatan PPKM selama empat hari memang belum akan terlihat dampak yang signifikan. Menurutnya, perubahan baru bisa dilihat selama seminggu atau dua minggu penerapan.(den/iss)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Suasana Unjuk Rasa di Depan Taman Pelangi Surabaya

Suasana Unjuk Rasa Menuju Kantor Bupati Gresik

Suasana Unjuk Rasa Melewati Basra

Surabaya
Selasa, 7 Desember 2021
26o
Kurs