Minggu, 29 Mei 2022

Bencana di Lumajang Bukan Erupsi, tapi Awan Panas Guguran Semeru

Laporan oleh Ika Suryani Syarief
Bagikan
Operasi pencarian dan evakuasi korban oleh Tim SAR Surabaya di Kampung Renteng, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Senin (6/12/2021). Ketebalan material vulkanik mencapai 4-5 meter dan masih panas. Foto: SAR Surabaya

Berdasarkan kajian vulkanologi, bencana yang saat ini terjadi di Lumajang bukan karena erupsi Gunung Semeru, tapi guguran kubah dan lidah lava setelah hujan.

Surono, pakar vulkanologi mengatakan, sebagai gunung api, Gunung Semeru memang rutin “meletus”. Dalam kondisi waspada seperti sekarang ini, setiap hari bisa terjadi letusan belasan sampai puluhan kali.

“Asap, uap, atau materialnya jatuh di sekitar puncaknya. Karena itu Semeru menjadi tinggi dan semok karena dibangun oleh letusannya terus,” kata Surono kepada Radio Suara Surabaya, Senin (6/12/2021).

Selain itu, Gunung Semeru juga mengeluarkan lelehan lava yang membentuk lidah lava dan kubah lava. “Kalau ini sudah besar, kadang-kadang labil. Apalagi sekarang hujan, dia longsor, keluarlah awan panas, keluar gas campur dengan abu, kerikil, kerakal, sampai bongkah. Turun jadi awan panas susulan, masuknya biasanya ke Besuk Kobokan. Makanya di sana ada pasir yang bagus dari endapan dari material Semeru. Makanya banyak orang yang masih tinggal di sana,” ujarnya.

Baca juga: Korban Meninggal APG Semeru Bertambah Jadi 19 Orang

Volume awan panas guguran Gunung Semeru, kata Surono, kadang besar, kadang kecil. Kalau kecil tertampung di Besuk Kobokan, kalau banyak meluber ke mana-mana seperti sekarang.

“Cepat atau lambat daerah itu akan kena lagi. Tidak bisa diprediksi. Makanya tidak ada early warning. Sebaiknya jangan mendekati dan masuk daerah Besuk Kobokan,” kata dia.

Untuk menantisipasi bencana yang sama terulang kembali, Surono menyarankan penduduk membangun permukiman di daerah aman.

“Lihat saja peta rawan bencana. Kalau pemukiman sudah di daerah aman, pasti aman,” ujarnya.

Baca Juga: Kementerian PUPR Kerahkan Sumber Daya dan Alat Berat Bantu Bencana Semeru

Senada dengan Surono, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyatakan bahwa awan panas guguran merupakan ancaman khas Gunung Semeru, yang berada di Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang di Provinsi Jawa Timur.

Menurut PVMBG, awan panas guguran yang meluncur dari Gunung Semeru pada 4 Desember 2021 berasal dari ujung aliran lava pada bagian lereng gunung dan endapan dari material batuan bersuhu tinggi.

Awan panas guguran gunung api itu bergerak ke arah lereng tenggara Gunung Semeru sejauh empat kilometer dari puncak atau dua kilometer dari ujung aliran lava, memasuki lembah Sungai Kobokan dan berinteraksi dengan air sungai beserta material lama yang ada di dalam badan sungai, serta mengalir di sepanjang Sungai Kobokan.

Gunung Semeru hingga 5 Desember 2021 pukul 10.00 WIB masih meluncurkan awan panas guguran namun intensitas dan jarak luncurnya sudah cenderung menurun.

Eko Budi Lelono Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyampaikan peringatan perihal potensi hujan di kawasan kubah lava Gunung Semeru yang dapat menyebabkan aliran lahar dingin yang bergerak ke arah selatan dan tenggara.

“Oleh karena itu untuk sementara memang sebaiknya tidak ada aktivitas di sana,” katanya dalam konferensi pers virtual pada Minggu malam (5/12/2021) yang dilaporkan Antara.

Dia mengingatkan bahwa area dalam radius satu kilometer dari puncak gunung tidak aman untuk beraktivitas. Demikian pula area dalam radius lima kilometer dari daerah sobekan kawah yang akan berubah menjadi sungai menuju bawah, terutama di wilayah selatan dan tenggara Semeru.(iss/ipg)

Berita Terkait

Surabaya
Minggu, 29 Mei 2022
27o
Kurs