Jumat, 20 Mei 2022

BMKG: La Nina Jangan Jadi Momok, Tapi Lakukan Langkah Antisipasi

Laporan oleh Agustina Suminar
Bagikan
Banjir di desa Morowudi, Cerme, Gresik pada Senin (15/3/2021). Foto: Havid Widodo via Whatsapp

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan, fenomena La Nina akan memasuki wilayah  Indonesia pada periode musim hujan Desember 2021 hingga Februari 2022.  Fenomena ini mengakibatkan curah hujan meningkat, hingga sekitar 30 persen dari biasanya.

Teguh Tri Susanto Kasi Data dan Informasi BMKG Juanda mengatakan, dampak La Nina seperti halnya bencana hidrometeorologi yang bisa terjadi di hampir seluruh wilayah di Jawa Timur, meski setiap daerah berbeda-beda dampak yang dirasakannya.

Teguh menjelaskan, dampak La Nina akan lebih dirasakan bagi masyarakat di daerah yang topografi tidak rata, misalnya di daerah dataran tinggi. Karena saat curah hujan meningkat, air berpotensi akan menuju hilir dan menyebabkan banjir. Begitu juga risiko terjadinya bencana longsor.

Untuk itu, masyarakat di daerah yang topografinya tidak rata, harus lebih mewaspadai dampak La Nina. Khususnya Jawa Timur di bagian tengah dan selatan.

“Didominasi Jatim bagian tengah dan selatan, karena ada dataran tinggi, tengah dan rendah. Curah hujan meningkat 30 persen akan berdampak pada topografi yang tidak bagus. Misal Nganjuk ada dataran tinggi di Sawahan, Jember ada dataran tinggi di Gunung Raung. Jadi jika hujan di atas (hulu), akan lebih berpotensi banjir (di hilir) dan tanah longsor,” kata Teguh kepada Radio Suara Surabaya, Senin (1/11/2021).

Sedangkan untuk potensi banjir, Teguh menyebut, biasanya didominasi wilayah perkotaan. Selain itu juga di daerah yang memiliki dataran tinggi, seperti Nganjuk, Ponorogo, Jember, Lumajang hingga Malang.

“Biasanya di bawah kering, di perkotaan. Tapi di pegunungan hujan intens terjadi. Jadinya banjir mengarah ke perkotaan,” lanjutnya.

Meski La Nina diperkirakan terjadi pada akhir dan awal tahun, namun masyarakat diminta tidak menjadikan ini sebagai momok, tapi lebih kepada antisipasi. Terlebih saat musim pancaroba atau peralihan seperti sekarang ini.  Masa peralihan lebih berpotensi terjadinya cuaca ekstrem seperti hujan es. Contohnya yang terjadi Mojokerto, serta angin kencang di wilayah Madiun dan Ponorogoro.

“Saat angin timur menjadi angin barat, itu tidak serta merta beralih. Tapi kondisi angin cenderung random (acak), biasanya dari utara, barat laut dan membawa massa udara,” paparnya.

Menurut Teguh, BMKG terus melakukan koordinasi dengan pemerintah sebagai upaya preventif penanggulangan bencana saat musim hujan. Salah satunya dengan pemetaan wilayah normalisasi sungai.

Sriyono Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim mengatakan, pihaknya sudah melakukan antisipasi dengan mewaspadai tujuh aliran sungai besar yang ada di Jatim.

Ketujuh aliran sungai tersebut di antaranya:
1. Sungai Bengawan Solo, meliputi Ponorogo, Pacitan, Madiun, Ngawi, Tuban, Lamongan dan Gresik;
2. Sungai Welang Rejoso, meliputi Pasuruan dan Probolinggo;
3. Balai Besar Sungai Brantas;
4. Sungai Madura (Kali Kemuning), meliputi Bangkalan, Sampang (paling terdampak), Pamekasan Sumenep;
5. Sungai Sampean meliputi Situbondo dan Bondowoso;
6. Sungai Bondoyudo, meliputi Lumajang dan Jember;
7. Sungai Baru Bajulmati, meliputi Banyuwangi, Bondowoso dan Situbondo.

Sriyono Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim saat menjadi narasumber program Wawasan Radio Suara Surabaya, Senin (1/11/2021). Foto: Tina suarasurabaya.net

Selain banjir, BPBD Jatim sudah mengantisipasi terjadinya tanah longsor. Apalagi dari 38 kabupaten/kota, sebanyak 34 di antaranya memiliki risiko tanah longsor dari tingkat menengah hingga risiko tinggi. Salah satunya dengan penanaman pohon di daerah-daerah rawan longsor.

“Penanaman serentak tumbuhan vetiver yang akarnya kuat untuk menahan longsor, itu sudah sejak 3 tahun lalu kita lakukan. Kita juga melakukan penanaman pohon di daerah Batu dan sekitar longsoran di Nganjuk,” kata Sriyono kepada Radio Suara Surabaya, Senin pagi.

Selain itu, pihaknya juga telah melakukan aeroseeding, yakni penyebaran biji benih tanaman menggunakan pesawat ringan atau swayasa. Benih tanaman biasanya disebar pada koordinat yang akan direhabilitasi.

Sriyono menambahkan, aeroseeding sudah dilakukan di beberapa titik seperti Gunung Arjuna, Gunung Kawi dan Gunung Ijen.

“Dua tahun berturut-turut kita sudah melakukan aeroseeding menggunakan helikopter dari (bandara) Abdul Rachman Saleh,” ujarnya.(tin/rst)

Berita Terkait

Surabaya
Jumat, 20 Mei 2022
31o
Kurs