Jumat, 22 Oktober 2021

Ganjar Pranowo Paparkan Situasi Terkini dan Kepanikan yang Sempat Terjadi di Kudus

Laporan oleh Denza Perdana
Bagikan
Ganjar Pranowo Gubernur Jateng saat berkunjung ke Suara Surabaya Center (SSC) pada Minggu (4/4/2021) sore. Foto: Dimas Suara Surabaya

Kasus Covid-19 di Kudus, Jawa Tengah, meningkat signifikan. Kematian meningkat. Rumah sakit penuh. Moeldoko Kepala Staf Kepresidenan bilang, kasus di Kudus beberapa pekan terakhir harus jadi pelajaran bersama masyarakat Indonesia.

Lonjakan kasus positif Covid-19 di Kudus terjadi usai Libur Lebaran Hari Raya Idul Fitri. Puluhan desa terinfeksi. Banyak tenaga kesehatan yang sudah dua kali vaksinasi tetap terinfeksi dan sebagian meninggal.

Berdasarkan Data Dinas Kesehatan Kudus sampai 2 Juni kemarin, total kasus baru Covid-19 mencapai 1.243. Sebanyak 287 pasien di antaranya masih dirawat, 956 orang isolasi mandiri, dan 189 tenaga kesehatan positif Covid-19. Satu di antara nakes itu meninggal.

Seperti dikutip Antara, Sabtu (4/6/2021), Moeldoko bilang, peningkatan kasus di Kudus menjadikan kabupaten itu sebagai satu-satunya zona merah Covid-19 di Pulau Jawa dalam sepekan terakhir.

Hasil monitoring Kantor Staf Presiden (KSP) atas perkembangan pandemi di seluruh daerah pascalibur lebaran, kata Moeldoko, maraknya kerumunan di kawasan wisata, juga banyaknya hajatan, masyarakat memang tidak cukup disiplin menjaga protokol kesehatan.

Ganjar Pranowo Gubernur Jawa Tengah kepada Radio Suara Surabaya mengatakan, peningkatan kasus dan kematian akibat Covid-19 di Kudus sebenarnya sudah pernah terjadi. Tapi kali ini sangat tinggi. Apalagi, situasi itu disertai kepanikan luar biasa.

“Sempat terjadi kepanikan. Karena informasi yang beredar, rumah sakit penuh. Sebenarnya, kalau satu rumah sakit penuh, kan, masih ada rumah sakit yang lain. Jadi ini pola manajemen harus diperbaiki. Chanelling antar-rumah sakit harus diperbaiki,” ujarnya.

Ganjar mengakui, tingkat keterisian tempat tidur di rumah sakit di beberapa daerah di Jawa Tengah mengalami peningkatan sedikit demi sedikit belakangan ini. Tapi di Kabupaten Kudus, tempat tidur di rumah sakit itu sudah 100 persen terisi.

“Kami sudah meminta penambahan tempat tidur, menambah tempat isolasi, kami minta bantuan dari daerah sekitarnya. Semarang juga membantu. Rumah sakit milik provinsi juga kami minta memberikan dukungan,” ujarnya.

Dia meminta Bupati Kudus mengecek, apa lagi yang kurang? Karena sebagian tenaga kesehatan baik dokter dan perawat juga terpapar Covid-19, Pemprov Jateng menyuplai bantuan tenaga perawat dan dokter tambahan ke sana.

“Kami pinjam dari rumah sakit di Solo, Semarang, lalu ada bantuan dari teman-teman IDI, persatuan perawat, perguruan tinggi. Sebenarnya kalau semua menyiapkan dalam kondisi seperti ini, bisa dilihat dari perkembangan harian. Mungkin selain tenaga medis perlu peralatan medis dan lain lain. Bisa ditambah sedikit demi sedikit. Tapi karena kemarin panik. Sampai pemakaman juga jadi isu. Akhirnya kami kirimkan semua ke sana. Dari Kemnekes, TNI/Polri, juga dari BNPB kemarin juga sudah datang. Datang semuanya,” katanya.

Ganjar kembali berharap, masyarakat tidak berhenti menjalankan protokol kesehatan. Turunnya TNI dan Polri menurutnya juga menjadi cara yang cukup bagus. Begitu mendapat ada kegiatan kerumunan masyarakat, langsung disetop. “Kalau ada pernikahan, sudah harus dibubarkan saat itu juga,” katanya.

Kebijakan seiring peningkatan kasus di Kudus juga menjadikan tempat-tempat wisata ziarah ditutup total. Bus yang ketahuan mengangkut peziarah langsung diputar balik. Kebijakan itu sampai sekarang masih berlaku.

“Sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan secara kualitatif. Karena kita harus melihat semua situasi yang terjadi. Testing, jumlah pasien, bor, dan lain-lain. Kami juga mendorong percepatan pelaksanaan vaksinasi orang rentan seperti lansia,” ujarnya.

Ganjar bilang, situasi di Kudus itu terjadi kemungkinan karena penerapan testing yang kurang.

“Testingnya yang agak lemes. Tidak terlalu banyak. Seharusnya, kalau semakin banyak, kita bisa tahu kondisi riilnya seperti apa. Saya lihat disiplin masyarakat memang menurun. Ketiga, sebenarnya kami sudah memperkirakan, setelah libur panjang selalu ada peningkatan kasus Covid-19,” katanya.

Secara riil, di beberapa tempat di Kabupaten Kudus, aktivitas berjalan seperti biasa. Tapi untuk tempat-tempat berpotens keramaian, pemkab setempat sudah sudah menutpnya.

“Hari ini Pak Bpati mendorong masyarakat agar dua hari di rumah saja. Tanggal 5 dan 6 Juni ini,” katanya.

Ganjar juga bilang. Sebenarnya peningkatan kasus Covid-19 juga terjadi di sejumlah daerah lainnya. Ada delapan kabupaten/kota lain yang sedang dalam pengawasan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

“Termasuk di Sragen, kemudian Brebes, kemudian di Solo Raya itu ada Wonogiri, Karang Anyar, Sragen tadi, juga Cilacap, Banyumas dan Tegal. Itu daerah yang sempat mengalami peningkatan,” ujarnya.

Ganjar mengakui, setelah lebaran kemarin, memang tidak ada pembatasan warga yang masuk dari provinsi lain. Baik dari Jawa Barat maupun Jawa Timur.

“Sebenarnya, dibandingkan tahun lalu, (peningkatan pascalebaran) masih lebih kecil tahun ini. Cuman kalau lihat tren peningkatan maupun potensi transmisinya, baik lokal kabupaten/kota maupun dari tempat lain, kita harus lebih siaga. Enggak bisa enggak itu,” katanya.

Dia pun meminta bantuan masyarakat Jawa Tengah. Dia mengakui, dalam posisi ini pemerintah butuh bantuan. “Sebenarnya kerja pemeritnah tidak efektif kalau tidak didukung masyarakat. Kami butuh bantuan masyarakat,” katanya.

Dia mengakui juga, sebenarnya mengucapkan 5M itu gampang, tapi “ngelakoninya sing angel (melaksanakannya yang susah),” katanya.

Sebab itulah dia mengingatkan masyarakat dengan menunjukkan berbagai banyak kasus melalui media sosial. Salah satunya, video tentang bagaimana seorang Kepala Desa di Kudus naik pikap teriak-teriak memohon-mohon masyarakat menerapakan protokol kesehatan.

Berkaitan situasi yang sedang terjadi di Kudus, Moeldoko Kepala Staf Kepresidenan memastikan pemerintah sigap mengatasi perkembangan yang ada. Karena Presiden telah memerintahkan Menteri, juga Satgas Covid-19 mengantisipasi kondisi di Kudus.

Kementerian kesehatan juga telah memeriksa sampel Covid-19 di wilayah Kabupaten Kudus untuk kemudian mendeteksi apakah penularannya akibat virus mutasi baru.(den)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Truk Muat BBM Terbakar di Tol Pandaan

Truk Terguling di Lawang Malang

Truk Terguling Menimpa Taksi di Medaeng

Surabaya
Jumat, 22 Oktober 2021
34o
Kurs