Jumat, 7 Oktober 2022

Jelang Waisak, Wihara Buddhayana Gelar Upacara Mandi Buddha

Laporan oleh Anton Kusnanto
Bagikan
Vihara Buddhayana menggelar upacara Mandi Budha pada Minggu (23/5/2021). Satu persatu umat menyiramkan air suci kepada patung bayi Siddharta sebagai simbol membersihkan kotoran batin yang ada di dalam diri. Foto: Anton suarasurabaya.net

Menjelang perayaan hari raya Waisak Rabu (26/5/2021) besok, Wihara Buddhayana Surabaya mengelar upacara Mandi Buddha.

Mandi Buddha adalah tradisi rutin umat Buddha dalam menyambut Hari Raya Waisak setiap tahunnya.

Umat membersihkan dan menyiram patung bayi Sidharta sebagai simbol membersihkan kotoran batin dalam diri masing-masing.

Yuliati Wibowo Dewan Pembina Wihara Buddhayana bilang, setelah batin bersih benih-benih ke-Buddha-an bisa tumbuh dan berkembang.

“Sementara patung bayi Siddharta sebagai simbol waisak ini memperingati tiga peristiwa, yaitu kelahiran pangeran Siddharta, kemudian pencapaian penerangan sempurna sebagai sang Buddha, dan Parinibbana atau penyebaran ajaran-ajaran Budha,” kata Yuliati.

Upacara ini berlangsung tertib dengan menerapkan protokol kesehatan. Sebelum masuk ruang utama, umat melewati bilik disinfektan dan petugas memastikan masker tetap terpakai selama upacara.

Pihak panitia juga membatasi kapasitas umat yang ikut maksimal hanya 100 orang dari kapasitas normal wihara yang bisa menampung 1.000 orang.

Biksu memimpin doa dalam upacara Mandi Budha yang diadakan di Vihara Buddhayana, pada Minggu (23/5/2021). Foto: Anton suarasurabaya.net

Setelah biksu memimpin doa, satu persatu umat menyiramkan air suci kepada patung Buddha kecil sembari melantunkan alunan doa.

Antrean penyiraman air suci ke patung Buddha kecil itu berjalan tertib sampai seluruh umat dapat kesempatan memandikan Buddha.

Yuliati menerangkan, perayaan hari raya Waisak tahun ini mengambil tema besar ‘Eling dan Waspada Membangun Kepedulian Sosial’.

Ketua Wanita Buddhist Indonesia Jawa Timur itu mengartikan, semua orang harus menyadari, selain bertoleransi, umat juga harus mempunyai rasa peduli kepada sesama.

Tidak perlu memandang suku, ras juga agama, karena kita satu bangsa, Bangsa Indonesia.

“Umat harus bisa menjaga kepedulian sosial itu, terutama pada masa-masa sekarang, supaya bisa bersama-sama lepas dari badai pandemi,” tegasnya. (ton/frh)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Mobil Mogok dan Nutup Sebagian Jalur Layang Mayangkara

Truk Terguling di Raya Kedamean Gresik

Truk Mogok di Mastrip arah Kedurus

Mobil Terbalik di Merr Surabaya

Surabaya
Jumat, 7 Oktober 2022
31o
Kurs