Jumat, 7 Oktober 2022

Kearifan Lokal Turun Temurun tentang Menghargai Pangan Sudah Mulai Luntur

Laporan oleh Denza Perdana
Bagikan
Ilustrasi makan bersama. Foto: sariwangi

Istoto Suharyoto Praktisi Choaching dan Pendongeng menyatakan, wisdom atau kearifan lokal turun-temurun dari orang tua tentang menghargai makanan sudah mulai luntur.

“Saya ini anak petani, saya diajari cara menghargai suatu makanan lewat cerita bagaimana proses makanan itu bisa sampai di piring saya. Dari proses menanam, memanen, menjualkan hingga kita beli dan dimasak,” katanya saat mengudara di Suara Surabaya, Sabtu (16/10/2021).

Menurutnya, makanan adalah barang yang sangat berharga, yang merupakan buah hasil dari bumi.

“Satu biji padi yang ditanam di tanah yang dalam hingga menjadi padi adalah hasil dari energi bumi, orang sekarang karena tren diet malah menyisakan makanan,” kata Istoto.

Dia juga menyoroti kebiasaan orang Indonesia yang masih menyisakan makanan saat membeli di restoran atau rumah makan.

“Sedangkan di eropa kalau makan di restoran tidak habis akan dituding merampok makanan orang,” ujarnya.

Dia menyoroti saat ini budaya orang tua saat menasehati anak terkait menghargai makanan sudah mulai luntur. Orang-orang menjadi lebih individual karena sibuk dengan TV dan gawainya.

“Dulu orang tua berkomunikasi dengan anak melalui meja makan, saat ini orang-orang lebih memilih makan sambil menonton di depan TV atau sambil melihat Netflix di HP-nya,” katanya.

Alhasil, edukasi tentang menghargai makanan yang seharusnya terjadi di meja makan, sekarang mulai jarang dilakukan.

Gap budaya ini yang melunturkan nilai-nilai kesadaran akan pangan. Menurut Istoto, seiring berjalannya waktu memang kondisi ini sulit untuk dihindari.

Ia juga menyarankan kepada para orang tua, bila ingin memberi edukasi kepada anak jangan melalui cerita-cerita pamali, namun dengan sesuatu yang logis.

Bisa diceritakan mulai dari proses makanan dibuat, diolah, dan energi bumi yang dihabiskan untuk memasak agar bisa dimakan.

Karena saat ini orang tua kesulitan menurunkan budaya lokal, menurut Istoto, seharusnya lembaga pemerintah dan organisasi terkait mulai berperan.

“kalau dari pemerintah bisa dari Bidang Ketahanan Pangan dan organisasi yang relevan, gerakan sosialisasi tentang penyadaran menghargai makanan sangat diperlukan saat ini,” ujar Istoto.

Selain upaya untuk menghemat energi dan meminimalisir kerugian Negara, Peringatan Hari Pangan juga momentum untuk menghargai siapa saja yang terlibat didalam proses pembuatan bahan makanan itu. Dari petani sampai peternak.(wld/den)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Mobil Mogok dan Nutup Sebagian Jalur Layang Mayangkara

Truk Terguling di Raya Kedamean Gresik

Truk Mogok di Mastrip arah Kedurus

Mobil Terbalik di Merr Surabaya

Surabaya
Jumat, 7 Oktober 2022
31o
Kurs