Rabu, 6 Juli 2022

Tiga Langkah Sederhana dari Khofifah untuk Perkuat Ketahanan Pangan Jatim

Laporan oleh Denza Perdana
Bagikan
Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Jatim peringati Hari Pangan Sedunia pada Sabtu (16/10/2021). Foto: Humas Pemprov Jatim.

Pada Hari Pangan Sedunia, 16 Oktober ini, Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jawa Timur mengajak masyarakat berperan aktif mewujudkan ketahanan pangan di Jatim dengan tiga langkah sederhana.

Pertama, dengan cara memilih makanan yang sehat, lokal, dan musiman. Menurut Khofifah, makanan sehat yang dimaksud adalah makanan yang bernutrisi cukup bagi individu untuk bergerak aktif dan dapat menghindari risiko penyakit.

“Alhamdullilah, di Indonesia umumnya dan di Jawa Timur khususnya punya kekayaan sumber daya alam dengan beragam jenis pangan melimpah,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (16/10/2021).

Di samping itu, kata Khofifah, langkah sederhana yang perlu dilakukan adalah dengan mendorong program diversifikasi pangan.

Cara itu dilakukan untuk mengembangkan potensi sumber pangan lokal, dan mengajak masyarakat memahami bahwa sumber karbohidrat itu sangat beragam. Tidak hanya nasi.

Ada umbi-umbian, sukun, jagung, dan lainnya yang nilai gizinya setara dengan beras ataupun tepung terigu.

“Cara tersebut juga sebagai bagian untuk membantu masyarakat dalam mengakses makanan sehat,” terangnya.

Langkah kedua, kata Khofifah, adalah berkebun atau bercocok tanam di lingkungan rumah sendiri. Cara itu menurutnya sangat efektif.

Khofifah bilang, ketahanan pangan bisa diraih jika masyarakat memulainya dari level yang terkecil, yaitu membangun ketahanan pangan keluarga.

“Diharapkan setiap rumah tangga bisa mengoptimalisasi sumber daya yang dimiliki, termasuk menyediakan makanan bagi keluarga dari pekarangan sendiri,” katanya.

Lalu ketiga, masyarakat diharapkan dapat lebih menghargai makanan dan lingkungan dengan mengurangi membuang makanan. Termasuk mengurangi sampah makanan.

Tindakan itu menurutnya hal yang cukup sederhana, tetapi memiliki dampak yang sangat besar.

“Food waste, menurut FAO, mengacu kepada makanan yang dibuang, padahal produk makanan atau produk makanan alternatif tersebut masih aman dan bergizi untuk dikonsumsi. Misal, makanan yang tidak kita habiskan karena masalah rasa atau karena terlalu banyak,” kata Khofifah.

Menurut data yang ada, Indonesia merupakan produsen sampah makanan terbesar ke-2 di dunia. Tiga belas juta ton makanan terbuang setara kebutuhan pangan 11 persen orang Indonesia atau setara kebutuhan 28 juta jiwa.

Sementara menurut data Bappenas, perkiraan food waste Indonesia berkisar pada angka 23 juta-48 juta ton per tahun. Sedangkan makanan konsumsi yang terbuang di Indonesia bisa mencapai 115-184 kg per orang dalam setahun.(wld/den)

Berita Terkait

Surabaya
Rabu, 6 Juli 2022
24o
Kurs