Sabtu, 28 Mei 2022

“Matahari Memutih” Berpotensi Terjadi di Seluruh Wilayah Indonesia

Laporan oleh Ika Suryani Syarief
Bagikan
Ilustrasi. Foto: Pixabay

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) mengatakan fenomena surya “pethak” atau matahari tampak memutih berpotensi terjadi di seluruh wilayah Indonesia.

“Setiap wilayah di seluruh Indonesia berpotensi mengalami surya ‘pethak’,” kata Andi Pangerang peneliti di Pusat Sains dan Antariksa Lapan seperti dilaporkan Antara, Jumat (30/7/2021).

Dia menjelaskan, fenomena surya “pethak” adalah saat matahari merona putih selama siang hari sejak terbit hingga terbenam.

Menurut dia jika dikaitkan dengan musim, surya “pethak” umumnya hanya terjadi di musim-musim penghujan, di mana saat itu penguapan air cenderung tinggi sehingga kabut awan lebih mudah terbentuk.

“Surya ‘pethak’ hanya bisa terjadi jika kualitas udara di lokasi pengamatan kurang baik, dan dari sisi meteorologis, lokasi itu tertutup kabut awan, sehingga penghamburan (scattering) tidak sekuat ketika langit bersih dan cerah,” katanya.

Penyebab yang memungkinkan surya “pethak” terjadi, kata dia, letusan gunung berapi dan perubahan sirkulasi air laut yang dapat memengaruhi penguapan dan pembentukan awan.

Surya “pethak” bisa dimaknai alam sunya ruri atau siang hari yang temaram seperti malam. Siang hari yang dimaksud dihitung sejak matahari terbit sampai matahari terbenam.

Menurut dia sinar matahari yang biasa kemerahan ketika terbit dan terbenam akan memutih, sedangkan ketika matahari meninggi, sinar matahari tidak begitu terik karena terhalang kabut awan.

Kejadian itu bisa berlangsung selama tujuh hingga paling lama 40 hari.

Efek dari surya “pethak” bisa membuat suhu permukaan bumi menjadi lebih dingin, sehingga tumbuhan tidak dapat tumbuh dengan optimal dan manusia akan mudah menggigil.(ant/iss/den)

Berita Terkait

Surabaya
Sabtu, 28 Mei 2022
31o
Kurs