Sabtu, 25 Juni 2022

Pakar Geologi Minta Masyarakat di Lereng Gunung Wilis Antisipasi Longsor Susulan

Laporan oleh Agustina Suminar
Bagikan
Tanah longsor di Dusun Selopuro, Desa Ngetos, Kabupaten Nganjuk, Senin (15/2/2021). Foto: Edi suwito (Apfal)

Tanah longsor yang terjadi di Desa Selopuro, Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur pada Minggu (14/2/2021) kemarin menyebabkan 8 orang meninggal dunia dan 11 lainnya belum ditemukan.

Amien Widodo Pakar Geologi dari Pusat Studi Kebumian, Bencana dan Perubahan Iklim (PSKBPI) ITS Surabaya mengatakan, longsor yang terjadi di Nganjuk harus diantisipasi oleh warga di 5 kabupaten lainnya yang tinggal di lereng Gunung Wilis. Lima kabupaten tersebut antara lain Kediri, Madiun, Ponorogo, Tulungagung dan Trenggalek.

Menurutnya, Gunung Wilis merupakan gunung berapi yang sudah tidak aktif lagi yang tidak mengeluarkan material baru. Sehingga tanah di gunung tersebut menjadi lapuk dan rawan longsor jika ada pemicunya.

“Gung Wilis itu kan gunung berapi yang tidak aktif lagi, tidak mengeluarkan material baru, maka lapuk jadi tanah gunung itu sendiri. Lereng gunung yang meliputi 5 kabupaten tadi (harus antisipasi). Jadi kalau ada yang longsor satu mestinya berikutnya terjadi longsor yang sama (longsor susulan),” kata Amien kepada Radio Suara Surabaya, Senin (15/2/2021).

Ia menambahkan, beberapa daerah tersebut khususnya seperti Kare (Madiun), Gedangan (Kediri), Ngebel dan Pulung (Ponorogo).

Menurutnya, jika masyarakat di lereng gunung jika mengetahui tanah sudah mulai bergerak, ambles, retak, harus dilaporkan nke pihak setempat. Sehingga mereka bisa direlokasi ke tempat yang lebih aman.

“Khususnya jika (tanah) retaknya di atas, ada desa lalu atasnya retak, ini harus diantisipasi,” tambahnya.

Berdasarkan analisa BPBD Jawa Timur, wilayah Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur yang berada tepat di bawah tebing memang rawan longsor sehingga tidak layak untuk menjadi pemukiman warga.

Sebelumnya, sejak dua tahun lalu, Pemerintah Kabupaten Nganjuk sudah mengupayakan evakuasi dan relokasi warga Dusun Selopuro karena tanah di sana mulai retak-retak. Kalau ada pemicunya maka akan terjadi longsor.

“Dua tahun yang lalu sempat mengalami keretakan. Akan tetapi warga tidak mau kami evakuasi. Kami tawarkan relokasi juga tidak mau. Akhirnya kita bantu dengan kita tutup retakan-retakan tanah itu,” kata Mokhamad Yasin Sekretaris Daerah Kabupaten Nganjuk.(tin/ipg)

Berita Terkait

Surabaya
Sabtu, 25 Juni 2022
24o
Kurs