Rabu, 20 Oktober 2021

PKBM At Taubah dan SRPB Jatim Gelar Pelatihan 50 Operator Ambulans

Laporan oleh Agustina Suminar
Bagikan
Pelatihan operator ambulan diadakan oleh Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) At Taubah. Pelatihan Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) terhadap operator ambulans ini diadakan di Kampus PKBM At Taubah di Glagah, Rogojampi, Banyuwangi, Ahad (14/3/2021). Foto: Istimewa

Pelatihan operator ambulan diadakan oleh Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) At Taubah. Pelatihan Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) terhadap operator ambulans ini diadakan di Kampus PKBM At Taubah di Glagah, Rogojampi, Banyuwangi, Ahad (14/3/2021).

Kegiatan ini juga merupakan salah satu agenda Sekber Relawan Penanggulangan Bencana (SRPB) Wangi dengan menggandeng SRPB Jatim.

“Peserta pelatihan ini berasal dari delapan kecamatan di Banyuwangi,” kata Kepala PKBM At Taubah yang juga Ketua SRPB Wangi Sunaryo di awal acara.

Menurut Sunaryo, para driver ambulan perlu mendapat pelatihan agar bisa menangani pasien dengan baik dan benar di lapangan.

Sementara, Ponirin Hadi Kasi Kedaruratan BPBD Banyuwangi dalam sambutannya mengatakan, pada prinsipnya manusia tidak bisa menghalangi bencana. “Karena sudah siklusnya. Tugas kita adalah mengurangi atau mitigasi bencana,” katanya berdasarkan rilis yang diterima suarasurabaya.net.

Oleh karena itu, Ponirin menyebut para driver ambulans ini, sangat penting. Pasalnya, peran mereka sangat dibutuhkan saat bencana.

Sementara, Dian Harmuningsih Koordinator SRPB Jatim mengatakan, para driver ambulans ini adalah relawan. Oleh karena itu, pengetahuan, ketrampilan, dan etika adalah prinsip yang harus dipegang relawan. Termasuk para driver ambulans.

“Para operator ambulan juga harus mandiri. Sehingga tahu bagaimana mengatasi korban dalam keadaan darurat. Pelatihan ini agar Anda semua menjadi profesional dan harus sinergi dengan semua pihak yang berkepentingan,” tukas Dian.

Sedangkan narasumber Dian Rahmadin mengatakan, sebagai driver ambulans harus tahu wilayah dan jangan sampai kesasar. “Kalau merujuk ke rumah sakit jangan sampai meninggal di jalan. Harus ada yang tahu navigasi,” jelasnya di hadapan para peserta.

Dian Rahmadin juga mengungkapkan, kelengkapan alat harus ada. Sering kali ambulan tidak ada oksigen. Hanya bed-nya saja yang dijumpai. “Oleh karena itu, harus ada standar minimal supaya pasien tertolong dan tidak meninggal di perjalanan,” tukasnya.(tin)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Truk Terguling di Lawang Malang

Truk Terguling Menimpa Taksi di Medaeng

Surabaya
Rabu, 20 Oktober 2021
27o
Kurs