Jumat, 3 Desember 2021

Siap Lindungi Warganya, Sejumlah RW di Surabaya Siapkan Ruang Isolasi Mandiri

Laporan oleh Manda Roosa
Bagikan
Tempat Isoman di RW 5 Kedung Asem Indah Kelurahan Kedung Baruk, Kecamatan Rungkut, Surabaya. Foto : Humas Pemkot Surabaya

Sejumlah RW di Kota Surabaya sudah menyiapkan ruang isolasi mandiri bagi warganya. Ruang isolasi mandiri yang terletak di lingkungan mereka biasanya digagas dengan dasar gotong-royong demi melindungi dan menyelamatkan warga. Sehingga warga yang terpapar Covid-19 tidak merasa dikucilkan dan merasa dilindungi oleh warganya sendiri.

Beberapa RW itu salah satunya terdapat di RW 8 Perum Babatan Pratama, Kelurahan Babatan, Kecamatan Wiyung.

Di RW ini, ada sebuah bangunan yang dijadikan posko Kampung Tangguh Wani Jogo Suroboyo untuk tempat isolasi warga sekitar yang terpapar Covid-19.

“Tempat isolasi ini sudah sejak tahun lalu, dan sudah ada tiga pasien yang dirawat di tempat ini, termasuk salah satu warga yang sampai saat ini masih menjalani isolasi di tempat ini. Itu ada salah satu warga kami yang menjalani isolasi di dalam, sudah sekitar 10 harian,” kata Riyan Suhariyadi Ketua RW 8 ketika meninjau tempat isolasi itu, Selasa (27/7/2021).

Dia mengaku sengaja menjadikan posko itu menjadi tempat isolasi karena akhir-akhir ini rumah sakit banyak yang penuh dan rumah warga itu idak memungkinkan untuk dijadikan tempat isolasi. Selain itu, dia juga tidak ingin mengucilkan warganya yang terpapar Covid-19.

“Kami tidak ingin warga yang terpapar itu merasa dikucilkan dan merasa dibuang hanya karena terpapar Covid-19. Bagi kami, siapapun bisa terkena virus ini, artinya ini bukan aib, sehingga kami bersama-sama merawat warga itu. Bahkan, kami semua memberikan motivasi dan semangat kepada warga yang terpapar itu, dengan cara itu kami berharap imunnya membaik dan segera pulih,” tegasnya.

Riyan juga menjelaskan, warga yang menjalani isolasi di posko tersebut dikontrol secara berkala oleh dokter yang kebetulan berasal dari warga sendiri dan bersedia menjadi relawan. Bahkan,warga juga membantu penyediaan makanan melalui urunan atau donasi. Donasi itu ditampung secara khusus melalui nomor rekening atas nama RW 08 Pratama Peduli. Laporan keuangan dilakukan secara transparan dan diumumkan ke warga.

“Nah, dari donasi yang masuk itu kami belikan makanan tiga kali sehari untuk membantu warga yang sedang menjalani isolasi mandiri di posko tersebut. Bahkan, donasi yang terkumpul ini juga kami bagikan dalam bentuk sembako kepada warga sekitar yang membutuhkan, seperti warga yang kena PHK dan sebagainya, setidaknya ada 54 Kepala Keluarga (KK) yang sudah kami bantu,” ujarnya.

Oleh karena itu, dia mengaku sangat mendukung apabila ada terobosan dari Wali Kota yang akan membuat ruang isolasi mandiri atau rumah sehat di tingkat kelurahan. Sebab, rumah sehat itu pasti akan sangat membantu perawatan warga yang membutuhkan tempat isolasi.

“Mari kita dukung program itu karena itu sangat bermanfaat bagi warga, kita di RW 08 sudah membuktikan sendiri manfaatnya, karena menangani Covid-19 ini memang perlu gotong royong,” kata Riyan.

RW 5 Wisma Kedung Asem Indah Kelurahan Kedung Baruk Kecamatan Rungkut Surabaya juga melakukan hal yang sama. Di RW ini, Gedung Balai RW dijadikan tempat isolasi mandiri bagi warga yang terpapar Covid-19. Bahkan, di tempat tersebut juga sudah disiapkan tabung dan peralatan kesehatan lainnya untuk merawat warga.

Didik Edy Susilo Ketua RW 5 mengatakan, ruang isolasi ini sudah dipersiapkan sejak awal dibentuknya Kampung Tangguh Wani Jogo Suroboyo. Menurutnya, tempat isolasi ini memang harus dipersiapkan sejak dini karena khawatir ada peningkatan kasus Covid-19 dan rumah sakit di Surabaya banyak yang penuh.

“Kalau seperti itu, maka bisa dirawat sementara di tempat isolasi kami yang sudah kita persiapkan. Apalagi kita sudah siapkan oksigen dan peralatan medis lainnya. Jadi, sudah siap untuk dijadikan tempat isolasi,” kata Didik saat meninjau ruang isolasi itu.

Ia juga memastikan bahwa dalam menangani Covid-19 ini dibutuhkan kegotong-royongan dan keguyuban warga. Ia juga bersyukur karena warganya sangat guyub dalam menghadapi berbagai persoalan di wilayahnya, termasuk dalam menangani Covid-19 ini.

“Bahkan, kalau ada warga yang terpapar, kami langsung laporkan ke puskesmas dan langsung dibawa untuk dirawat. Kalau ada yang isolasi juga dibantu makannya oleh warga, jadi benar-benar gotong-royong mengatasi ini,” tegasnya.

Dia menilai, bila ada warga yang menolak pembangunan rumah sehat atau tempat isolasi di kelurahan tidak boleh egois demi keselamatan bersama.

“Kalau masih ada penolakan, berarti warga itu belum paham dan perlu disadarkan pemikirannya. Memang kita tidak boleh mengedepankan egoisme dalam menghadapi Covid-19 ini, yang harus diutamakan adalah keselamatan warga kita. Jadi, kita mengatasi Covid-19 ini dengan guyub dan gotong- royong,” ujar Didik. (man/dfn/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Suasana Unjuk Rasa di Depan Taman Pelangi Surabaya

Suasana Unjuk Rasa Menuju Kantor Bupati Gresik

Suasana Unjuk Rasa Melewati Basra

Surabaya
Jumat, 3 Desember 2021
26o
Kurs