Jumat, 3 Desember 2021

Stok Plasma Konvalesen Minim, Influencer Perlu Terlibat Memotivasi Penyintas

Laporan oleh Denza Perdana
Bagikan
Ilustrasi. Petugas donor plasma konvalesen sudah memakai baju hazmat di PMI Kota Surabaya. Foto: Totok/dok. suarasurabaya.net

Radian Jadid Ketua Pelaksana Program Pendampingan Rumah Sakit Darurat Lapangan (RSDL) Indrapura Surabaya mengajak penyintas Covid-19 mendonorkan plasma konvalesen.

Dia mengakui, sampai saat ini ada kendala bagaimana mendorong dan memotiviasi para penyintas agar bersedia mendonorkan plasma konvalesennya bagi pasien lain yang membutuhkan.

Untuk itu, Radian berencana menggandeng influencer untuk mengajak para penyintas Covid-19 lebih termotivasi untuk berbagi kebaikan bagi pasien lain, terutama yang mengalami gejala berat.

“Bisa jadi influencer atau pegiat medsos, karena sampai sekarang hanya ada 10 persen yang mau donor. Padahal setiap hari banyak yang butuh. Kami konsentrasi betul soal ini,” katanya, Minggu (3/1/2021).

Radian bilang, edukasi masyarakat, terutama penyintas Covid-19 soal donor plasma konvalesen sangat penting. Apalagi metode pengobatan itu sangat efektif sementara vaksin Covid-19 belum terdistribusi.

“Selama ini saya kan relawan di RSDL Indrapura, nah hampir semuanya setiap hari dapat permintaan plasma darah itu. Jumlahnya hari ini puluhan sampai ratusan pasien yang membutuhkan,” kata dia.

Kendalanya, sejauh ini stok plasma konvalesen bisa dikatakan minim. Padahal sejumlah langkah sudah dia lakukan. Salah satunya dengan menggelar sharing session bersama penyintas Covid-19 dan PMI.

“Kendalanya selalu ketersediaan. Habis terus, makanya kemarin kami undang semua (penyintas dan narasumber). Misalnya di PMI, itu kan kapasitasnya terbatas dan ada juga untuk penelitian,” ujarnya.

Memang tidak semua penyintas Covid-19 bisa mendonorkan plasmanya. Ada kriteria yang perlu dipenuhi agar plasma konvalesen itu bermanfaat. Di antaranya usia penyintas yang mendonorkan plasmanya.

Pendonor konvalesen haruslah berusia antara 17 sampai 60 tahun. Donor baru akan dilakukan setelah 14 sejak tes usap terakhir yang mereka jalani dinyatakan negatif Covid-19.

Selain itu, pendonor harus memiliki berat badan minimal 55 kilogram, tidak pernah menerima transfusi darah, tidak punya penyakit bawaan, dan diutamakan laki-laki dan perempuan yang belum punya anak.

Mekanismenya, petugas akan menagmbil sampel darah pendonor untuk proses screening selama sehari. Kalau lolos, donor plasma konvalesen bisa dilakukan di hari berikutnya.

Pendonor bisa kembali melakukan donor plasma konvalesen dua pekan setelah donor pertama, syaratnya bila masih ada cukup imun anti Covid-19 di tubuh pendonor yang bermanfaat bagi pasien lain.

Dokter Agi Herlina dari Unit Transfusi Darah RSUD dr. Soetomo menyampaikan hal yang sama. Edukasi bagi para penyintas Covid-19 sejak dini penting dilakukan agar mereka siap jadi pendonor atas kemauan sendiri.

“Hal ini sangat penting sebagai upaya memberi pertolongan bagi para penderita Covid-19 kategori sedang dan berat. Keberadaan para penyintas Covid-19 ini sangat berarti,” kata dia.

Dia juga menginformasikan, RSUD dr. Soetomo dapat melakukan proses donor plasma konvalesen dengan syarat yang lebih ringan dan leluasa dibandingkan dengan syarat di PMI.

Salah satu yang membedakan, donor konvalesen dari pendonor wanita yang sudah menikah masih bisa diterima di UTD RSUD dr. Soetomo. (den/ang/iss)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Suasana Unjuk Rasa di Depan Taman Pelangi Surabaya

Suasana Unjuk Rasa Menuju Kantor Bupati Gresik

Suasana Unjuk Rasa Melewati Basra

Surabaya
Jumat, 3 Desember 2021
26o
Kurs