Sabtu, 20 Agustus 2022

Festival Akustik Piala Wali Kota Surabaya 2022 Ajak Generasi Muda Cinta Indonesia

Laporan oleh Meilita Elaine
Bagikan
Panitia seksi acara Festival Akustik Piala Wali Kota Surabaya 2022 saat menyanyikan contoh lagu-lagu nasional dan daerah yang akan dilombakan, Rabu (8/6/2022). Foto: Meilita suarasurabaya.net

Mulai hilangnya lagu-lagu nasional dan daerah di kalangan generasi muda, jadi salah satu latar belakang digelarnya Festival Akustik Piala Wali Kota Surabaya 2022, untuk menumbuhkan kembali semangat cinta Tanah Air lewat musik.

Masih dalam momen Hari Jadi Kota Surabaya ke-729 serta memperingati Bulan Bung Karno, gelaran Festival Akustik Piala Wali Kota Surabaya 2022 akan dilaksanakan pada 25 dan 26 Juni 2022 oleh Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, bekerja sama dengan beberapa organisasi di antaranya Taruna Merah Putih (TMP) Surabaya, Relawan Perjuangan Demokrasi (Repdem), dan BDH Peduli Surabaya.

Tarmuji, Ketua Panitia Festival Akustik Piala Wali Kota Surabaya 2022 mengatakan, ada tiga hal yang ingin dicapai dari gelaran ini. Selain memberi wadah positif bagi genera muda untuk brekreasi, ingin menumbuhkan sikap cinta tanah air melalui lagu-lagu daerah dan nasional, serta membangkitkan ekonomi.

“Jadi nanti ada pameran UMKM juga untuk membangkitkan ekonomi masyarakat setelah pandemi,” kata Tarmuji

Lomba ini ditujukan kepada generasi muda dengan 2 kategori. Pertama, pelajar SMP dan SMA. Kedua, mahasiswa dan umum dengan usia maksimal 25 tahun.

“Sejauh ini sudah siap, mulai tanggal 10 Juni nanti pendaftaran dibuka sampai 12 Juni secara gratis. Poster dan lain-lain sudah disebar baik secara offline maupun sosial media,” ujarnya lagi.

Press Conference Festival Akustik Piala Wali Kota 2022 dalam rangka Hari Jadi Kota Surabaya ke-729 serta memperingati bulan Bung Karno, Rabu (8/6/2022). Foto: Meilita suarasurabaya.net

Mendukung penuh gelaran ini, Karolin Kahumas Untag Surabaya mengakui bahwa lagu-lagu daerah dan nasional di kalangan mahasiswa sudah mulai luntur.

“Saya sempat mencoba meminta mahasiswa menyanyikan lagu-lagu anak-anak ternyata kesusahan. Saat dikroscek, dulu masa kecilnya jarang mendengarkan lagu anak tapi malah lagu-lagu dewasa yang dinyanyikan anak-anak,” kata Karolin.

Oleh karena itulah, gelaran ini dipilih mengusung musik yang dinilai paling universal dan bisa diterima oleh semua kalangan.

“Bagian penting dari hidup kita, tubuh kita ada detak jantung, napas, dan lain-lain. Musik itu universal bisa diterima banyak orang. Jadi harapannya mahasiswa tidak lagi lupa lagu-lagu asli terutama anak-anak. Sekaligus bisa mengembalikan lagu anak-anak melalui teman-teman mahasiswa termasuk lagu daerah,” tambah Karolin.

Dalam tahapan seleksi, peserta hanya perlu mengumpulkan video penanpilan berdurasi maksimal 5 menit menggunakan alat musik standar akustik. Membawakan dua pilihan lagu wajib yaitu Cinta Indonesia atau Indonesia Perkasa ciptaan Guruh Soekarno Putra.

Pengumuman lolos sendiri, akan dilaksanakan pada 16 Juni. Selanjutnya, tim terpilih yang terdiri maksimal 5 orang itu, akan tampil pada tahap semifinal 25 Juni membawakan 15 pilihan lagu daerah, untuk selanjutnya para pemenang tampil kembali saat final, 26 Juni. (lta/bil/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Langit Sore di Grand Pakuwon

Suatu Sore di Sembayat Gresik

Sore yang Macet di Raya Nginden

Peserta Pawai Taaruf YPM Sidoarjo di Sepanjang

Surabaya
Sabtu, 20 Agustus 2022
29o
Kurs