Senin, 30 Januari 2023

Pakar dari UK Menyebutkan Best Practice Pendidikan Inklusi di Dunia Ada di UNESA

Laporan oleh Dhafintya Noorca
Bagikan
Profesor Kieron Sheehy pakar pendidikan inklusi dari The Open University, United Kingdom (UK), Rabu (19 Oktober 2022). Foto: Humas Unesa

Profesor Kieron Sheehy pakar pendidikan inklusi dari The Open University, United Kingdom (UK) sekaligus peneliti pendidikan inklusi terkemuka di dunia, mengapresiasi praktik dan implementasi pendidikan inklusi di Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

“Kalau kita bertanya di mana praktik pendidikan inklusi terbaik di dunia, itu ada di sini (Unesa),” ujar Prof Kieron saat mengisi webinar internasional di Unesa, Rabu (19/10/2022) seperti rilis Humas Unesa.

Forum dengan tema “Best Practices of Inclusive Education in Many Countries” ini juga dihadiri secara daring oleh pakar lainnya seperti Prof. Joanna Kossewska dari Polandia, dan Olli-Pekka Malinen dari Finlandia.

Kieron yang telah lama bergerak di bidang pendidikan inklusi dan bekerja sama dengan unesa, sudah banyak mengetahui tentang ‘dunia’ disabilitas di Unesa.

Melalui prodi Pendidikan Luar Biasa (PLB) dan Pusat Studi dan Layanan Disabilitas (PSLD) menjadikan Unesa sebagai kampus inklusi. Sehingga prodi dan lembaga tersebut menjadi penggerak riset dan inovasi di bidang disabilitas.

Unesa bersama pakar luar negeri mengembangkan Signalong Indonesia atau SI sebagai sistem isyarat komunikasi. SI merupakan sistem isyarat berbasis ‘kata kunci’ untuk mendukung pengembangan sekolah inklusi di Indonesia. Hal ini membawa Unesa sebagai kampus ‘Satu Langkah di Depan’ setelah mendapat penghargaan dari pemerintah.

Banyak terobosan yang dihasilkan Unesa, di antaranya mendata angkatan kerja disabilitas dan merancang aplikasi untuk menjebatangi di dunia kerja.

Selain itu, Unesa juga mengembangkan model tes TOEFL untuk peserta disabilitas.

Terobosan terbarunya yaitu UNESA DIMETRIK (Disability, Inclusion Metrics) yang diluncurkan bersama Menpora RI pada 15 Agustus 2022. Sehingga menjadikan kampus pertama dalam pengembangan sistem perangkingan kampus ramah disabilitas di dunia.

Dr. Sujarwanto Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Kerja Sama Unesa mengatakan, perangkingan tersebut dimaksudkan untuk mendorong lembaga atau kampus di dunia agar sama-sama mewujudkan kualitas aksesibilitas penyandang disabilitas di semua aspek.

Dari sejumlah terobosan yang dihasilkan, Unesa dipercaya mewakili Indonesia untuk pamer inovasi layanan disabilitas di Dubai.

Budiyanto Guru Besar PLB Unesa mengatakan, melalui forum tersebut, Unesa akan terus termotivasi dalam peningkatan kualitas pendidikan inklusi di Indonesia.

“Saya justru tertarik dengan praktik pendidikan dari Polandia dan Finlandia, pertanyaannya, bagaimana itu bisa kita implementasi dan adaptasi di Indonesia,” tukasnya.

Best Practice yang disampaikan para pakar dalam seminar tersebut, Unesa akan melakukan kajian mendalam dan merumuskan rekomendasi yang bisa disampaikan kepada pemerintah.

“Rekomendasi ini arahnya untuk memperluas akses dan meningkatkan mutu pendidikan inklusi di Indonesia,” ujar kepala PSLD Unesa itu.

Di Indonesia, lanjutnya, layanan atau pendidikan inklusi masih menjadi pekerjaan rumah bagi semua. Pada level pendidikan tinggi baru sekitar 184 dari 3.300-an perguruan tinggi yang menyediakan layanan mahasiswa disabilitas.

“Artinya, baru sekitar 2,5 persen kampus yang buka atau memberikan layanan disabilitas. Ini tugas kita bersama,” ujarnya.

Belajar dari pengalaman negara lain, Indonesia diharapkan dapat menyebarluaskan akses pendidikan kepada seluruh anak-anak negeri dan meningkatkan mutu pendidikan inklusi.(tik)

Berita Terkait