Senin, 30 Januari 2023

Penanganan Pertama Anak Terserang Demam Menurut Dokter

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Tangkapan layar Dokter spesialis anak dr. Jennie Dianita Sutantio, Sp.A dalam webinar yang digelar oleh Direktorat Gizi dan KIA Kemenkes dan Tentang Anak di Jakarta, Jumat (21/10/2022). Foto: Antara

Jennie Dianita Sutantio Dokter Spesialis Anak menjelaskan sejumlah tindakan awal yang dapat dilakukan orang tua secara mandiri selama di rumah ketika anak mengalami demam.

Ketika anak menunjukkan gejala demam, orang tua perlu mengukur suhu tubuh anak dengan menggunakan alat ukur pasti atau termometer jenis apapun. Saat memeriksa suhu tubuh anak, Jennie mengimbau agar orang tua tidak mengukurnya dengan tangan karena tidak akurat dan dipengaruhi oleh lingkungan.

“Yang kita sebut demam adalah kalau suhu tubuhnya di atas 38 derajat Celcius. 38 derajat ke atas itu demam dan demam paling sering karena infeksi entah itu virus, bakteri, atau jamur,” kata dokter lulusan Universitas Indonesia itu dalam webinar tentang anak dikutip dari Antara di Jakarta, Jumat (21/10/2022).

“Beberapa kali saya pernah ditanya, kalau tumbuh gigi bisa demam? Tidak. Kalau misalnya tumbuh gigi, itu memang suhunya bisa naik tapi tidak bisa sampai 38 derajat,” tambahnya.

Ketika anak demam, ia menyarankan orang tua agar memastikan kecukupan kebutuhan cairan pada tubuh anak. Menurut dia, biasanya anak yang demam cenderung dehidrasi dan penguapan berlebih sehingga anak dapat diberikan minum lebih banyak.

Kemudian, lakukan kompres dengan air hangat di daerah yang seluas mungkin mulai dari dada, ketiak, perut, hingga paha. Iia menjelaskan kompres hangat dapat membantu penanganan pertama karena otak akan bekerja atau menerima sinyal untuk berusaha menurunkan suhu tubuh.

“Bukan kompres dingin sebetulnya kalau untuk anak yang demam karena tujuan kita adalah ingin mengeluarkan panasnya, otomatis suhu lingkungan kita buat supaya lebih panas dibandingkan suhu anaknya,” ujarnya.

Dia menegaskan bahwa obat demam tidak selalu diperlukan atau hanya untuk kondisi di mana anak memang sangat tidak nyaman. Menurut dia, sebetulnya demam merupakan respons natural untuk menghambat infeksi yang terjadi.

“Tapi kalau misalnya demamnya sudah ada tanda bahaya seperti kejang, pendarahan, atau demamnya sudah lebih dari dua hari. Atau kalau misalnya anaknya di bawah 6 bulan, suhu berapapun 38,1 derajat Celcius atau 38,2 derajat Celcius, kalau di bawah 6 bulan tetap harus segera berobat ke dokter,” tambahnya.

Di sisi lain, Jennie juga mengingatkan, pada bayi baru lahir yang di bawah usia 28 hari justru sebetulnya jarang ditemui kasus demam. Yang paling sering, adalah masalah infeksi yang ditandai dengan hipotermia atau suhu tubuh kurang dari 36,5 derajat Celcius.

“Kita mesti waspada karena sebetulnya hipotermia ini justru adalah penyebab kematian yang nomor satu pada bayi baru lahir. Jadi ketika anaknya hipotermia, kita tidak boleh main-main karena cepat sekali perburukannya,” ujarnya.

Jennie mengingatkan ketika kulit bayi menunjukkan pola seperti marmer (cutis marmorata), hal tersebut juga merupakan tanda suhu tubuh rendah atau bayi kedinginan.

Ketika hipotermia terjadi, anak harus dikondisikan dalam suhu yang hangat dengan mengenakan topi atau selimut. Jika bayi bertubuh kecil, anak juga bisa dipeluk lebih dekat sama seperti saat kanguru memeluk anaknya di dalam kantung.

“Sebetulnya dengan dia dipeluk dan dekat dengan kulit ibu, itu transfer panasnya ada. Jadi ini bisa membantu kalau bayi-bayi butuh panas tambahan,” ujarnya.(ant/red/iss)

Berita Terkait