Senin, 30 Januari 2023

Petrokimia Pastikan Stok Pupuk Cukup Saat Masuki Musim Tanam

Laporan oleh Ika Suryani Syarief
Bagikan
Dwi Satriyo Nugroho Direktur Utama Petrokimia Gresik ketika mengunjungi gudang pupuk bersubsidi di Jawa Tengah, Selasa (7/6/2022). Foto: petrokimiagresik.com

Petrokimia Gresik memastikan stok pupuk bersubsidi di berbagai daerah mencukupi kebutuhan saat memasuki musim tanam Oktober 2022 hingga Maret 2023, sesuai alokasi yang diatur pemerintah.

Dwi Satriyo Direktur Utama Petrokimia Kabupaten Gresik mengatakan, Petrokimia berkewajiban menyalurkan pupuk bersubsidi sesuai dengan regulasi yang ditetapkan oleh pemerintah, dan melalui Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 10 Tahun 2022 yang membatasi pupuk bersubsidi pada urea dan phonska.

“Ketersediaan stok pupuk bersubsidi Petrokimia Gresik per tanggal 18 Oktober 2022 mencapai 377.544 ton, atau dua kali lipat lebih banyak dari ketentuan minimum yang diatur pemerintah (142.222 ton),” tuturnya dalam siaran tertulis yang diterima Antara di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Sabtu (22/10/2022).

Stok pupuk bersubsidi Petrokimia Gresik tersebut terdiri dari urea 34.387 ton dan phonska 343.157 ton yang berada di pabrik (Lini I), gudang Provinsi (Lini II), hingga gudang tingkat Kabupaten (Lini III).

“Khusus urea bersubsidi, Petrokimia Gresik hanya mendapatkan amanah untuk memenuhi kebutuhan di wilayah Jawa Timur, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat, serta NTT. Sementara untuk phonska bersubsidi, Petrokimia Gresik berkewajiban untuk memenuhi kebutuhan di seluruh Indonesia,” ujar Dwi.

Dia menegaskan, Petrokimia selalu siap mendukung ketahanan pangan nasional, dengan menjaga ketersediaan pupuk bersubsidi sesuai regulasi.

“Pupuk bersubsidi menjadi salah satu agro input yang sangat penting untuk meningkatkan produktivitas pertanian,” tutur Direktur Utama Petrokimia Gresik itu.

Sementara itu, untuk memastikan penyaluran pupuk bersubsidi tepat sasaran, Petrokimia meningkatkan pengawasan distribusi melalui penerapan sejumlah sistem dan aplikasi digital, seperti Warehouse Management System (WMS), Sistem Scheduling Truk Online (SISTRO) dan Petrokimia Gresik Port Information System (Petroport). Digitalisasi ini menjadikan pupuk bersubsidi dapat diawasi secara realtime.

“Kami ingin memastikan proses distribusi di seluruh lini yang menjadi tanggung jawab Petrokimia Gresik berjalan dengan baik dan sesuai prosedur. Dengan digitalisasi sistem yang terintegrasi, diharapkan dapat meminimalisasi potensi penyimpangan dalam jaringan distribusi Petrokimia Gresik,” paparnya.

Dwi mengimbau petani mewaspadai produk pupuk dengan kemasan atau merek menyerupai produk milik Petrokimia Gresik yang marak beredar atau dijual pada musim tanam seperti saat ini, terutama produk pupuk bersubsidi, karena tidak dapat dipertanggungjawabkan kualitasnya. Penggunaan pupuk tersebut tidak memiliki jaminan terhadap produktivitas hasil panen.

Di sisi lain, sejalan dengan pemenuhan kewajiban menyalurkan pupuk bersubsidi, Petrokimia Gresik juga menyiapkan stok pupuk non-subsidi sebagai solusi bagi petani yang kebutuhan pupuknya tidak teralokasi dalam skema subsidi.

“Alokasi pupuk bersubsidi memang terbatas jika dibandingkan dengan kebutuhan petani. Hanya petani yang terdaftar dalam e-RDKK yang berhak mendapatkan pupuk bersubsidi. Sedangkan untuk petani yang tidak terdaftar, kami sarankan menggunakan produk non-subsidi kami karena sudah terjamin mampu meningkatkan produktivitas pertanian,” pungkasnya.

Sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas pertanian, Petrokimia Gresik juga memberikan kawalan pertanian yang komprehensif bagi pertanian di dalam negeri. Petrokimia Gresik memiliki produk pengendalian hama melalui anak perusahaan.

Petrokimia Gresik juga memberikan layanan mobil uji tanah untuk mengetahui kondisi lahan pertanian di setiap daerah, sehingga dapat memberikan rekomendasi pemupukan yang tepat. Saat ini sudah ada 15 unit mobil uji tanah yang beroperasi di delapan provinsi untuk melayani petani.(ant/rum)

Berita Terkait