Rabu, 29 Juni 2022

Sewindu Dolly Ditutup, Kini Bibit-bibit Prostitusi Bersemi Kembali

Laporan oleh Retha Yuniar
Bagikan
Eks lokalisasi Top Sembilan II di Gang Dolly Surabaya yang sudah menjadi aset Pemerintah Kota Surabaya namun mangkrak. Foto: Retha Yuniar suarasurabaya.net

Belum optimalnya pemberdayaan UMKM dan upaya Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dalam menghidupkan perekonomian masyarakat terdampak penutupan eks lokalisasi Dolly menyebabkan indikasi bibit-bibit baru bisnis prostitusi mulai kembali bersemi.

Sewindu sudah bisnis prostitusi yang konon terbesar terbesar di Asia Tenggara ini, ditutup Tri Rismaharini mantan Wali Kota Surabaya pada Juni 2014.

“Putat Jaya sudah mulai kembali seperti dulu. Sudah mulai ada yang buka layanan. Nggak banyak. Kalau malam, di warung-warung Gang Putat Jaya Lebar B itu bisa dilihat,” ujar Ketua RT salah satu wilayah terdampak penutpan eks lokalisasi pada suarasurabaya.net, Senin (20/6/2022)

Menurut pantauan suarasurabaya.net, Selasa (21/6/2022) pukul 21.00 WIB, saat sepintas melintas di kawasan gang Putat Jaya Lebar B memang terlihat beberapa wanita menggunakan rok seksi dan make up segar. Mereka stand by di beberapa warung-warung kecil sambil bernyanyi memegang mic karaoke. Sesekali mereka melirik pengendara laki-laki yang melintas dengan kecepatan pelan.

Nirwono Ketua RT 5 RW 3 Kampung UMKM Kreatif Putat Jaya 2A mengatakan hal ini dipicu oleh berkurangnya perhatian Pemkot Surabaya dalam melakukan pendampingan UMKM menjelang berakhirnya masa kepemimpinan Risma.

“Kita juga serba repot. Sebagai RT kita nggak bisa melarang, mereka juga cari makan. Tapi kan sayang banget, kalau UMKM bisa dimaksimalkan untuk membantu perekonomian mereka. Mungkin nggak sampai begitu,” ujarnya.

Mereka yang sebelumnya terbiasa dengan mudah mendapatkan pundi-pundi rupiah, kata Nirwono, tidak menutup kemungkinan bisa berbalik arah kembali menekuni bisnis prostitusi jika tidak diberdayakan.

Salah satu eks lokalisasi Dolly yang dibeli Pemkot Surabaya mangkrak. Foto: Retha Yuniar suarasurabaya.net

Dia juga menyayangkan sebanyak 24 aset dari 32 aset bangunan rumah bekas lokalisasi yang telah dibeli Pemkot Surabaya di sekitar area Dolly saat ini tutup dan mangkrak, belum difungsikan secara produktif.

“Dari 32 aset yang dimiliki Pemerintah Kota Surabaya ada delapan aset yang sudah difungsikan. Salah satunya bekas Wisma Barbara yang jadi Koperasi Usaha Bersama produksi sandal slipper untuk hotel. Itupun saat ini pekerjanya diambil dari luar penduduk wilayah terdampak lokalisasi,” ujarnya.

Nirwono menyayangkan, kelanjutan pemberdayaan UMKM warga sekitar sudah tidak lagi sepadat sebelumya. Bahkan unit bisnis di sekitar kawasan Dolly justru diisi oleh warga luar wilayah Putat, Dolly dan sekitarnya.

Delapan aset yang sudah difungsikan kata Nirwono mencakup Kelompok Usaha Bersama (KUB) Mampu Jaya eks Wisma Barbara, Pasar Burung dan Akik, beberapa lapangan futsal, Sentra Batik, Sentra Wisata Kuliner (sebelumnya 2 Wisma digabung menjadi satu). Sementara Wisma Dondong yang sempat digunakan untuk memproduksi sepatu saat ini vakum sementara.

Yuli, Roet Wijaya dam Tia merupakan tiga warga terdampak yang sempat mengikuti pelatihan pembuatan sepatu dan batik. Mereka ikut menyayangkan ketiadaan kelanjutan pelatihan yang mereka jalani.

Juga Wiwiek salah satu warga yang sempat bekerja memproduksi upper sepatu di eks Wisma Barbara. Ia menyebut beberapa warga lokal banyak yang mengundurkan diri karena upah tidak sesuai.

“Mereka bekerja mulai pukul 08.00 – 16.00 WIB hanya mendapat upah Rp30-50 ribu per hari yang dibayarkan setiap dua minggu sekali,” keluhnya.

Kondisi ini diperparah dengan hantaman badai pandemi yang membuat produksi sepatu Dolly KUB Mampu Jaya di eks Wisma Barbara tutup sejak bulan Maret lalu. Menyisakan produksi sandal slipper hotel dan upper sandal pabrikan di lantai satu.

Rumah produksi sandal KUB Mampu Jaya Eks Wisma Barbara di Kawasan Dolly Surabaya, Rabu (21/6/2022) Foto: Retha Yuniar suarasurabaya.net

Sementara Pasar Burung di samping KUB Mampu Jaya juga tutup, tidak beroperasi dalam beberapa waktu terakhir.

Hal ini membuat kondisi perekonomian masyarakat sekitar kawasan Dolly semakin melesu. Padahal saat masih ada bisnis prostitusi, perputaran ekonomi di wilayah itu bisa mencapai miliaran rupiah per hari.

“Dulu kalau mau cari uang gampang sekali. Para ibu-ibu banyak yang jualan nasi di depan rumah aja udah laris. Beberapa buka warung kopi, jasa parkir, jasa binatu cuci baju penghasilannya besar sekali,” ujarnya.

Hal ini dibenarkan oleh Cak Bagong mantan preman sekaligus pengusaha Warung Kopi Mak Wiji di bilangan Putat Jaya Gang 4B RT 1.

“Dulu buka dari jam 2 siang sampai 12 malam sudah bisa dapat satu juta setengah,” ujarnya.

“Sekarang gimana, kaing-kaing,” imbuhnya.

Cak Bagong juga membenarkan praktik prostitusi di beberapa titik wilayah Jarak yang mulai kembali mengaktifkan diri.

“Monggo silakan dilihat sendiri kalau malam di warung-warung,” katanya.

Sementara Bryan Ibnu Maskuwaih Lurah Putat Jaya Surabaya saat dikonfirmasi mengatakan dirinya bersama Camat Sawahan sedang berusaha menghidupkan sisa aset yang belum produktif. Ini merespon instruksi dari Eri Cahyadi Wali Kota Surabaya untuk memberdayakan para MBR melalui aset Pemkot.

“Total kurang lebih ada 32 Aset. Beberapa aset bersebelahan. Kalau dihitung ada 26 aset lah. Sebanyak 14 aset sudah berfungsi. 12 sisanya sedang diajukan ke pemkot, salah satunya ide budidaya lobster dari Pak Camat. Rencana itu sudah digagas Pak Camat, pembibitan lobster sudah mulai berjalan di Kecamatan,” ujarnya.

Bryan mengatakan, selama ini dirinya selalu memprioritaskan warga sekitar terdampak. Tapi juga mengakui bahwa UMKM KUB Mampu Jaya yang bernaung di bawah Dinas Koperasi dan Perdagangan (Dinkopdag) ikut memperkerjakan warga di luar wilayah terdampak.

“Kalau prioritas tetap untuk warga lokal Putat tapi kalau bicara aset, ini kan juga aset Kota Surabaya. Jadi memang ada pekerja dari luar wilayah terdampak, tapi masih wilayah Surabaya. Untuk detailnya mungkin bisa di konfirmasi juga ke Dinkopdag,” tuturnya.

Hal ini dikatakan Bryan untuk mengimbangi kebutuhan kuantitas dan kualitas yang diminta oleh industri.

“Mereka yang berhasil terserap itu rata-rata mereka yang siap melakukan produksi. Perbandingannya antara 70-30 sampai 80-20. Prioritas tetap untuk wilayah terdampak,” ujarnya.

KUB Mampu Jaya menurut pantauan suarasurabaya.net memang mempekerjakan beberapa warga dari luar wilayah terdampak, ada yang dari Sukomanunggal, Arjuno dan Rangkah.

Hadirnya pelatihan menurut Bryan sebenarnya membantu para pekerja untuk bisa melakukan produksi, namun target yang diminta oleh industri seringkali bukan hanya kemampuan tapi juga kualitas pekerjaan dan jumlah kuantitas hasil produksi.

“Sebelumnya pelatihan-pelatihan memang cukup padat. Tapi memang tidak semua peserta berhasil terserap karena ini juga mengikuti pesanan dari pasar,” ujarnya.

Bryan mengaku, mempertemukan skill warga yang telah dilatih dan permintaan pasar merupakan tantangan yang tidak mudah.

Terlebih beberapa UMKM di kawasan eks lokalisasi merupakan kewenangan beberapa Dinas yang berbeda.

“Saya tidak bisa bekerja sendiri. Butuh sinergitas dan dukungan dari warga serta Dinas-dinas terkait,” imbuh Lurah yang membawahi 15 RW dan 115 RT.

Sebagai Lurah Putat Jaya, dirinya terus bekerjasama dengan Camat Sawahan dan OPD terkait untuk terus berusaha menggeliatkan UMKM di wilayah Putat dan sekitar pascaterhantam pandemi.

Saat ditanyai terkait bibit-bibit bisnis prostitusi yang mulai bersemi kembali, antusiasme Bryan memudar. Tidak seantusias saat menjawab pertanyaan yang diajukan suarasurabaya.net terkait aset Pemkot dan UMKM di sana.

Ia memilih diam dan enggan berkomentar lebih jauh. Tidak mengiyakan dan tidak pula menyangkalnya.(tha/dfn/rst)

Berita Terkait

Surabaya
Rabu, 29 Juni 2022
26o
Kurs