Senin, 27 Mei 2024

DP3APPKB: Curhat Masalah Keluarga Jangan di Medsos, di Puspaga Surabaya Aja

Laporan oleh Dhafintya Noorca
Bagikan
Tomi Ardiyanto Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) dan Wiji Lestari Psikolog Volunteer Puspaga Surabaya saat berada di program Semanggi Suroboyo, Jumat (6/1/2023). Foto: Dhafin suarasurabaya.net

Tomi Ardiyanto Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) mengatakan, salah satu layanan yang ada di dinas yang dipimpinnya adalah Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga).

Sebagai instansi yang menangani pemberdayaan, perlindungan, pencegahan kekerasan perempuan dan anak, DP3AAPKB menghadirkan Puspaga sebagai upaya pencegahan dari masalah-masalah yang terjadi di golongan rentan tersebut.

Masyarakat Surabaya bisa memanfaatkan Puspaga untuk konseling masalah yang terjadi di keluarga seperti kenakalan remaja, anak kesulitan belajar, anak dan perempuan korban kekerasan, anak berkebutuhan khusus (ABK), anak yang terpapar pornografi dan zat adiktif serta banyak masalah lainnya.

“Puspaga one stop service penanganan tentang keluarga. Bagaimana kita bisa melihat ada fungsi keluarga yang tidak berjalan di situ dan kami pastikan para psikolog dan konselor sangat menjaga kerahasiaan maupun kasus. Jangan curhat di medsos, lebih baik curhatlah ke Puspaga. Gratis, free,” kata Tomi dalam program Semanggi Suroboyo di Radio Suara Surabaya, Jumat (6/1/2022).

Masyarakat yang ingin curhat, kata Tomi, bisa datang langsung ke kantor Puspaga di Gedung Siola lantai 2 atau menghubungi nomor hotline 0877-2228-8959. Curhatan akan diterima oleh konselor, jika dibutuhkan tindakan lebih lanjut akan diteruskan ke psikolog.

“Ketika kondisi keluarga sudah membutuhkan konseling monggo ke Puspaga, kontak kami nanti mekanisme komunikasinya bisa kita sepakati apakah di rumah atau di Puspaga langsung,” jelasnya.

Mekanisme tindak lanjut konselor, dijelaskan oleh Tomi, akan dilakukan asesmen terlebih dulu terkait masalahnya. Bukan hanya anak yang bermasalah yang ditangani, tapi juga keluarganya. Keluarga akan didampingi Puspaga untuk mengedukasi hal-hal apa yang harus dilakukan terkait masalah anaknya.

Bahkan Tomi menyebut jejaring Puspaga saat ini sudah ada di tingkat RW. Tahun 2022 lalu Puspaga RW sudah ada di 20 balai RW. Sementara untuk tahun ini ditargetkan ada ratusan Puspaga RW yang terbentuk.

Tomi menjelaskan, Puspaga RW sebagai unit deteksi awal permasalahan di lingkungannya yang terdiri dari RT, RW, Kader Surabaya Hebat dan Karang Taruna. Meski begitu, Tomi memastikan Puspaga RW hanya sebagai perantara Puspaga Kota Surabaya, bukan sebagai konselor.

“Puspaga RW sebagai jejaring Puspaga di wilayah, untuk disampaikan ke puspaga kota,” kata Tomi.

Tidak hanya melayani curhatan masyarakat lewat Puspaga, DP3AAPKB juga berkolaborasi holistik dengan dinas maupun lembaga lain di Surabaya jika ada masalah terkait pelanggaran hukum yang melibatkan anak-anak.

“Kami bekerja sama dengan unit PPA (Pelayanan Perempuan dan Anak) di Polrestabes Surabaya dan Polres Tanjung Perak. Ketika ada kasus, kami tidak bisa langsung intervensi biar kasus hukumnya berjalan dulu, kalau sudah diberikan lampu hijau kami turun,” terangnya.

Salah satu bentuk intervensi yang dilakukan yaitu memastikan agar anak yang berhadapan dengan hukum (ABH) ini tidak diposisikan sebagai kriminal dewasa, dan hak-haknya sebagai anak tetap dilindungi.

Sementara Wiji Lestari Psikolog Volunteer di Puspaga Surabaya menyebut, ada banyak kasus terkait anak dan perempuan yang sudah ditanganinya sejak bergabung tahun 2018 lalu.

Kasus tersebut beragam, di antaranya kasus rumah tangga, kasus anak yang kesulitan belajar, membantu mengobservasi gangguan yang dialami ABK, anak yang mengalami kekerasan, anak yang terpapar pornografi dan zat adiktif hingga anak usia dini yang terlambat bicara.

“Masa sekolah daring untuk anak ABK itu sulit karena mereka akhirnya online tidak untuk belajar tapi main game. Apalagi kalau sudah terlena jadi terabaikan sehingga membuka situs-situs lain. Itu kita dampingi keluarganya juga,” ujar Wiji dalam kesempatan yang sama.

Wiji meminta agar orang tua lebih banyak mendengarkan anaknya, berkaca dari beberapa problem keluarga yang ditanganinya biasanya berawal dari orang tua yang sibuk bekerja sehingga anak terabaikan.

“Anak sebenarnya pingin didengarkan, mulai sekarang para ayah ibu yuk kita dengarkan apa sih maunya anak-anak. Dan anak-anak tidak hanya butuh mamanya saja, tapi kehadiran ayah juga dibutuhkan,” pungkasnya.(dfn/ipg)

Berita Terkait

..
Potret NetterSelengkapnya

Evakuasi Kecelakaan Bus di Trowulan Mojokerto

Motor Tabrak Pikap di Jalur Mobil Suramadu

Surabaya
Senin, 27 Mei 2024
25o
Kurs