Kamis, 13 Juni 2024
Semanggi Suroboyo

Gotong Royong, Konsep yang Selalu Relevan untuk Membangun Kota Surabaya

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
(Dari kiri-kanan) Isworo Andik Sucahyio Lurah Dukuh Sutorejo bersama Abdul Nasir LPMK Dukuh Sutorejo, Agung Ketua RT 7 RW 4 Kapas Madya, dan Yuri Widarko Camat Kenjeran saat mengisi program Semanggi Suroboyo, di Studio Radio Suara Surabaya, Jumat (17/2/2023). Foto: Billy Patoppoi suarasurabaya.net

Konsep gotong royong masih selalu relevan untuk pembangunan, khususnya di Kota Surabaya. Bukan melulu soal kerja bakti bersih-bersih lingkungan, gotong royong di Kota Pahlawan dilakukan untuk mengentas kemiskinan hingga stunting, yang termasuk pembangunan sumber daya manusia.

Soal pengentasan kemiskinan, Yuri Widarko Camat Kenjeran, Surabaya yang hadir dalam program Semanggi Suroboyo, Jumat (17/2/2023) pagi, menjelaskan kalau wilayah yang dipimpinnya itu punya masalah terkait angka pengangguran.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, dia menekankan kepada warganya agar bahu membahu. Salah satunya dengan memanfaatkan program padat karya seperti yang dicanangkan Eri Cahyadi Wali Kota Surabaya.

“Jadi padat karya di seluruh Kenjeran ada sablon, paving dan pembuatan tempat sampah dari ban bekas. Jadi kebutuhan masyarakat itu bisa diakomodir masyarakat sendiri, tidak beli atau ambil dari luar, tetap konsepnya gotong royong. Modalnya kami ajukan lewat BPR (Bank Pengkreditan Rakyat), ucapnya.

Konsep gotong royong di Kenjeran, lanjut Yuri, juga dilakukan untuk memperindah kecamatan tersebut dengan memanfaatkan fasilitas yang sudah ada.

“Kami bikinkan cuci mobil dan rest area yang view-nya Jembatan Suramadu. Kami padat karyakan untuk adek-adek karang taruna di sana. Sekarang proses pembuatan pra sarana-nya kerja sama dengan Cipta Karya,” ungkapnya.

Tidak hanya padat karya, konsep gotong royong juga ditekankan warga Kelurahan Dukuh Sutorejo, Kecamatan Mulyorejo menghapus kesenjangan sosial.

Isworo Andik Sucahyio Lurah Dukuh Sutorejo yang juga hadir di program Semanggi Suroboyo mengatakan, kalau di kelurahannya itu ada perumahan elit yang berdempetan dengan perkampungan warga.

Meski sempat ada konflik pada saat awal dia menjabat, perlahan warga dua kawasan tersebut pada akhirnya kompak, setelah seringkali bahu-membahu saat ada giat kerja bakti dan sebagainya.

“Dulu sempat ada konflik, tapi sudah terselesaikan. Saat di tengah penyelesaian itu, saya masuk kasih solusi kedepan agar lebih guyub. Akhirnya sekarang di perumahan itu ada kolam budidaya lele dengan warga yang mengolah dari perkampungan,” jelasnya.

Yang terbaru, kata dia, saat ada program Surabaya Bergerak, warga dari perumahan dan perkampungan secara kompak turun bersama untuk kerja bakti membersihkan bantaran sungai yang membentang Dukuh Sutorejo.

Isworo juga mengungkapkan, kalau saat ini dia bersama warganya sedang berfokus mengentas ada 47 dari total sekitar 15 ribu jiwa yang tinggal di Dukuh Sutorejo dari kemiskinan.

“47 itu dari 26 kartu keluarga (KK). Yang memang benar-benar lansia murni kita kasih bantuan, tapi yang masih usia produktif kita kasih pekerjaan kalau bisa yang penghasilannya diatas Rp1,5 juta,” ujarnya.

Sementara Abdul Nasir salah satu LPMK (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kalurahan) Dukuh Sutorejo yang hadir menemani Isworo juga menyebut, kalau di kelurahannya ada dapur umum sebagai tempat permakanan.

Dapur umum itu akan memenuhi kebutuhan warga yang kurang mampu, serta jadi solusi untuk pemenuhan gizi. “Bisa untuk lansia, dan pemenuhan gizi agar ke depan angka stunting bisa ditekan,” ucapnya.

Nasir menjelaskan, kalau dapur umum itu digelar secara bergilir untuk masing-masing RW di Kelurahan Dukuh Suterejo. Kebutuhan logistiknya, berasal dari swadaya tiap RW. “Awalnya kami usulkan untuk di kelurahan, tapi mereka (warga) malah nantang untuk dibikin di RW saja secara bergilir,” jelasnya.

Demikian pula Agung Ketua RT 7 RW 4 Kelurahan Kapas Madya, Kecamatan Tambaksari yang hadir sebagai narasumber keempat dalam Semanggi Suroboyo mengungkapkan, kalau konsep gotong royong saat ini mulai kembali hidup. Terutama setelah ada program seperti Surabaya Bergerak.

Kader Surabaya Hebat itu mengungkapkan kalau pada awalnya warga di Kapas Madya ogah-ogah untuk kerja bakti, terutama kalau menyangkut soal saluran.

“Padahal mereka gatau, kalau di saluran itu sarang nyamuk yang berarti penyakit. Anggapannya, bersih-bersih saluran/sungai itu tugasnya pemkot,” ucapnya.

Namun, setelah kondisi sungai atau saluran bersih, dia mengklaim banyak warga yang justru penasaran dan ingin ikut serta kegiatan kerja bakti serupa mendatang.

“Pas ada Surabaya Bergerak, mereka jadi pingin kerja bakti tiap minggu. Yah memang tugas kita sebagai KSH itu untuk mengetuk hati mereka. Sisanya kalau ada kesadaran, itu bonus untuk kita,” pungkasnya. (bil/ipg)

Berita Terkait

..
Surabaya
Kamis, 13 Juni 2024
25o
Kurs