Sebanyak 122,5 ton sampah dievakuasi dari Kali Tebu Surabaya selama periode Mei hingga September 2026.
Pengangkutan tersebut dilakukan oleh Lembaga Kajian dan Konservasi Lahan Basah, Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) melalui program Mission for Zero Plastic Leakage (MOZAIK) Kali Tebu Surabaya untuk mencegah kebocoran sampah dari sungai menuju laut.
Daru Setyorini Direktur Eksekutif Ecoton mengatakan, dari total 122,5 ton sampah yang dievakuasi, sebanyak 95,9 ton di antaranya telah dipilah.
“Data pemilahan menjadi penting karena kita bisa melihat sampah apa yang sebenarnya masuk ke sungai,” terangnya, Selasa (29/9/2026).
Hasil pemilahan menunjukkan sampah didominasi residu sebesar 84,1 persen, kemudian sampah organik 7,6 persen dan sampah daur ulang 8,32 persen.
Berdasarkan jenisnya, lima jenis sampah yang paling banyak ditemukan adalah residu lainnya sebanyak 50,16 ton atau 53,35 persen, popok 30,51 ton atau 32,44 persen, organik lainnya seperti daun dan bangkai hewan 3,5 ton atau 3,73 persen, organik kayu, ranting dan batok kelapa sekitar 3 persen, serta plastik kresek sebanyak 2,3 ton.
Data tersebut menunjukkan persoalan sampah di Kali Tebu tidak hanya berasal dari sampah plastik, tetapi sampah rumah tangga berupa residu dan popok juga menjadi bagian terbesar dari sampah yang masuk ke aliran sungai.
Ia mengatakan, data pemilahan diperlukan untuk mengetahui jenis sampah yang masuk ke Kali Tebu. Dengan demikian, upaya penanganan dapat diarahkan tidak hanya pada pembersihan sungai, tetapi juga pengelolaan sampah dari sumbernya.
“Karakteristik dan komposisi sampah di Kali Tebu bisa mendorong solusi penyelesaian masalah harus dimulai dari pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga dan lingkungan,” ucapnya.
Untuk mencegah sampah terus terbawa aliran Kali Tebu menuju laut, Ecoton melalui program MOZAIK memasang pencegat sampah atau trashboom di sejumlah titik.
Pencegat sampah tersebut ditempatkan di segmen hulu, di antaranya Kelurahan Kapas Madya Baru dan Simokerto, serta segmen tengah di Kelurahan Sidotopo Wetan dan Tanah Kali Kedinding.
Ia mengatakan, pengangkutan dan pemilahan sampah selama lima bulan tersebut menjadi bagian dari upaya mengurangi kebocoran sampah dari Kali Tebu menuju laut.
Ecoton menekankan, data yang terkumpul menunjukkan perlunya penanganan sampah dari tingkat rumah tangga dan lingkungan agar timbulan sampah yang masuk ke sungai dapat ditekan. (ris/saf/ipg)

NOW ON AIR SSFM 100

