Yayasan Konservasi Lahan Basah Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) bersama relawan dan sejumlah mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) melanjutkan evakuasi sampah plastik dari Kali Tebu Surabaya, Selasa (12/5/2026).
Alaika Rahmatullah dari tim evakuasi sampah Mission for Zero Plastic Leakage (Mozaik) Ecoton merinci, pada hari kedua evakuasi, tim berhasil mengangkut sampah seberat 1.016 kilogram atau sekitar 80 karung. Jika ditotal dengan hasil evakuasi sehari sebelumnya yang mencapai 1.435,1 kilogram, maka jumlah sampah yang berhasil diangkat dalam dua hari mencapai lebih dari 2,4 ton.
“Kemarin mengangkut 103 karung sampah plastik, untuk hari ini 80 karung,” katanya.
Evakuasi sampah plastik tersebut dilakukan dengan memasang trash barrier atau penghalang sampah di aliran sungai untuk menghentikan laju sampah yang terbawa arus. Sampah yang tersangkut kemudian diangkat dan dipilah sesuai jenisnya.
BACA JUGA: 1,4 Ton Sampah Plastik Kembali Dievakuasi dari Kali Tebu Surabaya
Amiruddin Muttaqin Manager Program Mozaik Ecoton sekaligus peneliti senior Ecoton, menyebut jumlah sampah yang terkumpul menunjukkan kondisi Kali Tebu yang masih dipenuhi limbah domestik.
“Sebelumnya juga kita sudah pernah pasang 24 jam dan menghasilkan 907 kilogram sampah. Yang sekarang ini lebih banyak dari waktu itu,” ujarnya.
Ia mengatakan bahwa trash barrier tersebut rencananya akan dipasang secara permanen agar masyarakat mengetahui kondisi sungai yang sebenarnya sekaligus mencegah sampah mengalir ke laut.
“Trash barrier ini akan dipasang secara permanen di sini selama satu tahunan, mungkin dan seterusnya. Supaya masyarakat juga tahu bahwa Kali Tebu ini ternyata masih dipenuhi sampah dan dijadikan tempat pembuangan sampah,” katanya.
Sampah yang berhasil diangkut selanjutnya dibawa ke tempat penampungan sementara untuk dipilah antara sampah residu, organik, hingga yang masih memiliki nilai jual. Selain itu, tim Mozaik juga melakukan brand audit untuk mengetahui merek-merek sampah yang paling banyak ditemukan.
Pihaknya memastikan, monitoring trash barrier dilakukan setiap hari untuk memastikan penanganan sampah berlangsung maksimal.
Dengan upaya itu, ia berharap sampah plastik di Kali Tebu bisa berkurang, tidak ada aliran sampah ke laut, dan masyarakat semakin sadar akan pentingnya menjaga kebersihan.
“Kami juga mengimbau masyarakat untuk menjaga Kali Tebu dan tidak menjadikannya tempat pembuangan sampah,” pungkasnya. (ris/saf/ipg)

NOW ON AIR SSFM 100

