Kamis, 24 September 2026

Aneurisma Otak Bisa Jadi “Bom Waktu”, Prof. Groen Bahas Teknologi Penanganannya

Laporan oleh Iping Supingah
Bagikan
Kuliah tamu bertajuk “Current Treatment of Intracranial Aneurysms” itu menghadirkan Prof. Rob J.M. Groen, MD., Ph.D., guru besar dan pakar bedah saraf dari University of Groningen, Belanda, di FK Unair, Senin (21/9/2026). Foto: FK Unair

Aneurisma intrakranial atau pelebaran dinding pembuluh darah di otak menjadi perhatian dalam guest lecture Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) Surabaya.

Kuliah tamu bertajuk “Current Treatment of Intracranial Aneurysms” itu menghadirkan Prof. Rob J.M. Groen, MD., Ph.D., guru besar dan pakar bedah saraf dari University of Groningen, Belanda.

Prof. Groen yang juga menjadi Adjunct Professor FK Unair sejak Februari 2024, memaparkan perkembangan penanganan aneurisma intrakranial, mulai dari teknik bedah terbuka hingga metode endovaskular yang minim invasif.

Dalam paparannya di Hall AMEC Lantai 2 FK Unair, Prof. Groen menjelaskan aneurisma intrakranial merupakan kondisi serius karena pembuluh darah yang melebar dapat pecah dan menyebabkan perdarahan di sekitar otak.

“Aneurisma intrakranial, yaitu pelebaran atau penonjolan dinding pembuluh darah di otak, memerlukan penanganan presisi dan cepat. Kondisi ini sering kali dijuluki sebagai ‘bom waktu’ karena risiko pecahnya pembuluh darah dapat berakibat fatal,” ujar Prof. Groen.

Suasana kuliah tamu bertajuk “Current Treatment of Intracranial Aneurysms” yang menghadirkan Prof. Groen, guru besar dan pakar bedah saraf dari University of Groningen, Belanda di FK Unair, Senin (21/9/2026). Foto: FK Unair

Menurut data yang dipaparkannya, sekitar satu dari 50 orang diperkirakan memiliki aneurisma yang belum pecah. Sementara angka kejadian aneurisma yang pecah berada pada kisaran 8–10 kasus per 100.000 orang setiap tahun.

Ketika aneurisma pecah, perdarahan subarachnoid yang terjadi dapat menyebabkan dampak serius. Tingkat fatalitasnya disebut dapat mencapai 50 persen, sedangkan sekitar 70 persen pasien yang selamat berisiko mengalami defisit neurologis permanen.

Risiko pecahnya aneurisma dipengaruhi sejumlah faktor, antara lain ukuran dan bentuk aneurisma, lokasi, kebiasaan merokok, hipertensi yang tidak terkontrol, serta faktor jenis kelamin dan ras tertentu.

Dalam kuliah tersebut, Prof. Groen juga menjelaskan dua pendekatan utama yang digunakan dalam penanganan aneurisma intrakranial, yakni bedah mikro dan tindakan endovaskular.

Pada bedah mikro, dokter dapat melakukan clipping dengan menjepit bagian leher aneurisma agar aliran darah tidak lagi masuk ke kantong aneurisma. Teknik lainnya meliputi wrapping, trapping, hingga bypass untuk kasus tertentu.

Teknik microsurgical clipping tersebut memiliki sejarah panjang dalam bedah saraf dan telah digunakan sejak Walter E. Dandy memperkenalkannya pada 1937.

Sementara itu, pendekatan endovaskular dilakukan dengan memasukkan kateter melalui pembuluh darah hingga mencapai lokasi aneurisma. Dokter kemudian dapat menggunakan sejumlah teknologi, seperti coiling dengan kawat platinum, stent, maupun flow diverter untuk mengurangi aliran darah menuju aneurisma.

Prof. Groen menyebut tindakan endovaskular kini mencakup sekitar 60–75 persen kasus yang ditangani secara global. Sementara microsurgical clipping berada pada kisaran 25–40 persen.

Pemilihan metode, kata dia, tetap bergantung pada karakteristik aneurisma, termasuk lokasi dan bentuknya, kondisi neurologis pasien, serta pengalaman tim medis.

Meski teknologi endovaskular terus berkembang, Prof. Groen menilai bedah terbuka tetap memiliki peran penting. Terutama pada kasus akut yang disertai hematoma intraserebral luas maupun aneurisma kompleks yang membutuhkan rekonstruksi pembuluh darah.

Perkembangan teknologi tersebut juga menghadirkan tantangan dari sisi biaya. Penanganan endovaskular membutuhkan fasilitas seperti sistem angiografi biplane serta berbagai perangkat sekali pakai, termasuk kateter, coil, dan stent.

Melalui guest lecture tersebut, FK Unair mempertemukan mahasiswa, residen, dan staf pengajar dengan perkembangan ilmu bedah saraf dari tingkat internasional. Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang transfer pengetahuan mengenai pilihan terapi dan perkembangan teknologi dalam penanganan aneurisma intrakranial.(ipg)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Posisi Mobil Tersangkut di Viaduk dari Belakang

Tersangkut di Bawah Viaduk Gubeng

Kecelakaan Beruntun di Tol Waru Arah Perak

Surabaya
Kamis, 24 September 2026
30o
Kurs