Dilansir dari Antara, BMKG mengingatkan bahwa kondisi lahan yang semakin kering tetap berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama saat memasuki puncak musim kemarau.
“Ini juga perlu kita antisipasi mengingat bulan Agustus dan September kita sudah masuk ke puncak musim kemarau. Artinya potensi hotspot juga akan semakin meningkat,” ujar Fachri.
Hingga 2 Agustus 2026, BMKG mencatat terdapat sekitar 5.690 titik panas (hotspot) yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
BMKG menegaskan dampak El Nino paling besar diperkirakan dirasakan wilayah di selatan garis khatulistiwa, seperti Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), Bali, Pulau Jawa, Sumatera bagian selatan, dan Papua bagian selatan.
Untuk mengurangi dampak kekeringan, BMKG bersama kementerian dan lembaga terkait terus memperkuat langkah mitigasi melalui operasi modifikasi cuaca (OMC).
Operasi tersebut dilakukan untuk meningkatkan pasokan air ke sejumlah waduk yang menjadi sumber air baku, irigasi pertanian, serta pembangkit listrik tenaga air (PLTA), sehingga diharapkan mampu mengurangi dampak musim kemarau berkepanjangan. (ant/saf/ipg)

NOW ON AIR SSFM 100

