Kendala berikutnya adalah keterbatasan sumber air di kawasan savana TNBTS. Petugas bahkan harus mengambil pasokan air dari Ranu Pani, Kabupaten Lumajang, yang lokasinya cukup jauh dari area kebakaran.
Selain kondisi medan dan sumber air, faktor cuaca juga menjadi tantangan dalam penanganan karhutla Bromo.
BNPB menyebut operasi modifikasi cuaca (OMC) belum dapat dilakukan karena berdasarkan informasi BMKG belum terdapat potensi awan hujan yang cukup untuk mendukung operasi tersebut.
Meski demikian, terdapat peluang hujan pada 14–16 Agustus 2026. Kondisi tersebut diharapkan dapat membantu proses pemadaman karena hujan berpotensi membasahi kawasan yang telah terbakar.
“Penjelasan BMKG bahwa ada potensi awan hujan pada 14–16 Agustus 2026, sehingga pemadaman bisa lebih efektif apabila hujan turun membasahi kawasan TNBTS yang sudah terbakar mencapai 889 hektare tersebar di Kabupaten Probolinggo, Lumajang, Malang, dan Pasuruan,” ujar Suharyanto. (ant/saf/ipg)

NOW ON AIR SSFM 100

