“Jadi, ya memang setelah kami konfirmasi dengan Kementerian ESDM yang mengeluarkan data itu, ternyata memang kalau dari mereka punya tiga patahan di wilayah Surabaya. Tapi ketika disandingkan dengan data Kementerian PU di Pusat Gempa Nasional, itu ternyata enggak match. Kalau di Kementerian ESDM itu ada tiga patahan, sedangkan di Kementerian PU di Pusat Gempa Nasional itu ada dua patahan,” jelasnya saat on air di program talkshow Semanggi Suroboyo di Radio Suara Surabaya, Jumat (11/9/2026).
Setelah dilakukan konfirmasi ulang, Yanu menyebut perbedaan tersebut berkaitan dengan metode dan skala pemetaan yang digunakan.
“Ketika kami konfirmasi ulang kepada Kementerian ESDM, ternyata data yang dipakai metodenya berbeda. Sehingga kalau di skalanya Pusat Gempa Nasional punya Kementerian PU itu skalanya 1:100.000, sedangkan dari Kementerian ESDM itu 1:1.000.000,” ujarnya.
Karena itu, masyarakat diminta tidak langsung mengartikan informasi mengenai keberadaan patahan sebagai kepastian bahwa gempa akan terjadi dalam waktu dekat.
Apalagi, kata Yanu, pihak yang mengunggah video tersebut juga sudah meminta maaf karena dianggap menyebabkan kepanikan. “Setelah itu ada permintaan maaf kayaknya,” ucapnya.

NOW ON AIR SSFM 100

