Yanu menegaskan, secara geologis potensi gempa memang ada. Namun hingga saat ini belum ada teknologi yang mampu memastikan kapan gempa akan terjadi.
“Potensi itu selalu ada. Cuma pertanyaannya, potensi ini hanya sekadar potensi atau potensi itu nanti jadi kejadian. Itu yang belum. Sampai sekarang pun belum ada alat yang bisa meramalkan kapan terjadinya,” katanya.
Hal serupa sebelumnya juga disampaikan BMKG. Masyarakat diminta menjadikan kajian kegempaan sebagai dasar meningkatkan kesiapsiagaan, bukan sebagai sumber kepanikan, karena waktu terjadinya gempa belum dapat diprediksi.
Di sisi lain, BPBD Surabaya lebih menekankan upaya mitigasi sebelum bencana terjadi. Upaya tersebut meliputi sosialisasi mitigasi, kesiapan bangunan menghadapi bencana, penyiapan jalur evakuasi serta titik kumpul.
“Yang pertama itu terkait dengan sosialisasi tentang mitigasi bencananya, mitigasi terhadap bangunan gedungnya, dan juga mitigasi terkait dengan jalur evakuasi dan titik kumpulnya ketika terjadi bencana,” ujarnya. (bil/ipg)

NOW ON AIR SSFM 100

