Minggu, 16 Agustus 2026

BRIN Kembangkan Teknologi Surya Generasi Baru untuk Dukung Proyek PLTS

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Arif Satria Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) saat menjawab pertanyaan awak media di Umsura, Surabaya. Foto: Dok Risky suarasurabaya.net

Arif Satria Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengatakan, pihaknya memperkuat ekosistem riset energi surya untuk mendukung pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) gagasan Pemerintah.

Salah satu teknologi yang sedang dikembangkan adalah Dye-Sensitized Solar Cells (DSSC), yang punya sensitivitas tinggi sehingga tetap bisa menghasilkan listrik meski digunakan di dalam ruangan.

“BRIN terus mendorong terobosan yang melampaui pemanfaatan teknologi panel surya silikon konvensional. Salah satu lompatan teknologi hulu yang kami kembangkan sebagai bagian dari infrastruktur energi masa depan adalah Dye-Sensitized Solar Cells,” kata Arif di Jakarta, Minggu (16/8/2026) dikutip Antara.

Menurutnya, teknologi itu membuka peluang baru dalam efisiensi energi bangunan. Cahaya lampu maupun sinar matahari tidak langsung yang masuk melalui jendela, bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan energi listrik.

Untuk mendukung pengembangannya, BRIN juga sudah mengoperasikan fasilitas pengujian fotovoltaik berskala internasional di Serpong, Tangerang Selatan.

“Di kawasan Serpong, kami memiliki pusat rekayasa keteknikan yang secara khusus dilengkapi dengan laboratorium pengujian fotovoltaik,” ujarnya.

Fasilitas itu digunakan untuk mengembangkan, menguji struktur, hingga memastikan keandalan panel surya agar sesuai dengan kondisi iklim tropis Indonesia.

Selain DSSC, BRIN bersama PLN juga mengembangkan teknologi Microgrid PLTS yang terintegrasi dengan sistem penyimpanan energi. Teknologi itu diarahkan untuk mendukung program dedieselisasi atau menggantikan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD).

Pengembangan serupa juga dilakukan untuk pemanfaatan PLTS di sektor irigasi dan pertanian. Lebih lanjut, BRIN melakukan riset teknologi Virtual Power Plant (VPP) atau pembangkit listrik virtual untuk mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit berbasis energi fosil.

Teknologi tersebut memungkinkan pengguna listrik tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga ikut dalam ekosistem jual-beli listrik antarkomunitas.

“Inovasi ini melahirkan model bisnis kelistrikan baru di mana pelanggan atau pengguna akhir (end-user) energi listrik tidak lagi hanya sekadar menerima pasokan dari hulu, tetapi operator akan berubah fungsi menjadi fasilitator terjadinya jual-beli listrik antarkomunitas,” ucap Arif.

Sebelumnya, Prabowo Subianto Presiden RI menyatakan Pemerintah akan membangun PLTS berkapasitas 30 gigawatt (GW) dan menghentikan pengoperasian PLTD sebesar 13 GW pada 2026. Pemerintah juga menargetkan pengembangan PLTS secara bertahap hingga mencapai kapasitas 100 GW.

Menurut Prabowo, potensi energi surya Indonesia sangat besar karena mendapatkan sinar matahari hampir sepanjang tahun. Pemanfaatannya dinilai bisa memperkuat kemandirian energi sekaligus mengurangi kebutuhan BBM untuk pembangkit listrik.

“Idealnya, setiap desa bisa memiliki PLTS 1 Megawatt. Kalau desa itu mau siapkan lahan, kita bisa. yakinkan bahwa mereka bisa dapat PLTS 1 MW 1 desa,” kata Prabowo dalam Penyampaian Pengantar/Keterangan Pemerintah atas RUU APBN Tahun Anggaran 2027 beserta Nota Keuangan, Jumat (14/8/2026). (ant/bil/iss)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Evakuasi Kecelakaan Mobil Terguling di Gunungsari Surabaya

Truk Patah As Tutup Satu Jalur Benowo Surabaya

Sebelum Terbenam

Kecelakaan Beruntun di Gempol, Libatkan 7 Kendaraan

Surabaya
Minggu, 16 Agustus 2026
28o
Kurs