“Jadi B50 merupakan salah satu pintu agar kita ke depan tidak tergantung lagi pada impor,” ujarnya.
Meski demikian, ia menilai bahwa pengembangan energi terbarukan tidak boleh berhenti pada B50. Menurutnya, Indonesia juga perlu mulai mempersiapkan pengembangan E20 berbasis etanol sebagai bagian dari bauran energi ramah lingkungan.
“Kita juga harus sudah mulai masuk ke depan menjadi E20, berbasis pada etanol,” ujarnya.
Seperti diketahui, pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mulai memberlakukan BBM jenis B50 secara nasional sejak 1 Juli 2026.
B50 merupakan bahan bakar hasil campuran 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit dengan 50 persen solar, sebagai kelanjutan dari implementasi B40 yang telah lebih dulu diterapkan.
Dalam implementasinya, tidak dilakukan secara serentak. Pemerintah menetapkan masa transisi selama tiga bulan untuk menghabiskan stok B40 sekaligus melakukan penyesuaian proses pencampuran dan distribusi hingga penerapan B50 berjalan penuh. (ris/saf/faz)

NOW ON AIR SSFM 100

