Mereka juga harus menjaga kebersihan dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, termasuk membuat perapian serta membuang puntung rokok atau benda lain yang dapat menjadi sumber api.
Menurut Widiyanti, upaya menjaga Bromo tidak semata berkaitan dengan kepentingan pariwisata.
Gunung Bromo merupakan bagian dari bentang alam yang penting sekaligus ruang hidup masyarakat Tengger yang memiliki nilai budaya dan lingkungan.
“Pemulihan pariwisata harus berjalan beriringan dengan pemulihan lingkungan. Kita ingin aktivitas wisata dan ekonomi masyarakat kembali bergerak, namun alamnya juga harus tetap terlindungi. Inilah semangat pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan yang terus kita dorong,” ujarnya.
Pembukaan kembali Bromo diharapkan menghidupkan kembali roda ekonomi masyarakat di sekitar kawasan. Aktivitas tersebut mencakup berbagai sektor, mulai dari jasa pengemudi jip, pemandu wisata hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Kami menyambut baik dibukanya kembali kawasan wisata Gunung Bromo. Ini menjadi kabar baik bagi wisatawan, sekaligus bagi masyarakat dan seluruh pelaku usaha pariwisata yang aktivitas ekonominya bergantung pada ekosistem pariwisata Bromo,” kata Widiyanti. (ant/saf/ham)











